
>>POV Abi<<
"Sudah siap, mas? Ayo kita berangkat!" tanya ayah padaku. Aku mengangguk mantap.
Ya, malam ini adalah malam dimana aku akan menyambangi rumah Ocha untuk melamarnya menjadi istriku.
Pukul 19.30 kami sekeluarga bersiap berangkat ke rumah Ocha. Aku memakai kemeja batik berwarna biru panjang bercorak mega mendung khas daerahku dan celana bahan warna hitam. Tak lupa kupakai jam tangan di tangan kiriku sebagai pemanis tanganku. Membuat aura kejantananku menguar.
Debaran jantung terus memompa seiring bergulirnya putaran roda mobilku.
"Mas, santai aja ya, nyetir mobilnya" suara ibuku mengingatkanku agar aku tetap tenang dan bisa menguasai fokus pikiranku pada jalanan.
Setelah tiga puluh menit perjalanan yang santai, akhirnya kami tiba di kediaman Ocha. Pintu rumahnya nampak terbuka lebar seolah mereka sudah siap menerima kedatangan kami. Debaran jantungku kembali memompa seketika saat aku dan kedua orang tuaku mengucapkan salam dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikum salam, ayo jeng Arni silakan masuk" sapa tante Reni menyambut kamu sambil ber cipika cipiki ria dengan ibuku. Tak terlewat pula aku mencium tangan tante Arni santun. Sempat ekor mataku mencari-cari sosok Ocha di ruang tamu itu, namun tak ku temui sosoknya.
"Ocha masih bersiap di kamarnya" ucap tante Reni seolah tau niatan mataku mencari sosoknya.
"Aduh, udah lama juga ya gak ketemu neng Ocha. Jadi kangen sama si cantik, ya 'kan mas?" tanya ibuku sambil sedikit menyikutku, membuatku semakin kikuk. Aku tersenyum tipis.
"Ayo silakan masuk jeng, jangan di pintu aja, sebentar saya panggilkan Ocha" ucap tante Reni lalu pergi ke dalam rumah.
Kami duduk di ruang tamu berbincang-bincang santai dengan om Irawan atau lebih tepatnya ayahku dan om Irawan lah yang lebih mendominasi percakapan malam ini. Sedangkan aku fokus pada jam tanganku, menikmati putaran detik menunggu kehadiran Ocha.
>>POV Ocha<<
Malam ini akhirnya datang juga. Malam yang sudah ditentukan oleh orangtuaku untukku bertunangan dengan mas Abi. Perasaanku? Perasaanku bercampur jadi satu antara senang, takut, gugup semua berbaur dalam debaran jantungku saat ini.
Aku masih duduk termenung di depan meja riasku, menatap pantulan diriku di depan cermin. Aku menatap pantulan mataku yang ada di cermin, menatapnya lekat-lekat. Sungguh takdir telah membawaku pada sosok Abi.
Tok ... tok ... tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.
"Ocha, sudah siap belum? Ayo keluar sayang .... " ucap mama.
Siapkah aku? Tentu saja penampilanku sudah sempurna. Dres lengan pendek berwarna merah marun dengan panjang roknya selutut adalah pilihan mamaku. Ia juga yang menata rambutku, mengepangnya lalu menggelungnya ke atas. Membentuk lingkaran layaknya konde. Aku hanya pasrah saja saat mama mengoleskan lipstik berwarna peach di bibirku. Tampak menawan menyatu dengan bibirku yang pink pucat. Sedangkan hatiku? Siapkah hatiku? Menjalani hari-hariku dengan seorang Abi? Entahlah, masih ada trauma yang tersisa di dasar hatiku. Apakah Abi akan melakukan hal yang sama seperti Doni memperlakukanku seolah buah yang sudah tak berasa.
Aku hanya takut itu akan terjadi lagi. Aku sadar pada diri sendiri yang tak seperti perempuan sebayaku. Yang mampu merayu dan tahu cara menaklukkan hati laki-laki. Aku tak pernah tau bagaimana bersikap manis di depan laki-laki. Aku takut, lama-lama Abi juga bosan padaku sama seperti yang Doni lakukan padaku. Ah ... pikiran ini yang selalu mengganjal hatiku selama ini. Hatiku belum siap tak seperti penampilanku malam ini.
Sebelum keluar kamar, aku tak lupa mengenakan gelang pemberian Abi. Gelang anyaman kini bertengger manis di lengan kananku.
"Ya mah! Ocha sudah siap" seruku. Ku buka pintu kamar, mata mama membulat menatapku.
"Anak mama memang cantik ... Ayo semua sudah menunggumu sayang" ucap mama menggandeng dan membawaku ke ruang tamu.
>>POV author<<
Ocha nampak keluar dari kamarnya. Berjalan beriringan dengan mamanya. Penampilan Ocha sangatlah sempurna. Gaun merah marun yang menempel pada tubuh rampingnya memunculkan aura anggun.
"Baiklah, kita mulai saja acara pertunangan ini. Mari kita awali acara ini dengan membaca basmalah. Bismillahirrohmanirrohim" ucap moderator yang tak lain adalah bapak RT di komplek perumahan Ocha.
Susunan acarapun telah bergulir, hingga akhirnya dimana Abi harus mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke rumah Ocha dengan lantang.
"Saya Reza Fabian Prasetya hendak meminang Siti Kautsar Irawan untuk menjadi istri sah saya. Maukah adinda Ocha menerima kesungguhan hati saya untuk menjadikan adinda istri sah saya? Menemani saya sampai maut memisahkan. Menemani saya membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Maukah adinda, Ocha?" ucap Abi dengan lancar dan mantap penuh kesungguhan hati.
"Bagaimana neng Ocha? Apa jawaban dari neng Ocha?" tanya pak RT.
"Mau ... " Ocha menjawab dengan suara yang lemah, penuh malu-malu.
"Coba ulangi neng Ocha sedikit lebih lantang suaranya, agar dapat di dengar oleh kami yang hadir di sini dan tentunya bisa didengar oleh nak Reza" ucap pak RT lagi.
Ocha menarik nafas dalam, menetralkan rasa gugupnya, agar suaranya bisa keluar lebih lantang dari sebelumnya.
__ADS_1
"Iya, mas. Saya mau dan saya menerima pinangan dari mas Abi" ucap Ocha pelan tapi pasti tanpa terbata-bata.
Seketika lolos sudah beban hati dan pikiran Abi mendengar ucapan Ocha. Sirna sudah semua rasa kalut yang selama ini hinggap di pikiran Abi. Seolah tubuh teringankan seringan kapas yang terbang ke udara.
Abi terlalu banyak berpikir tentang bagaimana masa depan pernikahannya dengan Ocha. Ia tau bahwa Ocha belum bisa melupakan kekecewaannya pada laki-laki. Karena itulah, Abi mati-matian membuat Ocha yakin pada kesungguhan dirinya.
"Baiklah, karena neng Ocha sudah menjawab pinangan dari nak Reza alias Abi. Maka, selanjutnya silakan neng Ocha dan nak Abi juga maju beberapa langkah ke depan. Silakan nak Abi menyematkan cincin tunangan di jari manis neng Ocha" ucap pak RT.
Abi meraih tangan kiri Ocha dengan lembut . Ocha hanya menunduk malu, ia merasakan ada gelenyar yang hadir merambat seluruh tubuhnya.
"Perasaan apa ini? Rasa hangat menjalar ke relung hatiku" gumam Ocha dalm hati.
Abi menyematkan cincin yang sudah mereka pilih sebelumnya ke jari manis Ocha perlahan dengan sangat lembut. Lalu menatap lembut ke arah mata Ocha penuh cinta. Ia tak pernah merasakan rasa cinta yang membuncah seperti ini lagi bahkan setelah dua belas tahun silam saat ia mengenyam bangku kuliah pun rasanya tak sebahagia ini.
"Terima kasih sudah mau menerima mas, sayang .... " bisik Abi di depan wajah Ocha. Kata sayang yang membuat pipi Ocha merona, membuat pancaran kecantikan wajah Ocha semakin sempurna.
.
.
.
🌺 hai readers..
Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi. Bab ini so sweet banget kaaaann...
Uwuuu jadi kepingin juga disematkan cincin sama mas Abi 😁 Bab-bab selanjutnya adalah the real of love. Dimana cinta mereka akan diuji. Kira-kira aku kasih bumbu pelakor gak ya, 'kan lagi musim pelakor nih, will see deh ...
Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, terima kasih teman-teman...
babay....😘
__ADS_1
Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕