
>>now on Nisa<<
>>Masa lalu Abi kita skip dulu ye, mari kita tengok Nisa yang lagi ada di France<<
"Excuse me sir, may i get some help here" ucap Nisa pada lelaki di depannya.
Sudah tiga bulan ia tinggal di negara yang terkenal dengan menara Eiffel nya itu. Ia masih menyesuaikan diri dengan cuaca dan kehidupan sekitarnya termasuk menyesuaikan bahasanya. Meski belum terbiasa, ia terus berusaha belajar untuk menyesuaikan dari segala hal, termasuk kebiasaan dari warga Perancis yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya.
Nisa saat ini sedang berada di salah satu pasar tradisional di Perancis, Le grand marchΓ© du CENTRE-VILLE (place Leclerc , place Imbach). Pasar yang sangat berbeda dengan kebanyakan pasar tradisional di Indonesia.
Apalagi kalau bukan karena kebersihan dan kerapihan dari tatanan pasar tersebut. Seolah seperti berwisata ke suatu tempat dengan warna warni penjual berbagai barang dan bahan makanan yang berjejer rapi, sungguh satu kata yang keluar dari mulut pengunjung adalah extraordinaire (France).
Nisa kini tengah berbelanja kebutuhan makanan sehari-harinya. Sudah menjadi rutinitasnya selama tiga bulan ini, saat day off ia pergi ke sana untuk berbelanja.
"I'm sorry, can you speak English? I can't understand what are you talking about" ucap Nisa lagi. Ia sedang memilih beberapa buah apel untuk persediaannya selama seminggu dengan maminya.
Ya, maminya belum mau pulang ke Indonesia. Ia masih sangat cemas melepaskan Nisa sendirian di negeri orang. Rencananya barulah bulan depan, maminya pulang ke Indonesia.
"De combien de pommes avez-vous besoin ? " tanya laki-laki itu yang tak lain adalah penjual apel yang Nisa hendak beli.
"I'm sorry. In english please?" ucap Nisa lagi. Ia benar-benar frustasi berbicara dengan penjual asli daerah itu. Seorang laki-laki tua yang hanya bisa berbicara dengan bahasa Perancis. Ia tak bisa diajak berbicara bahasa inggris oleh Nisa.
"How much do you need this apple?" tiba-tiba seseorang membantu Nisa menerjemahkan perkataan bapak penjual apel itu.
Nisa menoleh ke arah laki-laki yang mengucapkan bahasa inggris tadi. Nisa sedikit mengerutkan dahi. Bagaimana tidak, laki-laki di hadapannya adalah Jono!
"Oh my God!" seru Nisa, ia mengucek matanya, memastikan siapa laki-laki yang ada di sampingnya itu.
"I'm sorry? What are you saying?" tanya laki-laki itu.
Dan ternyata laki-laki itu bukanlah Jono. Sungguh entah karena terlalu seringnya Nisa berkumpul dengan teman-temannya yang bule hingga tak bisa membedakan wajah mereka karena menurutnya wajah mereka semuanya sama "bule" nya.
"No. I'm just ... never mind" ucap Nisa tak ingin memperpanjang kesalahan matanya.
__ADS_1
"Oh, okey, Did I ever see you in some place that i ever come before?" ucapnya kemudian.
Nisa terdiam. Ia juga merasakan hal yang sama. Ia merasa pernah bertemu dengan laki-laki itu tapi entah dimana. Nisa mengangkat bahunya.
"Maybe i'm just dreaming you in somewhere" ia tertawa kecil.
Nisa melirik jam di tangannya. Sudah hampir tengah hari, ia harus bergegas pulang. Ia lantas mengambil dua buah apel dan menyerahkannya pada bapak penjual.
Bapak itu berbicara dalam bahasa Perancis lagi, namun kali ini Nisa memahami maksud dari bapak itu karena ia mengacungkan jarinya dan menyebutkan mata uang Perancis. Itu artinya dua apel yang ia pilih sudah ditotal oleh si bapak. Nisa kemudian mengeluarkan uang tiga Euro untuk membayar apel itu.
Tanpa mempedulikan lagi laki-laki di sampingnya, Nisa lantas beranjak pergi dari pedagang apel menuju jalan pulang.
"Assalamualaikum!" seru Nisa setelah membuka pintu rumahnya. Dikatakan bukan rumah seperti rumahnya yang ada di Indonesia sebab, rumah itu hanya bangunan kecil dengan kamar satu dan ruang tamu yang kecil berseberangan dengan dapur atau disebutnya mini pantry.
"Wa'alaikum salam, tumben pulangnya lama? Ada masalah di jalan?" tanya maminya. Ia mendekati anaknya dan membawakan kantong belanjaan yang dibawa Nisa.
"Iya, tadi pas beli apel, Nisa kesulitan berkomunikasi dengan bapak penjualnya" keluh Nisa sambil meneguk air putih yang ia tuang dari teko di meja dapur.
"Tadi ada laki-laki yang bantu Nisa menerjemahkan omongan si bapak" jelas Nisa, ia lantas membuka laptopnya yang ia letakkan di atas meja makan.
"Orang Indonesia?" tanya maminya lagi, masih belum terpuaskan rasa penasarannya.
"Bukan, gak tau orang mana. Yang jelas dia bule" ucap Nisa.
Maminya hendak bertanya lagi tapi buru-buru disela Nisa dengan kegiatan video call dengan sahabatnya. Ia sengaja memotong pembicaraannya dengan mami jika sudah menyangkut pembahasan "bule" pasti akan panjang obrolannya.
"Assalamualaikum Ocha sayang ... gimana kabar kamu? Aku kangen banget nih sama kamu!" ucap Nisa.
Lama mereka mengobrol melepas rindu, bercerita tentang keseharian mereka hingga tak terasa waktu bergulir. Tiap akhir pekan, Nisa selalu meluangkan waktunya untuk menghubungi Ocha. Pernah satu sabtu ia tak dapat menghubungi Ocha, karena Ocha sedang diajak mas Abi jalan-jalan, sehingga ia mundurkan jadwal telponnya menjadi esok harinya, hari minggu.
"Oh oke, lain kali aku vc kamu lagi ya. Selamat mengerjakan tugas dari dosen unyu-unyu, jangan begadang loh ya?!" ucap Nisa lalu mengakhiri sambungan nirkabel nya dengan Ocha.
"Nisa, ayo makan dulu! Mama udah masakin omlet dan sayur bayam. Meski rasanya tak seenak buatan mama di Indonesia, karena bumbu-bumbunya susah didapat di sini, tapi masih tetep enak kok" ucap maminya.
__ADS_1
Nisa merapikan laptopnya terlebih dahulu dan menyimpannya ke dalam kamarnya, lalu keluar lagi untuk menyantap makan bersama maminya.
"Ini enak kok mih. Masakan mami emang juara, meski kita tinggal di Perancis tapi masakan mami masih yang terbaik" ucap Nisa sambil mengacungkan dua jempolnya.
Maminya tersenyum lembut melihat anaknya tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Satu bulir air mata jatuh tanpa disadari oleh Nisa. Maminya tiba-tiba teringat suaminya karena melihat mata Nisa sangat mirip dengan mata almarhum suaminya.
.
.
.
πΊ hai readers..
For your information ya gaess :
π 1 Euro sama dengan 16.273,75Β Rupiah Indonesia (statistik untuk 30 mei 2020)
π Perbedaan waktu indonesia bagian barat dengan Perancis lebih cepat 5 jam. Artinya jika di Perancis jam 12 siang, maka di Indonesia bagian barat jam 5 sore
Kurang lebih mendekati akurat ya gaes part ini, baik dalam perhitungan Euro dan lain halnya π
Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.
Author selalu berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...
Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers π
Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya, bantu untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, jadikan novel ini sebagai novel favorite kalian ya terima kasih teman-teman...
babay....π
Lot's of love from Ro Miyoung ππ
__ADS_1