
>>author<<
Ocha sudah mengenakan helm dan bersiap menarik gas motornya tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Ocha! Ocha!" serunya.
Ocha menoleh ke arah sumber suara. Mencari tu siapa yang memanggilnya.
"Maya?!" tanya Ocha heran. Maya adalah salah satu teman sekelasnya saat masih kuliah.
"Ocha! Tunggu!" ia datang dengan nafas yang terengah-engah.
"Maya!? Ada apa? Kamu ngapain ada di kampus? Udah selesai skripsinya?" tanya Ocha beruntun.
"Haduh, plis deh tunggu gue ambil nafas dulu, capek tau ngejer-ngejer elu!" ucapnya masih menetralkan nafasnya yang terengah-engah akibat berlari tadi.
Ocha sebenarnya tidak terlalu akrab dengan Maya, ia termasuk orang yang menghindari berinteraksi dengan Maya.
Ya, Maya dikenal oleh semua teman-temannya dengan sebutan "Penakluk Lelaki". Dengan wajahnya yang ia poles dengan berbagai make up, bibirnya yang tebal dan sexy juga tubuhnya yang sintal dengan mudahnya ia menggaet laki-laki yang diinginkannya. Sudah banyak teman-teman laki-laki Ocha terkena tipu dayanya.
"Gw mau tanya sama elu. Elu ada perlu apa sama pak Aditya?" tanyanya.
"Kenapa kamu pengen tau?" tanya Ocha balik. Ia merasa tak harus menceritakan urusannya dengan pak Aditya pada Maya.
"Lah ditanya malah nanya balik. Okelah gue juga gak niat pengen tau juga urusan lu dengan dosen ganteng itu" ucapnya.
Ocha memutar bola matanya jengah. Ia tau pasti obrolan ini akan berakhir tidak menyenangkan bagi dirinya.
"Gue minta nomer whatsapp pak Aditya dong. Dia udah gue incar dari sejak lama. Tapi karena orangnya jarang ke kampus jadi susah didekatinya" ucapnya santai membuat Ocha geram mendengar permintaan ringannya.
"Maya, aku saranin mulai sekarang kamu harus lebih fokus dengan kuliahmu. Selesaikan skripsimu yang terbengkalai, mulailah menata masa depanmu sedari sekarang. Sudahi main-main dengan laki-laki." ucap Ocha, tak tahan juga akhirnya mengeluarkan nasihat untuk Maya.
"Alah elu gak asik! Kalau gak mau ngasih nomernya gak usah ribet-ribet ngurusin hidup oranglah! Udah ah, gue pergi! Gue bisa kok dapetin pak Aditya dengan usaha sendiri!" ucap Maya sembari mendengus kesal meninggalkan Ocha.
"Dasar cewek aneh! Argh ... ! Kesel banget sih hari ini. Bikin badmood aja!" rutuk Ocha lalu menyalakan motornya dengan cepat.
.
__ADS_1
.
"Kenapa, sayang? Daritadi diem aja? Ada masalah apa?" tanya Abi saat mereka sedang duduk menunggu pesanan makan siang di restaurant ayam bakar.
"Gak apa-apa!" ketusnya.
"Gak apa-apa tapi kok jawabannya ketus gitu sama mas. Mas yang jadi sasaran kemarahan Ocha dong" ucp Abi masih dengan tatapan lembut.
"Kenapa? Cerita dong sama mas" ucap Abi sambil mengusap lembut tangan Ocha.
"Oh ya, gimana hari ini sudah dapat jadwal kegiatan asisten dosennya?" tanya Abi.
"Nah itu juga salah satu yang bikin Ocha kesel plus jengkel!" dengus Ocha.
Ocha sudah mau membuka mulut untuk mengeluarkan kekesalannya hari ini, tapi terpotong karena makanan yang mereka pesan akhirnya datang.
"Makasih, mba" ucap Abi pada pelayan yang mengantar makanan mereka.
"Ayo makan dulu, mumpung masih panas, ceritanya nanti dilanjutkan setelah makan. Gak enak kalau udah dingin" ucap Abi.
Ocha menurut saja, karena perutnya pun sudah berontak minta diisi.
.
.
"Aditya? Jadi inget seseorang" gumam Abi dalam hati.
"Ya sudah, sabar ya sayang. Namanya juga dunia yang baru Ocha jalani. Dalam dunia kerja pasti ada saja yang bikin kita gak nyaman. Ocha tetep harus semangat dan mengikuti aturan yang dibuat oleh dosen itu. Ocha harus maklum kalau dosen yang sudah sepuh itu memang biasanya agak sedikit rewel. Oke, sayang?" ucap Abi.
Ocha mengingkari perkataan terakhir Abi. Ia tidak menceritakan secara detil sosok dosennya itu bukanlah orang tua yang sudah sepuh. Tapi Ocha enggan menceritakan semua detilnya termasuk pertemuannya dengan Maya pada Abi.
"Lain kali saja aku cerita ke mas Abi. Sekarang aku masih jengkel" pikir Ocha.
"Habis dari sini, Ocha mau kemana?" tanya Abu.
Ocha melirik jam tangannya. Jarum jamnya masih bertengger di angka satu. Sebenarnya ia hendak mampir ke rumah Nisa untuk meminjam beberapa buku sebagai bahan persiapan ia mengajar, tapi karena moodnya sedang tak karuan, akhirnya ia mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Aku langsung pulang aja, mas" ucap Ocha.
"Ya sudah yuk pulang, mas antar sampai parkiran motor. Sebelum pulang, mas mau mampir ke bengkel Bagas dulu" ucapnya.
"Ya udah, mas. Aku pulang duluan ya" ucap Ocha setelah tadi Abi memakaikan Ocha helm.
"Hati-hati ya, sayang. Jangan melamun dan jangan ngebut!" ucap Abi.
"Iya, mas ... " ucap Ocha lalu menarik gas motornya untuk melaju pulang.
.
.
"Assalamualaikum ... haah lelahnya hari ini. Baru pertemuan pertama saja udah bikin emosi hati, bagaimana untuk selanjutnya ya, haah .... bikin kesel aja tuh dosen!" ujar Ocha sambil menyenderkan punggungnya ke sofa.
"Ocha udah pulang? Mau makan siang sekarang gak?" tanya mama tiba-tiba sudah ada di samping Ocha.
"Ih mama ... bikin kaget aja sih, tiba-tiba nongol" ucap Ocha.
"Mama gak ngagetin kok, kamunya aja yang lagi ga fokus dan gerutu sendiri dari tadi. Kenapa tuh muka lesu gitu? Gimana nih hari pertama masuk kerja?" tanya mamanya.
"Aduh ... mama nih nanyanya banyak banget. Ocha lagi suntuk nih, gak mau ngebahas itu. Ocha ke kamer dulu, mah. Oh ya, Ocha udah makan sama mas Abi sebelum pulang" ucap Ocha sambil melengos ke kamarnya.
"Hmm ... tuh anak belum berubah juga. Semoga saja, Abi sabar menghadapi kelakuannya yang begitu" ucap mamanya sambil menyalakan tv.
.
🌺 hai readers..
Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.
Saat ini author sedang berusaha untuk bisa crazy up, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...
Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, terima kasih teman-teman...
babay....😘
__ADS_1
Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕