Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 52


__ADS_3

>>author<<


"Saya terima nikah dan kawinnya saudari Siti Kautsar Irawan binti bapak Raswan Irawan dengan mas kawin perhiasan emas seberat 5 gram dibayar tunai!" ucap Abi mantap.


"Bagaimana para saksi? Sah tidak?!" tanya bapak penghulu pada para saksi. Dan sebelum para saksi menyerukan pendapat mereka. Tiba-tiba ....


"Tidak sah! Batalkan! Batalkan pernikahan ini!" seru salah seorang yang tergopoh-gopoh menyela acara akad nikah yang dilangsungkan di rumah Ocha. Orang itu tak lain adalah Jono!


"JONO!!" seru Abi.


Bruuggh ....!


Abi terjatuh dari tempat tidurnya. Dadanya naik turun, nafasnya memburu.


"Ternyata cuma mimpi .... " Abi mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia kemudian bangkit dan mengambil gelas berisi air putih dari atas nakas samping ranjangnya.


"Si Jono sampai masuk ke dalam mimpiku, astaga!" gumam Abi masih menetralkan degupan jantungnya karena mimpi buruk.


"Mimpi apa itu? Bikin jantungan saja!" gumamnya.


Abi mengecek jam kecil di atas nakas.


"Jam empat pagi! Sebaiknya aku mandi dan bergegas sholat subuh" ucapnya lalu beranjak ke kamar mandi.


.


.


.


Ocha sudah siap dari tadi pagi dengan mengenakan kemeja cream dan celana bahan hitam. Rambutnya ia biarkan tergerai rapi, dan sebagai pemanis ia sematkan penjepit rambut kecil warna hitam untuk merapikan rambut poninya.


"Mah, pah, Ocha berangkat dulu ya. Doain Ocha semoga berhasil" ucap Ocha sambil mencium tangan kedua orangtuanya memohon doa agar wawancaranya hari ini lancar dan bisa diterima dengan mudah.


"Iya sayang, mama selalu doain Ocha yang terbaik. Hati-hati ya, jangan ngebut-ngebut!" seru mamanya saat Ocha sudah menyalakan mesin motornya siap melaju.


.


.


"Nis, aku tegang banget nih, jantungku deg-degan lebih cepat dari biasanya. Dosennya galak gak sih?!" tanya Ocha. Sambil memijit-mijit jemarinya ia tak henti-hentinya berceloteh kepada Nisa.


"Udah jangan tegang gitu, santai aja. Aku juga belum tau yang akan jadi mentormu siapa. Udah jangan terlalu tegang, nanti malah salah ngomong saat wawancara. Santai aja oke?" ucap Nisa mencoba menenangkan sahabatnya.

__ADS_1


"Saudari Siti Kautsar, silakan masuk!" suara seorang perempuan yang keluar dari pintu ruang dosen.


Ocha bergegas bangkit dari duduknya. Dengan langkah gontai, ia memasuki ruangan dosen itu.


Ocha duduk di kursi salah satu meja dosen. Ia menatap orang yang sedang menunduk menulis sesuatu. Seorang wanita paruhbaya, mungkin umurnya hampir sama dengan umur mamanya.


"Apakah dia orangnya? Sepertinya gak galak" humam Ocha dalam hati, menilai pembawaan wanita di depannya.


Wanita itu kemudian mendongak, merasa ada yang memperhatikan aktivitasnya dari tadi.


"Ada perlu apa neng?" tanyanya yang membuat kerut Ocha berlipat tak paham.


"Ah, aku mau wawancara menjadi asisten dosen di prodi matematika" ucap Ocha sopan.


"Oh ya, asisten dosen pa Aditya, ya. Silakan neng duduk di sebelah sana. Di depan meja pak Aditya" ucap wanita itu sambil menunjukkan arah meja pa Aditya.


"Pa Aditya? Jadi nanti dosenku seorang pria? Kupikir beliau yang di depanku" Ocha sibuk dengan pikirannya yang tak menentu. Sikap tegangnya mendominasi pikirannya, sehingga membuat telapak tangannya basah oleh keringat.


Ocha bangkit dan langsung menuju kursi depan meja pak Aditya.


Sudah lewat setengah jam, Ocha menunggu di dalam kantor dosen itu tetapi dosen yang ditunggu tak kunjung datang. Hati dan pikirannya semakin lelah oleh perasaan tegang yang tak kunjung selesai.


"Mbak yang namanya Siti Kautsar ya?" tanya seseorang memecah lamunan Ocha. Seorang wanita muda yang menurutnya lebih tua beberapa tahun darinya.


"Ah iya. Saya dapat pesan dari bapak Aditya, bahwa beliau tidak bisa menemui anda untuk wawancara hari ini. Beliau berpesan untuk langsung saja mbak Ocha mulai menjadi asisten dosen minggu depan" ucapnya membuat Ocha terperangah, tidak dapat mencerna ucapan wanita itu.


"Maaf bu, maksudnya bagaimana ya? Saya kurang paham" ucap Ocha dengan kebingungannya.


"Pak Aditya meminta anda untuk langsung bekerja mulai minggu depan. Itu artinya mbak diterima lamaran pekerjaannya" ucap wanita itu menjelaskan secara rinci.


"Oh ya? Benarkah? Jadi aku gak perlu wawancara lagi bu?!" pekiknya gembira.


"Iya, karena kandidat lain tidak memenuhi kriteria pak Adit dan hanya mbak Siti Kautsar lah yang memenuhi standar penilaian pak Adit, maka mbak bisa langsung bekerja mulai minggu depan. Selamat ya mbak!" jelasnya sambil mengulurkan tangan memberikan ucapan selamat pada Ocha.


"Terima kasih bu" ucap Ocha. Ia keluar ruangan dengan langkah tak sabar. Ingin segera menemui Nisa dan memberithukan kabar gembira itu.


"Nisa ... ! Aku diterima ... !" seru Ocha. Matanya penuh binar kebahagiaan. Sungguh takdir yang menakjubkan bisa langsung bekerja tanpa melewati tes wawancara terlebih dahulu. Ia bersyukur karena bisa menjadi salah satu manusia yang diberikan keberuntungan oleh Tuhan.


"Serius kamu, Cha?! Tuh 'kan seperti yang aku bilang, kmu pasti diterima!" ucap Nisa sambil memeluk bahagia pada Ocha.


"Aku 'kan udah bilang kalau kamu pasti lulus, semua kualifikasi untuk persyaratannya hanya kamu yang memenuhi daripada kandidat lain. Aku udah cek semua kandidat, semua nilai dan hal lainnya tak sebagus punyamu. Jadi tadi pertanyaan wawancaranya apa saja?" tanya Nisa penasaran.


"Gak ada" ucap Ocha masih dengan senyum kegembiraannya.

__ADS_1


"Gak ada? Maksudmu apa?" tanya Nisa bingung.


"Iya, gak ada pertanyaan. Aku gak di wawancara dan langsung bisa mulai bekerja minggu depan" ucap Ocha sumringah.


"Seriously? Jangan becanda deh!" ucap Nisa tak percaya.


"Beneran, Nis!" seru Ocha.


"Wah selamat ya, Cha! Kamu emang orang yang selalu dapet keberuntungan, hebat!" ucap Nisa sambil mengacungkan jempol.


"Kita ke kantin yuk, ku traktir baso" ucap Ocha.


"Dua mangkok ya?!" ucap Nisa.


"Boleh, boleh ... Mau selusin mangkok juga boleh. Apa sih yang gak aku kasih buat sahabat terbaikku" ucap Ocha membuat Nisa terharu.


"Cha, aku bakalan kangen banget sama kamu. Sebentar lagi aku harus berangkat ke luar negri menggapai cita-citaku" lirih Nisa dalam hati.


"Ayo! Kok bengong? Katanya mau makan selusin mangkok baso? Harus habis ya?!" ucap Ocha pada sahabatnya itu.


"Gak boleh bawa pulang nih?!" ucap Nisa


"Gak boleh! Harus habis di tempat" ucap Ocha menggoda Nisa.


Dan mereka pun tenggelam dalam senda gurau sepasang sahabat untuk terakhir kalinya.


.


.


.


🌺 hai readers..


Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi. Author bikin per alur ceritanya sengaja dibikin alur slow supaya selamat hahaa 😝 alon alon asal kelakon bukan deng ... tapi emang author suka menceritakan hal detailnya.


Bagi yang tak suka, maafkeun yaa😔 kemampuan author masih terus belajar untuk meningkatkan kualitas tulisan author


Di bab-bab selanjutnya akan ada percikan konflik ya antara Ocha dan Abi. Seperti apakah? tungguin aja ya...


Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, terima kasih teman-teman...


babay....😘

__ADS_1


Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕


__ADS_2