
>>author<<
Abi tiba di depan kosan Devi. Ia kembali menggendong Devi memasuki gerbang kos.
"Kamarmu yang mana?" tanya Abi setelah masuk ke lorong yang penuh dengan beberapa pintu kamar kos.
"Kamarku yang di ujung kak" ucap Devi sambil menunjuk pintu kamar warna pink di ujung lorong kos-kosan itu.
"Kunci kamarnya dimana?" tanya Abi masih menggendong Devi.
Devi menunjuk rak sepatu yang ada di depan kamar kosnya.
"Astaga! Nih cewe gak ada rasa kewaspadaan sama sekali dalam hidupnya" rutuk Abi dalam hati. Ia kemudian mengambil kunci yang ada di rak sepatu. Kunci itu terselip di dalam sebuah sepatu olahraga milik Devi.
Masih dengan menggendong Devi, Abi membuka pintu kamar kos Devi.
Terlihat kamar kos yang sederhana dengan ukuran 3x5 meter dengan perabotan yang sederhana cukup untuk ditinggali oleh seorang diri. Tak ada ranjang besar, hanya ada single bed, satu lemari baju kecil dan meja belajar kecil dengan tambahan kamar mandi di dalamnya. Kamar mandi kecil yang di dalamnya ada kakus dan hanya menggunakan shower sehingga tak memerlukan bak mandi lagi.
Abi merebahkan Devi di atas ranjang. Abi memindai kamar Devi, ia dalam hati berdecak kagum karena setiap inci dari barang-barangnya tertata dengan rapi.
"Kak aku mau ambil minum. Tolong bisa ambilkan aku minum? Gelas dan air galonnya di sebelah meja belajar" ucap Devi sambil menunjuk ke arah gelas yang ada di atas galon di samping meja belajar.
Abi lantas menuruti permintaan Devi. Ia mengambilkan segelas air putih dari galon.
"Terima kasih kak" ucapnya menerima uluran gelas berisi air minum.
"Astaga! Tangan kakak luka! Kenapa tadi gak bilang sama dokter supaya bisa diobati juga" ucapnya kaget melihat lengan kanan Abi terluka saat menyodorkan air minum tadi.
"Kakak gak apa-apa kok. Ini cuma lecet biasa. Nanti juga sembuh sendiri" ucap Abi sambil tersenyum menenangkan.
"Tapi kak .... "
"Ssttt ... kamu gak usah memikirkan yng lain dulu. Fokus pemulihan kondisi badanmu saja, oke?" ucap Abi.
Abi duduk di atas ranjang bersebelahan dengan Devi. Ia memindai kondisi Devi, bagaimana ia bisa meninggalkan Devi seorang diri jika kondisinya seperti ini. Devi yang kemudian tertidur, membuat Abi tak tega meninggalkannya.
__ADS_1
Abi melirik jam tangannya. Jam empat sore! Ia harus pulang untuk membersihkan diri. Perutnya pun lapar, ia hendak beranjak dari duduknya ketika kemudian Devi memegang tangan Abi.
Abi menoleh ke arahnya, ia melihat Devi sudah terbangun dari tidur sejenaknya.
"Kak, aku mau ke kamar mandi" ucapnya. Lalu Abi membantunya berdiri, memapahnya menuju kamar mandi.
"Kakak tunggu di luar saja ya, Devi. Nanti kalau kamu sudah selesai kamu bisa teriak panggil kakak, oke?" ucap Abi setelah berhasil memapah Devi hingga masuk ke dalam kamar mandi. Devi menyahuti ucapan Abi dari dalam kamar mandi yang tertutup. Abi lantas keluar dari kamar Devi.
Di depan kamar kos Devi ada meja dan kursi rotan. Abi duduk di situ menunggu Devi. Suasana di lorong kos nampak lengang hanya beberapa orang yang berlalu lalang. Sebagian dari mereka karyawan. Abi menduga kosan Devi adalah kosan baru dengan kondisi bangunan yang masih baru dan cat tembok yang masih terasa aroma khas nya.
Kamar Devi merupakan kamar paling ujung setelah sembilan pintu kamar kos terlewati. Abi bangkit dan menyusuri lorong setelah kamar Devi ternyata ada sebuah taman kecil yang berjejer jemuran untuk penghuni kos menjemur pakaiannya.
Abi melihat ada tangga besi di pojok taman itu yang menjulang ke atas. Abi menengadah melihat ujung dari tangga itu ternyata merupakan akses dari penghuni kamar kos bagian atas.
Lingkungan di kosan Devi cukup bersih, hanya saja Abi sedikit tidak suka saja karena kosan dibuka untuk umum alias bebas. Pemilik kamar kos tidak diperuntukkan hanya khisus perempuan saja, melainkan ada yang pemiliknya seorang laki-laki. Meski antar pemilik kamar kos saling menghormati, tetap saja membuat Abi was-was mengingat sikap Devi yang ceroboh dan tidak waspada.
"Kak!" terdengar suara teriakan Devi dari dalam kamarnya. Abi lantas tergesa-gesa masuk ke kamar Devi.
"Astaga!" seru Abi. Abi terkejut dan bingung. Bagaimana bisa Devi dengan polosnya hanya mengenakan handuk biasa yang melilit di tubuhnya keluar dari kamar mandi. Abi menarik diri dari dalam kamar Devi. Di luar Abi nampak frustasi, bagaimana menolong Devi jika penampilan Devi seperti itu.
"Baju Devi ... baju yang tadi basah kak, jadi ... sudah Devi masukkan ke dalam ember cucian" sahut Devi gugup, ia yang masih berdiri di pintu kamar mandi dengan susah payah.
Abi mengacak rambut frustasi.
"Ya Tuhan!" lirihnya kemudian dengan perlahan Abi masuk ke dalam kamar Devi sambil memalingkan pandangannya dari tubuh Devi. Ia kemudian mengambil jaketnya yang tergeletak di lantai dan menyerahkannya pada Devi.
"Pakai jaket kakak dulu!" ucap Abi menyerahkan jaket itu pada Devi dengan memalingkan wajah ke arah yang berlawanan.
Bagaimanapun juga ia adalah seorang laki-laki normal yang punya hasrat jika disuguhi pemandangan seperti itu.
Devi menerima uluran jaket Abi lalu memakainya hingga bahu mulusnya tertutup rapat oleh jaket. Pipinya bersemu merah. Sebenarnya ia pun ragu keluar hanya dengan melilitkan handuk, tapi mau bagaimana lagi. Bajunya jatuh di atas ember penampung air, saat ingin dipakai lagi, sehingga basah seluruhnya.
"Sudah kak .... " ucap Devi.
Abi lantas mendekati Devi dan memapah Devi ke arah lemari baju untuk mengambil baju ganti lalu membantunya duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Makasih kak .... " ucap Devi, ia sedikit meringis kesakitan karena ia menggunakan kakinya untuk berdiri lebih lama dari sebelumnya saat di kamar mandi.
"Devi, kakak pulang ya. Devi bisa 'kan sendirian di sini? Kalau Devi lapar, Devi bisa order makanan via aplikasi Grabfood saja" ucap Abi.
"Iya, kak. Makasih udah bantuin Devi hari ini" ucapnya yang membuat Abi merasa bersalah. Bagaimanapun kecelakaan ini disebabkan oleh dirinya yang sembrono mengendarai motor.
"Kakak pamit sekarang ya, Devi" ucap Abi lantas berdiri dan beranjak ke luar kamar.
"Kakak hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut nyetir ya" ucap Devi sebelum akhirnya Abi ke luar dari kamar Devi dan menutup pintu kamar.
Abi menghela nafas panjang ....
Hari yang melelahkan batinnya ....
.
.
.
🌺 hai readers..
Part ini masih menggambarkan karakter Devi yang polos ya, atau terlalu polos ya? Entahlah kita belum kenalan dengan Devi lebih jauh ya 😃
Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.
Author selalu berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...
Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers 🙏
Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya, bantu untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, jadikan novel ini sebagai novel favorite kalian ya terima kasih teman-teman...
babay....😘
Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕
__ADS_1