
>>author<<
"Assalamualaikum" Abi mengetuk dan mengucap salam ketik membuka pintu kamar rawat calon mertuanya.
"Wa'alaikum salam, sini masuk nak Abi. Tadi ibumu sudah telpon tante, parcel buahnya tante terima ya, bilang terima kasih dari tante ya" Abi menyerahkan parcel buah pada mama Reni lalu mengangguk sopan mendengar ucapan tante Reni.
"Oh ya Abi, tadi ibumu juga bilang ke tante tentang kekhawatirannya pada Ocha yang ditinggal di rumah sendirian. Sebenarnya tante juga tidak tega, tapi mau bagaimana lagi. Tante dan om tidak punya sanak saudara lain di kota ini, jadi terpaksa tante mengambil keputusan ini, Ocha memang kadang-kadang ditinggal sendiri di rumah kalau om ada dinas ke luar kota yang mengharuskan tante ikut bersamanya" ujar mama Reni, Abi mendengarkan dengan seksama penjelasan mama Reni.
Mama Reni lantas mengambil nafas dalam sebelum kemudian melanjutkan ucapannya.
"Ibumu juga menyarankan agar Ocha menginap di rumahmu, bagi tante sih gak masalah, karena tante kenal dengan ibumu sudah sangat lama, jadi tante tahu sifat dan karakter ibumu" ucap mama Reni, ia menghentikan ucapannya sejenak menatap Abi lekat-lekat.
"Tante tahu betul cara ibumu mendidikmu dari kecil. Itulah salah satu alasan kami menerima ide ibumu untuk menjodohkanmu dengan Ocha. Dan tante juga melihat sendiri perlakuanmu pada Ocha, maka dari itu, tante menyetujui dan mengijinkan Ocha menginap di rumahmu. Tapi semua keputusan ada di tangan Ocha. Sama halnya dengan perjodohan ini, tante tidak mau memaksa jika kalian ataupun salah satu dari kalian tidak nyaman dengan perjodohan ini" penjelasan mama Reni melengkapi obrolan Abi dengan papa Irawan sebelumnya.
"Baik tante, sepulang dari sini, Abi mampir ke rumah, menjemput Ocha. Jika Ocha menolak, Abi tidak akan memaksanya tante. Abi pamit pulang ya tante, assalamualaikum" Abi kemudian mencium tangan mama Reni dan bergegas pergi ke rumah Ocha.
.
.
Tok..tok..tok..
Berkali-kali Abi mengetuk pintu rumah Ocha, tapi tidak ada respon. Ia menjadi khawatir, akhirnya dengan memberanikan diri, Abi membuka gagang pintu rumah Ocha. Pintu terbuka! Ternyata tidak dikunci, Abi lantas masuk ke dalam dan memanggil Ocha dengan sedikit was-was. Masih juga tidak ada jawaban, Abi bergegas masuk, kini ia berada di ruang makan.
Ia celingukan mencari sosok Ocha, tapi tidak ada dimana-mana. Ruangan terakhir yg belum ia cek adalah kamar Ocha. Belum sempat ia memegang gagang pintu kamar Ocha, pintu itu terbuka perlahan.
__ADS_1
"Aaaaaa...!!!" pekik Ocha. Abi lantas memegang bahu Ocha menenangkannya. Ia paham reaksi Ocha yang kaget, sama halnya dengan dirinya juga merasa kaget karena tiba-tiba bertemu mata setelah pintu dibuka.
"Ocha ini mas, tenang!" ucap Abi masih menenangkan Ocha yang masih syok. Dan baru disadari oleh Abi, ternyata Ocha mengenakan handuk kimono. Ia kemudian buru-buru melepaskan tangannya yang memegang bahu Ocha karena handuk kimononya sedikit melorot di bagian bahu, sehingga menampakkan kulit putih mulus milik Ocha.
Abi lantas mundur dan membalikkan badannya, agar bisa mentralkan perasaan gelenyar yang sedang ia rasakan di hatinya saat melihat bahu Ocha yang mulus tadi.
"Maaf mas mengagetkanmu, tadi mas panggil-panggil tapi tidak ada respon, jadinya mas langsung masuk, mas khawatir Ocha terjadi sesuatu di dalam" ucap Abi masih dengan posisi membelakangi Ocha.
Ocha langsung tersadar dari kagetnya, ia juga lalu buru-buru merapikan baju kimononya.
"Ocha ganti baju dulu mas" ucap Ocha kemudian masuk ke kamar dan menutup pintu kamarnya. Di dalam kamar, Ocha mengelus-elus dadanya. Ia benar-benar kaget bertemu dengan Abi dengan keadaan ia selesai mandi. Ia lantas buru-buru mengganti pakaiannya dan keluar menemui Abi.
Abi menunggu Ocha di meja makan. Ia melihat tumpukan piring di sudut meja makan tersebut. Tanpa terasa, pikirannya teringat pada kejadian saat ia makan sepiring berdua dengan Ocha. Ia tersenyum simpul mengingat kejadian itu.
"Ada apa mas ke sini?" pertanyaan Ocha memecah lamunannya saat ia makan berdua dengan Ocha. Ocha kini duduk di kursi makan yang berhadapan dengan dirinya.
"Menjemputku? Kemana?" tanya Ocha bingung.
"Mamamu khawatir karena Ocha dirumah sendirian, jadi mamamu menyuruh mas untuk menjemputmu untuk menginap di rumah mas" jawab Abi.
"Kamu coba telpon mamamu untuk konfirmasi perkataan mas ini, untuk meyakinkanmu kalau mas gak bohong" perintah Abi, ia mengerti rasa curiga yang tersirat di wajah Ocha. Ocha lantas masuk ke dalam kamar ia menelepon mamanya.
"Halo ma, di rumah ada mas Abi nih, iya barusan datang. Oh gitu, ya udah nanti Ocha bilang ke mas Abi, iya iya, mama jaga kesehatan juga ya, biar kuat jagain papa" Ocha menutup sambungan telepon. Ia tak lantas keluar kamar, ia mondar-mandir di kamarnya mencoba berfikir jernih ucapan mamanya.
Mamanya menyarankannya menginap di rumah Abi. Tapi keputusan seutuhnya ada ditangan Ocha. Bingung bercampur malu. Bagaimana ia bisa menjalankan aktifitasnya di rumah orang lain. Tapi ia juga sedikit takut tidur sendirian di rumah, apalagi saat tadi ia pulang dari rumah sakit, ternyata rumah tetangganya yang paling ujung kemasukan maling. Akhirnya dengan berat hati ia memilih menyetujui saran mamanya.
__ADS_1
"Oke deh mas aku ikut ke rumah mas, tunggu aku beresin baju-baju dulu ya" ucapnya saat keluar dari kamar tadi dan menemui Abi lagi.
"Ya sudah, mas tunggu di ruang tamu ya" ucap Abi lalu beranjak ke arah ruang tamu.
.
Ocha keluar kamar membawa tas koper besar. Ia lalu membawanya ke ruang tamu. Abi tergelak melihat tingkah Ocha yang kesusahan membawa kopernya yang besar itu.
"Emang mau pindahan neng?" ledek Abi. Ocha tersipu malu.
"Kenapa emangnya?! Gak boleh bawa koper?! Keperluan aku kan banyak!" dengus Ocha kesal dengan ledekan Abi.
"Iya boleh kok, bawa seluruh isi kamar Ocha juga boleh kok, dengan senang hati mas siap mengangkutnya" Abi lagi-lagi meledek Ocha. Ia selalu berhasil membuat Ocha tersipu malu. Ocha buru-buru memonyongkan bibirnya, cemberut.
"Ayo sini biar mas yang bawakan kopernya" Abi dengan sigap membawa koper Ocha keluar rumah. Ocha mengikuti Abi di belakangnya keluar rumah, tak lupa ia lalu mengunci pintu rumahnya.
"Silakan masuk tuan putri" ucap Abi membukakan pintu mobil untuk Ocha. Lagi-lagi Ocha dibuat tersipu oleh perlakuan manis Abi.
"Kamu mau mampir ke minimarket dulu gak? Barangkali ada yang perlu kamu beli, misalnya cemilan atau keperluan perempuan lainnya?" ucap Abi saat mobil sudah melaju di jalanan.
"Gak ada!" ucap Ocha.
"Oh ya kenapa tadi pintu rumah gak kamu kunci? Itu kan bahaya Cha? Gimana coba kalau maling masuk rumah tiba-tiba?" Tanya Abi.
"Tadi Ocha buru-buru masuk soalnya gerah banget pengen mandi, terus lupa ngunci pintu depan" ucap Ocha.
__ADS_1
"Hemm..lain kali jangan lupa kunci pintu dulu ya, jangan lupa lagi loh!" ucap Abi. Ocha mengangguk.