Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 58


__ADS_3

>>author<<


Pagi ini Ocha sudah bersiap untuk memulai hari pertamanya mengajar di kampusnya. Sebelumnya ia sudah menerima jadwal untuk menggantikan pak Aditya mengajar mata kuliah untuk mahasiswa tingkat dua. Dari semalam ia sudah menyiapkan segalanya, termasuk mempelajari kembali materi yang akan ia ajarkan pada mahasiswa pagi ini.


"Untung banget ada buku-buku dari Nisa. Aku jadi mudah mempelajari mata kuliah tingkat dua" ujar Ocha sambil memasukkan beberapa buku milik Nisa sebagai panduan nanti saat mengajar berlangsung.


Ditengah-tengah Ocha mengemasi keperluannya ke dalam tas, suara mamanya dari balik pintu kamar memanggilnya.


"Ada apa mah?" tanya Ocha seketika kepala mamanya menyembul ke dalam saat ia membuka pintu kamarnya.


"Itu di luar ada tamu" ucap mama sambil menarik tanganku untuk keluar kamar.


"Tamu? Tamu siapa? Kok narik tangan Ocha sih, mah? Mama aja lah yang nemuin tamunya, Ocha mau siap-siap berangkat" tampik Ocha, sambil memutar badan kembali ke dalam kamar.


"Eits ... Ayo temuin dulu tamunya!" cegah mamanya sambil menarik kembali tangan Ocha ketika Ocha hendak masuk kamar lagi.


"Apaan sih, mah!" ucap Ocha. Ia diseret mamanya hingga ke ruang tamu. Nampak dari balik tirai jendela ruang tamu punggung seorang laki-laki. Belum nampak wajahnya karena si laki-laki membelakangi Ocha. Mama belum mengijinkan laki-laki itu masuk ke dalam rumah. Mamanya takut kalau laki-laki itu perampok atau penipu, soalnya di rumah hanya ada mereka berdua. Papanya sedang dinas ke luar kota sudah dari dua hari yang lalu dan akan pulang nanti malam.


"Siapa sih pagi-pagi yang bertamu ke sini?" dengus Ocha kesal.


Ocha membuka handle pintu dan bergegas menemui tamu itu.


"Maaf bapak mencari siapa?" tanya Ocha.


Laki-laki itu berbalik badan.


"Selamat pagi!" ujarnya.


Mata Ocha membulat seketika. Tak percaya orang yang ada di hadapannya adalah pak Aditya, mentornya.


"Selamat pagi, Ocha!" sekali lagi pak aditya mengucapkan salam tetapi belum ada respon dari Ocha. Ocha masih terjebak dalam keterkejutannya.


"Se-selamat pagi, pak" ucap Ocha terbata. Bagaimana tidak, laki-laki yang di hadapannya adalah dosen mentornya yang menyebalkan.


"Kenapa? Kenapa dia ada di sini?" gumam Ocha dalam hati.


"Boleh saya, masuk?" ucapnya dengan wajah tanpa beban.


"Bo-boleh pak, silahkan masuk" ucap Ocha terbata-bata.

__ADS_1


"Em ... silakan duduk pak, mau minum apa?" ucap Ocha sopan menawarkan minuman untuk dosen itu meski hatinya enggan bertemu dengannya sepagi ini.


"Oh, tidak usah repot-repot. Saya kesini hanya ingin menjemput asisten dosen saya. Hari ini adalah hari pertamanya mengajar. Saya tidak mau dia terlambat di hari pertamanya. Bukan begitu, Ocha?" ujarnya masih dengan sikap menjengkelkan menurut Ocha.


Mata Ocha membelalak, ia tak menyangka bisa berurusan dengan manusia macam dia. Ia tak bisa berkutik, sebab ia sudah mengambil kontrak kerja dengannya selama satu semester.


"Astaga! Bagaimana aku menjalani pekerjaan ini selama satu semester, bisa stres aku kalau begini" gumam Ocha dalam hati.


"Tapi pak, saya 'kan belum terlambat. Jadwal mengajar saya untuk mahasiswa tingkat dua masih satu jam lagi, yaitu jam sembilan. Dan sekarang masih jam delapan" tutur Ocha dengan nada penekanan menunjukkan rasa jengkelnya pada dosen itu.


"Kamu benar! Tapi apakah kamu sudah sarapan?" tanyanya lagi.


Ocha memutar bola matanya jengah.


"Saya rasa tidak perlu banyak perbincangan di sini, untuk mempersingkat waktu. Mari saudari Ocha, kita bisa pergi bersama ke kampus. Mobil saya sudah menunggu di depan rumah anda. Dan kebetulan saya juga belum sarapan. Jadi ... Mari Ocha!" ucapnya sembari mempersilakan Ocha untuk keluar rumah mengikuti dirinya.


"Udah gila ya? Ngajak ke kampus bareng, bahkan ngajak sarapan bareng. Bener-bener dosen stres kali ya!" batin Ocha tak henti-hentinya memaki dosen itu.


"Loh kok bengong? Ayo neng Ocha, kita berangkat sekarang" ucapnya saat menolehkan kepalanya ke belakang, melihat Ocha masih diam terpaku tak mengikuti arahannya.


Ocha benar-benar jengkel dibuatnya, namun ia tak bisa menolaknya karena dosen itu adalah mentornya. Dan akhirnya dengan berat hati Ocha masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas yang tadi sudah dipersiapkan olehnya.


"Orang stres!" ketus Ocha sembari masuk ke kamar.


"Orang stres? Maksudnya gimana, Cha?!" tanya mamanya penasaran.


Ocha keluar dari kamarnya dengan menggendong tas ranselnya berisi buku-buku materi yang akan ia ajarkan sekarang.


"Loh, Cha! Sarapan dulu!" seru mamanya saat melihat Ocha ngeloyor pergi melewati meja makan.


Ocha tak menjawab panggilan mamanya karena saking kesalnya pada dosen itu, hingga ingin segera mengakhiri drama pagi hari ini.


Ocha melihat ada mobil sedan hitam terparkir rapi di depan rumahnya. Ia bergegas mendekati mobil itu. Kaca pintu mobil bergerak ke bawah, sehingga Ocha dapat melihat dosen tengil itu tengah menatapnya.


"Tunggu apa lagi? Ayo masuk! Anda kira saya bakal membukakan pintu untuk anda bak puteri kerajaan?" ucapnya tengil.


"Astaga!" Ocha membulatkan matanya jengkel bukan main. Ia dengan kasar membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang.


"Jangan duduk di belakang. Saya bukan supir anda!" ucapnya lagi tak kalah menyebalkan.

__ADS_1


Ocha memutar bola matanya, emosinya sudah mencapai lehernya dan rasanya ingin segera ia muntahkan kata-kata kasar pada lelaki itu.


Ocha kemudian keluar mobil untuk berpindah tempat duduk ke kursi mobil depan. Ocha membanting pintu mobil dengan keras.


Brakk!!


"Hei! Mobil ini tidak ter-cover asuransi. Jadi jika mobil ini lecet karena anda, maka anda harus bertanggung jawab ya!" ucapnya.


Ocha terdiam. Ia bukan diam karena takut akan ancaman tentang mobilnya, tetapi berfikir keras untuk bagaimana menghadapi hari-harinya ke depan sebagai asistennya.


"Bapak kenapa melakukan ini semua?" tanya Ocha tiba-tiba memecah kesunyian saat mobil berjalan.


"Melakukan apa?" tanyanya seolah tak terjadi hal apapun pagi ini.


Lagi-lagi Ocha memutar bola matnya jengah.


"Bapak kenapa pagi-pagi ke rumah saya, menjemput saya?" tanya Ocha.


"Kamu jangan besar kepala ya. Saya hanya melakukan sesuai dengan standar saya" ucapnya.


"Siapa juga yang besar kepala? Huh!" dengus Ocha kesal.


.


.


.


🌺 hai readers..


Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.


Saat ini author sedang berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...


Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers 🙏


Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, terima kasih teman-teman...


babay....😘

__ADS_1


Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕


__ADS_2