Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 66


__ADS_3

>>author<<


Sepanjang perjalanan Ocha diam saja. Ia terus memandangi jalanan dari samping kaca jendela mobil. Ya, Abi hari ini mengajak Ocha jalan-jalan menggunakan mobil. Ia tak ingin Ocha kelelahan selama perjalanan jika menggunakan motor Ninja nya.


"Mas! Stop di depan deh!" ucap Ocha tiba-tiba.


Abi yang tengah fokus menyetir sontak menoleh pada Ocha dan memperlambat laju mobilnya.


"Ada apa, Cha?" tanya Abi, sambil berusaha menepikan mobilnya dengan sebelumnya ia melihat ke arah kaca spion guna mengamati keadaan, kalau-kalau ada kendaraan yang akan melintasi mobilnya.


"Tadi ada penjual cilok, em .. aku mau mas. Boleh?" tanyanya takut-takut.


"Iya, boleh, sebentar ya, mas aja yang turun" ucap Abi sambil menarik rem tangan dan melepaskan sabuk pengaman.


"Ga usah mas, biar Ocha aja yang turun dan beli ciloknya" buru-buru Ocha menarik tangan Abi saat Abi hendak membuka handle pintu mobil.


Abi menoleh, ia ingin membiarkan Ocha membeli cilok sendiri sesuai keinginannya, tapi sesaat kemudian ia teringat janjinya bahwa tak akan meninggalkan Ocha sendirian lagi.


"Ya sudah, kamu tunggu ya. Mas bukain pintu untuk Ocha. Kita turun dan beli cilok sama-sama" ucap Abi lalu bergegas keluar dan membukakan pintu mobil Ocha bak seorang pengawal membukakan pintu untuk seorang putri.


Ocha terperangah melihat perlakuan manis Abi padanya. Ia meraih tangan Abi yang terulur padanya.


"Mas mau cilok juga?" tanya Ocha saat tau Abi memesan cilok juga untuknya.


"Iya, mas juga mau nyobain" ucapnya. Ia menerima seplastik cilok dengan hanya berbumbukan kecap saja.


Ocha tertawa melihat pesenan cilok Abi.


"Kenapa ketawa, Cha?" tanya Abi bingung.


"Mas tuh kayak anak kecil. Masa ciloknya cuma pake kecap aja, gak dikasih saos kacangnya" Ocha terkekeh melihat laki-laki di sebelahnya ini.


Mereka memakan cilok pesanan mereka sambil bersandarkan mobil Abi.


"Memangnya kenapa? Mas 'kan ga suka pedas, enak loh. Mau coba?" Abi menyodorkan cilok miliknya ke mulut Ocha. Ocha menggeleng kuat.


"Gak mau! Gak enak kalau gak pake sambal!" ucapnya. Ia lalu menyuapkan cilok miliknya ke mulutnya. Abi yang melihat ada sisa sambal di bibir Ocha kemudian menyapunya dengan jempolnya.


"Manis .... " ucapnya saat menjilat sisa saos dari bibir Ocha yang ia sapu dengan jempolnya.


Blush ....


Pipi Ocha bersemu merah. Jantungnya berdegup kencang, hatinya terhangatkan.


"Ocha kenapa? Pedas banget ya? Mukamu sampai merah banget tuh!" ucap Abi hawatir.


Ocha tak langsung menjawab, ia membalikkan badannya malu.

__ADS_1


"Rona merah di wajahku ini 'kan karena perlakuan mas ... bukan karena pedas!" desisnya dalam hati.


Abi lantas dengan sigap mengambil air mineral dari dalam mobilnya untuk Ocha. Ia hawatir Ocha sakit perut karena terlalu banyak memakan cilok yang pedas.


"Minum dulu, Cha" Abi menyodorkan botol air mineral pada Ocha.


"Makasih mas" Ocha menerimanya lalu meneguknya segera.


"Uhuk ... uhuk ... " Ocha tersedak, karena minum tergesa-gesa. Bagaimana tidak, ia meneguk dengan cepat karena kikuk dipandangi oleh Abi terus.


"Pelan-pelan sayang minumnya" ucap Abi sambil mengusap-usap punggung Ocha guna meredakan tersedaknya.


Mendapat ucapan sayang dan perlakuan seperti itu, wajah Ocha semakin merah. Tidak hanya pipinya, tapi telinganya pun merah.


Abi menuntunnya masuk ke dalam mobil. Lantas ia pun masuk ke dalam mobil.


"Gimana, Cha? Udah enakan? Apa kita pulang aja ya? Mas hawatir nih. Mukamu merah banget kayak kepiting rebus" ucap Abi hawatir.


Ocha membelalakkan matanya.


"Pulang? Sekarang? Gak mau!" teriak hatinya.


"Gak apa-apa kok, mas. Kita bisa lanjut jalan lagi, ayo mas!" ucap Ocha masih ada sisa batuknya.


"Beneran gak apa-apa? Badan kamu agak hangat!" Abi secara impulsif menyentuh dahi Ocha untuk mengecek suhu badan Ocha.


"Ya udah, kita jalan lagi. Tapi kalau Ocha merasa gak enak badannya, langsung bilang mas ya, oke?" ucapnya lalu mulai menyalakan mobilnya.


Sepanjang jalan, Abi terus saja menoleh pada Ocha. Ia terus mengecek keadaan Ocha, kalau-kalau Ocha sakit.


.


.


Setelah beberapa menit perjalanan dari tukang cilok tadi, akhirnya mereka tiba di sebuah perbukitan. Disana terdapat hamparan perkebunan teh yang bersebelahan dengan kebun strawbery.


Abi menghentikan mobilnya di tempat parkir yang sudah di sediakan tempat wisata itu. Ya, Abi mengajak Ocha ke tempat wisata alam.


"Ayo turun, kita sudah sampai" Abi membukakan pintu dan mengulurkan tangannya.


Ocha keluar dari mobil. Ia membelalakkan matanya, kagum. Ia merentangkan tangannya dan menghirup udara segar yang menguar dari aroma pohon pinus.


"Suka?" tanya Abi saat melihat senyum yang menghiasi wajah Ocha.


"Iya, suka. Mas kok tau tempat ini? Aku suka banget" ucap Ocha. Matanya berbinar melihat pemandangan di sekitarnya.


"Kamu akan lebih suka lagi setelah kita sampai di sana" ucap Abi sambil mengulurkan tangannya pada Ocha.

__ADS_1


"Ke mana?" tanya Ocha.


"Ayo, mas bawa Ocha ke sana. Ke tempat favorit mas waktu kuliah" ucap Abi.


Tempat wisata itu tak banyak yang berubah, hanya bertambah banyak pedagang makanan dan minuman di bagian parkiran, selebihnya masih sama seperti delapan tahun yang lalu, saat dirinya masih di bangku kuliah semester akhir. Dan itulah saat terakhir ditorehkan luka hatinya oleh seorang wanita.


Abi menghembuskan nafas dalam saat melihat bangku yang terbuat dari kayu yang tumbang di depannya. Ia teringat terakhir kali tersakiti oleh seorang wanita.


Abi kemudian menggenggam erat tangan Ocha seolah mencari kekuatan hatinya dalam menghadapi kenangan-kenangan masa lalunya yang tiba-tiba terlintas berhamburan di pandangannya.


Ocha melirik tangannya yang digenggam erat oleh Abi. Keningnya berkerut, terlintas pertanyaan dalam benaknya, mengapa Abi menggenggamnya begitu erat tidak seperti biasanya. Ia kemudian menoleh ke arah wajah Abi, matanya yang terpaku lurus memandang bangku kayu di depannya.


"Mas, ada apa?" tanya Ocha pelan.


Abi tersentak, tersadarkan oleh suara Ocha. Ia menoleh ke arah Ocha. Menatap lekat mata Ocha.


"Benar! Aku tak seharusnya mengingat masa lalu saat bersama masa depanku. Dia yang terbaik untukku" batin Abi.


"Maaf, mas tiba-tiba melamun. Ayo kita jalan lagi, masih harus turun ke bawah sebentar lagi. Ocha gak capek 'kan?" ucap Abi. Ocha menggeleng kuat.


Abi mengenggam tangan Ocha menuruni titian tangga menuju sebuah sungai yang teralirkan airnya dari sebuah air tejun.


"Hati-hati, licin!" ucap Abi sambil memapah Ocha. Merengkuh pinggang Ocha agar tidak tergelincir di titian yang basah dan licin akibat cipratan air terjun.


.


.


.


🌺 hai readers..


Kisah mereka sengaja author bikin alur lambat karena ... karena apa ya ... karena author suka menceritakan pelan-pelan biar lebih berwarna aja seperti pelangi 😀


Author sengaja memberi sedikit waktu untuk Abi dan Ocha saling mengenal sebelum akhirnya mereka membina rumah tangga. Jadi sabar ya, tenang aja kok, bentar lagi kita makan-makan di nikahan Ocha. Eh ....😄


Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.


Author selalu berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...


Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers 🙏


Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya, bantu untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, jadikan novel ini sebagai novel favorite kalian ya terima kasih teman-teman...


babay....😘


Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕

__ADS_1


__ADS_2