
>>author<<
"Oh ternyata Devi tinggal di kos-kosan ini. Tempat kos nya sih terlihat aman dan nyaman" gumam Abi.
Abi berhenti di sebuah bangunan bertingkat dengan pagar hitam yang menjulang tinggi. Ia mengantar Devi pulang setelah menenggak habis air mineralnya karena saking frustasi dengan pertanyaan Devi.
"Kakak mau masuk dulu?" tanya Devi. Dengan cepat Abi menggeleng.
"Kakak ... jadi ... mulai hari ini, kita ... pacarankah?" tanya Devi ragu-ragu.
"Ya Tuhan! Jebakan apa yang kau berikan padaku, haahh .... " rutuk Abi, telinganya terasa tersengat mendengar kata "pacaran".
Agar tidak lebih lama lagi ia berinteraksi dengan gadis polos itu akhirnya dengan cepat Abi mengangguk, membuat rona merah bersemu di wajah Devi.
Devi menggigit bibir bawahnya, malu-malu ia menatap Abi.
"Makasih kak" ucapnya.
"Oke .... " ucap Abi datar tanpa menatap wajah Devi. Ia langsung menjalankan motornya dan pergi dari hadapan Devi.
.
.
Abi masuk ke kamarnya setelah makan malam. Ia merebahkan tubuhnya di kepala ranjang. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Terbesit lagi di pelupuk matanya kejadian tadi siang.
"Kakak ... jadi ... mulai hari ini, kita ... pacarankah?"
"Astaga! Aku mengangguk saat itu, berarti .... " Abi meraup wajahnya.
Abi menghela nafas berat. Abi mengingat-ingat kembali wajah Devi.
"Cantik sih ... polos, bahkan terlalu polos" gumam Abi. Ia melirik jam di atas nakasnya, pukul sembilan malam, belum terlalu larut baginya tapi rasa kantuk telah menderanya menuntutnya untuk beringsut ke bawah selimut menjemput mimpi.
.
.
Pagi ini ada mata kuliah yang harus diikuti. Mata kuliah Micro Teaching. Salah satu mata kuliah yang terdapat di perkuliahan agar mendapatkan akta empat.
Abi menyalakan ponselnya. Semalaman ponselnya mati dan ia charge agar esok pagi bisa digunakan full baterai.
Ting! Bunyi notifikasi pesan whatsapp masuk.
Abi membuka icon whatsapp. Dahinya berkerut ketika ada pesan masuk dengan nomer baru yang belum ia kenali.
Abi meng-klik nomer itu.
"Hai kak, selamat pagi .... "
Pesan singkat yang membuat Abi mengkerutkan dahi lebih dalam.
"Nomer siapa ini?" gumam Abi. Ia tak lantas membalas, malah menghapusnya karena merasa tidak penting.
__ADS_1
"Bu, mas berangkat kuliah dulu, assalamualaikum!" seru Abi lantas menyalakan motornya dan melaju memecah jalanan.
.
.
Setelah selesai kelas Micro Teaching Abi langsung pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang lapar. Saat Abi tengah memakan somay pesanannya, Bagas datang menghampiri dan menepuk pundak Abi.
"Bro! Kemarin lu pergi ke mana? Banyak anak-anak baru yang patah hati gak ketemu lu tuh! Mereka mau mengejar tandatanganmu" ujar Bagas.
Abi tak menggubris omongan Bagas, ia fokus dengan aktivitas makannya. Sedangkan Bagas dengan santainya duduk di depan Abi.
Ting! Bunyi pesan pada ponsel Abi.
Abi melirik screen ponselnya yang menyala karena ada pesan masuk. Lagi-lagi nomer baru itu.
Abi mengusap ponselnya ke atas untuk membuka pesan itu.
"Hari ini kakak ke kampus gak?"
Isi pesan whatsapp pada nomer itu. Abi berpikir keras, mengingat kembali apakah ia pernah chatting dengan nomer itu. Namun hasilnya nihil, ia tak pernah merasa chat ataupun melakukan panggilan dengan nomer itu di ponselnya. Akhirnya ia membalas chat itu.
"Maaf, ini siapa ya?"
Tak lama kemudian, pesan balasanpun masuk.
"Ini aku kak, Devi. Kakak gak save nomerku?"
Kini ia baru teringat kejadian kemarin sebelum meninggalkan Devi di kosan nya. Devi meminta nomer whatsapp Abi, tapi karena ponselnya mati, maka ia tak bisa bertukar nomer ponsel, ia mengetikkan nomernya langsung di ponsel Devi.
"Wa dari siapa sih, Za? Heboh bener daritadi?" ucap Bagas yang penasaran dengan tingkah laku sohib di depannya itu.
"Bagas .... gue mau curhat sama lu" ucap Abi menggantung, ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Curhat? Apaan si? Lu kayak anak cewek aja pake curhat-curhat segala!" Bagas tertawa terbahak-bahak mendengar kata "curhat" dari sohibnya itu yang terkenal dengan sikapnya yang dingin sedingin gunung es.
"Gue serius, Gas!" seru Abi berusaha menghentikan tawa ejekan Bagas.
"Oke, oke, gue bakal dengerin tuan putri es mau curhat" ledek Bagas kembali. Sepertinya ia tak sebahagia ini meledek sahabatnya itu.
"Bangke lu! Gak jadi! Males gue!"
Abi bersungut-sungut kesal karena tak diangggap serius oleh sahabatnya itu.
"Yaelah, Za. Gitu aja ngambek, macam cewek banget lu! Iya gue serius dengerin nih. Jarang-jarang kan gue bisa mendalami isi hati pangeran es" ucap Bagas masih dengan cengengesan.
"Ngomong lagi lu, gue sumpel mulut lu pake sambal!" maki Abi saking kesalnya ia sampai mengangkat botol sambal di atas mejanya.
Bagas mengangkat tangannya bak menjadi tameng untuk wajahnya agar sambal tak jatuh di wajahnya. Akhirnya ia pun menghentikan ledekannya dan mulai fokus mendengarkan keluhan sahabatnya itu.
"Sebenarnya kemarin gue ada ... " belum selesai Abi bercerita, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Kak Reza! Aku chat kok gak dibales sih? Kakak gak save nomerku ya? Kenapa? Kakak masih marah ya?" bertubi-tubi pertanyaan keluar dari mulut mungil itu. Abi terperangah melihat kedatangan Devi yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Za! Siapa?" bisik Bagas sambil menyenggol kaki Abi dengan kakinya.
Tak terkecuali Bagas, ia pun ikut terperangah mendengar celotehan gadis di depannya itu.
"Devi, silakan duduk dulu ya, kita ngobrol di sini sebentar, oke?" pinta Abi sambil menarik lengan Devi pelan, menggiringnya agar duduk di sampingnya. Devi pun menurut, seperti biasanya. Ia bagaikan kerbau dicocok hidungnya, sangat penurut.
Abi menghela nafas sejenak, mengumpulkan keberanian di hatinya untuk memperkenalkan Devi pada sahabatnya.
"Oke, Bagas ... kenalin, ini Devi mahasiswi baru jurusan Tekhnik Informatika. Dia .... " Abi tak sanggup meneruskan kalimat terakhirnya yang memperjelas status mereka.
"Aku pacarnya kak Reza!" ucap Devi lantang. Dengan mimik muka yang sangat polos dan dihiasi senyum cerah bak mentari pagi.
Bagas seketika melotot. Ia menoleh ke arah bola mata Reza, mencari pembenaran dari ucapan ngawur gadis itu.
Seolah Abi memahami tatapan Bagas yang menuntut klarifikasi dari ucapan Devi, ia akhirnya membenarkan pengakuan Devi.
"Gue ... Dia ... Kita ... pac-pacaran" dengan susah payah Abi mengucapkan status mereka.
"What?! Za, becanda lu keterlaluan! Anak orang ini, lu apain sampe di cuci otaknya supaya jadi pacar lu? Bro, kita emang jomblo, tapi gak gitu juga kali ngelepas status jomblo dengan nyewa anak baru buat jadi pacar pura-pura lu! Parah lu, Za!" bagai petir di siang bolong Bagas menggeleng-geleng kepala tak habis dengan jalan pikiran Reza alias Abi.
"Gue bisa jelasin! Ceritanya panjang. Oke, gue cabut dulu ya. Ayo Devi, ikut gue!" ucap Abi tak ingin mendengar lebih banyak lagi celotehan Bagas. Ia sudah pusing dengan hanya memikirkan satu orang yaitu Devi, jadi ia tak mau menambah beban pikirannya lagi dengan memikirkan respon Bagas yang terlihat kecewa pada dirinya.
.
.
.
🌺 hai readers..
Quote for today :
Jomblo bukan kutukan
Jomblo adalah pilihan
So, tetep happy ya para jomblo
kelak pasti akan bertemu kok jodohnya
seperti "Dia..Jodohku" 😀
Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.
Author selalu berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...
Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers 🙏
Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya, bantu untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, jadikan novel ini sebagai novel favorite kalian ya terima kasih teman-teman...
babay....😘
Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕
__ADS_1