
>>author terus ya<<
Setelah mencuci tangan, Ocha dan Abi kembali duduk di sofa yang sama. Selama makan, mereka hanya diam terhanyut oleh pikiran masing-masing. Ocha dengan cekatan merapikan peralatan makan yang ada di atas meja.
"Ocha kesini naik apa? Mas kok tidak melihat motor Ocha" tanya Abi, ia mencoba membantu Ocha membereskan peralatan makan tadi, tapi buru-buru Ocha menolak halus. Menurutnya itu semua bagian dari pembelajarannya untuk terbiasa kelak jika sudah menikah.
Setelah lulus kuliah dan melewati berbagai kejadian, kini ia lebih belajar dewasa menyikapi hidup. Ia membuka lembaran baru, membuka pikirannya lebar-lebar tentang masa depan. Ia tak menampik kelak dalam waktu dekat ataupun lama, ia akan menikah suatu hari kelak.
"Tadi aku naik Grab bike, aku kesulitan membawa rantang makanan kalau mengendarai motor sendiri" ucap Ocha. Abi lantas melirik jam tangannya. Jam 1 siang. Satu jam lagi kegiatan belajar di sekolahnya selesai.
"Pulangnya nanti mas yang antar ya" ucap Abi. Ocha mengangguk.
"Ehm Ocha mau gak nunggu satu jam lagi di sini" ucap Abi ragu-ragu.
"Satu jam lagi? Ada apa?" Ocha belum paham maksud Abi.
"Iya jam pulang sekolah satu jam lagi, mas belum boleh pulang kalau belum jam 2, gak apa-apa kan nunggu satu jam lagi di sini?" ucap Abi. Ocha mengangguk lagi.
"Mas, aku boleh tanya sesuatu gak?" tanya Ocha tiba-tiba. Ada pertanyaan yang selalu mengganjal di hatinya, yang belum ia sampaikan pada Abi hingga detik ini.
__ADS_1
"Ocha mau bertanya tentang apa?" ucap Abi bertanya balik.
"Ehm.. apa alasan mas menerima dengan senang hati perjodohan kita? Sedangkan mas sendiri juga sudah tahu kalau aku sama sekali gak ada rasa sama mas" tanya Ocha hati-hati, ia tidak mau membuat Abi tersinggung dengan pertanyaannya.
Abi tersenyum, kemudian ia meraih tangan Ocha dan mendekatkannya ke dada bidang miliknya. Ocha tersentak kaget dengan tindakan Abi yang tiba-tiba itu.
"Ocha bisa merasakannya?" tanya Abi. Ocha terdiam, ia masih tidak mengerti maksudnya. Yang ia rasakan hanya debaran jantung Abi yang sangat kencang, sama halnya dengan dirinya.
"Mas tidak pernah bertemu dengan gadis manapun yang bisa membuat jantung mas berdebar sangat kencang. Hanya kamu seorang Cha. Itu hnyalah salah satu dari alasan mas menyetujui perjodohan kita" Abi kemudian melepaskan tangan Ocha.
"Tapi alasan yang paling utama adalah mas mau membahagiakan kedua orang tua kita. Mas merasa belum bisa membalas kebaikan orang tua mas, hanya dengan menyetujui perjodohan kita merupakan salah satu bentuk pengabdian mas pada orangtua mas. Mama dan papamu juga berharap perjodohan kita berjalan lancar. Mas tidak mau mengecewakan mereka" ucap Abi melanjutkan penjelasannya tentang alasan menerima perjodohan mereka.
Tanpa disadari, air mata Ocha jatuh. Ia sedih jika mengingat orang tuanya yang sedemikian sabar menghadapi tingkahnya yang kekanak-kanakan meski usianya sudah dewasa. Mama dan papanya selalu memenuhi kebutuhannya, mulai dari kebutuhan sehari-hari dan hingga kebutuhan perkuliahannya.
Ia teringat skuter biru miliknya. Ia yang dulu ngotot meminta pada papanya untuk membelikan skuter itu. Meski mamanya sudah melarangnya karena mama sangat menghawatirkan Ocha. Mamanya tidak mau Ocha terkena kecelakaan motor. Mamanya sangat tidak takut jika anak satu-satunya terjadi hal-hal mengerikan.
"Ocha kenapa nangis? Mas ada salah ngomong ya?" ucap Abi, ia bingung.
"Gak apa-apa mas, Ocha hanya merasa malu sama mas. Mas punya rasa ingin membahagiakan orangtua mas dan gak mau mengecewakan orangtuaku. Sedangkan aku sendiri yang sebagai anaknya malah egois memikirkan perasaan sendiri" ucap Ocha lirih.
__ADS_1
Abi mengurungkan tangannya yang hendak mengusap air mata Ocha yang jatuh di pipi karena mendengar suara bel pulang sekolah. Ia kemudian bergegas ke mejanya untuk mengemasi laptop dan beberapa buku ke dalam tas ranselnya.
"Sudah bel pulang sekolah, mas antar kamu pulang" ucap Abi sambil mengulurkan tangan ke hadapan Ocha. Ocha tersenyum lalu menggamit tangan Abi.
"Bisa gak senyum sekali lagi?" ucap Abi. Ia benar-benar kecanduan senyum Ocha.
Ocha mengernyitkan dahi bingung tapi kemudian ia memenuhi permintaan Abi. Ia tersenyum di hadapan Abi.
"Ahh..benar-benar senyum yang memabukkan" gumam Abi.
"Senyum kamu manis sekali Cha" ucap Abi. Ocha tersipu malu. Mereka keluar dari ruangan Abi.
Setelah mengunci pintu, Abi berjalan menuju parkiran motor, sedangkan Ocha mengikuti dari belakang.
"Siang pak Reza!" sapa murid yabg berpaasan dengan Abi.
"Ehem..ehem.. siapa tuh pak Abi? Pacarnya ya..?" ucap salah satu murid menggoda Abi.
"Yah kita jadi patah hati nih, sakitnya tuh di sini pak" ucap salah satu murid perempuan Abi. Abi hanya tersenyum sedangkan Ocha diam menahan malu diledekin oleh anak SMA.
__ADS_1
"Ayo naik!" ucap Abi agar Ocha segera naik motornya. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan rasa tidak suka. Sepasang bola mata dengan bulu mata yang lentik memperhatikan mereka mulai dari mereka keluar ruangan hingga melaju keluar sekolah dengan motornya.