
Hari sidang yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ocha mengenakan kemeja putih dan celana bahan panjang warna hitam. Rambut panjangnya ia biarkan terurai. Ia sudah siap menghadapi dosen penguji, ia yakin bisa menjawab semua pertanyaan yang di ajukan oleh dosen padanya.
.
.
Setelah semua perjuangannya yang sudah ia lewati. Semua tenaga, pikiran dan hati berbaur menjadi satu saat pembuatan skripsinya. Hati yang terkoyak karena ulah Doni yang kurang ajar mencampakkannya dengan alasan yang menjijikkan. Mentalnya terusik karena traumanya kambuh. Sungguh butuh banyak dukungan dalam melalui proses pembuatan skripsinya.
Tak bisa dipungkiri juga ada keterlibatan dari Abi. Ia tidak menampik bahwa Abi adalah laki-laki yang menjadi salah satu kekuatannya di tengah kekacauan hatinya.
"Selamat ya Cha, akhirnya kamu bisa lolos sidangnya" ucap Lina teman satu jurusan Ocha.
"Aku jadi tambah deg-degan nih, besok giliranku maju" ucapnya lagi.
"Tenang aja, semangat terus, pasti bisa!" ucap Ocha menyemangati temannya. Ocha berlalu menuju kantin kampus, ia sudah mengirim pesan pada Nisa untuk bertemu di kantin.
"Hei Cha! Di sini!" ucap Nisa melambaikan tangan pada Ocha, ketika melihat Ocha celingukan mencarinya.
"Selamat ya Cha, akhirnya perjuanganmu gak sia-sia" ucap Nisa terharu. Ia yang paling tau kesulitan yang dialami oleh sahabatnya itu. Nisa yang menjadi saksi tangisan Ocha saat Doni menghianatinya.
"Mau makan apa nih, aku traktir deh, sebagai ucapan rasa syukurku karena sudah lulus sidang" ucap Ocha.
"Asyiikk.. kita ke mall aja yuk, cari makan disana, sekalian aku mau mampir ke toko baju anak" ucap Nisa.
"Beli baju anak? Buat siapa?" tanya Ocha.
"Besok hari ulang tahun keponakanku, jadi aku mau ngasih kado baju buat dia" ucap Nisa.
Nisa berbeda dengan Ocha yang anak tunggal. Nisa memiliki dua kakak tiri. Meski sebenarnya bukan saudara kandung ia tetap menyayangi kakak-kakaknya. Ibunya menikahi duda beranak dua, saat itu usia anak dari ayahnya yang sulung berusia SMP.
"Buat Nadin ya?" ucap Ocha.
"Iya" ucap Nisa. Nadin adalah anak dari kakaknya yang kedua, usianya baru dua tahun.
__ADS_1
"Ya udah ayo, kamu yang nyetir motorku ya, aku masih pegel nih abis sidang hehee" ucap Ocha sambil menyerahkan kunci motornya pada Nisa.
"Lebay deh!" ucap Nisa lalu mereka berlalu menuju parkiran motor.
.
.
.
"Eh Nis, baju ini lucu banget nih, cocok deh kayaknya untuk Nadin" ucap Ocha sambil menunjukkan sebuah dres berpita di pinggang warna pink.
"Ya udah masukin ke keranjang, aku nyari topi dulu" ucap Nisa lalu berjalan ke lorong tempat topi.
"Nis, aku ke toilet dulu ya, kamu kalau sudah selesai belanja langsung ke food court aja dan wattsapp aku ya kamu di food court mana, oke?" ucap Ocha. Nisa mengangguk, Ocha langsung pergi terburu-buru ke toilet.
.
.
"Tahan sebentar lagi, aaahh...." terdengar suara lenguhan panjang, suara itu sedikit lebih keras dari sebelumnya. Ocha mengerutkan dahi, ia sedikit ragu, bergumam dalam hatinya apakah ia salah memasuki kamar mandi. Pasalnya suara yang ia dengar dari bilik kamar mandi tadi seperti suara laki-laki. Setelah beberapa saat pintu bilik kamar mandi terbuka.
"Astaga!" mata Ocha terbelalak, melihat pemilik suara di balik pintu kamar mandi tadi. Suara itu adalah Doni mantan pacarnya! Dan yang membuat Ocha terkejut setengah mati adalah ia menyaksikan adegan yang tidak bermoral di kamar mandi umum. Ocha benar-benar syok melihat pemandangan yang menodai matanya. Nampak jelas si gadis sedang mengancingkan bajunya dan memperbaiki rok mininya.
Doni juga tak kalah terkejut ternyata ia dipergoki oleh Ocha mantannya dalam keadaan sedang memuaskan nafsu birahinya. Meski sebenarnya ia sudah terbiasa melakukannya beberapa kali di kamar mandi umum, tapi selalu lolos tidak ketahuan orang lain. Kali ini ia melakukan kecerobohan, ia lupa mengunci pintunya karena sudah tidak tahan lagi melihat kemolekan tubuh pacarnya. Ditambah lagi pakaian yang dikenakan pacarnya menggugah naluri laki-lakinya.
"Dasar gila!" teriak Ocha lalu bergegas meninggalkan mereka yang masih merasa canggung karena ketahuan. Ocha setengah berlari keluar dari kamar mandi, nafasnya terengah-engah bukan karena terpicu oleh gerakan larinya. Tapi karena amarah yang memburu dalam dadanya. Perasaan marah, sedih, kecewa sekaligus jijik bercampur menjadi satu mengingat kejadian yang tadi ia saksikan.
Ia benar-benar tak menyangka bahwa Doni yang dulu ia kenal bisa melakukan hal menjijikkan di kamar mandi umum.
Dasar gila! Laki-laki bejat! Ocha menyumpah serapah dalam hatinya.
"Aduh!" ucap Ocha ternyata ia menabrak seseorang ketika sedang berjalan terburu-buru. Pikiran dan hatinya kalut sehingga ia tidak fokus menatap arah jalannya.
__ADS_1
"Maaf mba, saya tidak sengaja" ucap seseorang yang bertabrakan dengan Ocha tadi. Ocha mendongakkan kepalanya, menatap sumber suara yang ia rasa mengenalinya.
"Mas Abi?!" ucap Ocha setengah terkejut. Sungguh hari ini jantungnya dibuat kaget oleh serangkaian kejadian di mulai dari pagi hari saat menghadapi sidang.
"Ocha? Ngapain kam.." ucapan Abi terhenti karena Ocha langsung memeluknya. Abi kaget dengan sikap Ocha. Ia menjadi hawatir berlebihan apakah trauma Ocha kambuh lagi. Abi merasakan detak jantung Ocha sangat kencang, membuatnya semakin hawatir. Ia pun merasakan kemejanya basah dan mendengar isak tangis Ocha yang pelan.
Karena hal itu Abi membalas pelukan Ocha, ia merengkuh tubuh Ocha erat, mengusap kepalanya mencoba menenangkan gadis di hadapannya itu. Setelah beberapa saat, Ocha melepaskan pelukannya, ia malu dengan sikap impulsifnya. Ia merutuki sikap ketidaksadarannya langsung memeluk Abi. Abi yang paham bahwa Ocha sudah menyadari sikapnya kemudian menggamit tangan Ocha dan membawanya ke food court di mall tersebut.
"Minum dulu nih" ucap Abi menyodorkan air mineral yang tadi ia pesan di food court yang sekarang mereka duduki.
"Coba pelan-pelan cerita sama mas ada apa?" ucap Abi. Ia masih hawatir trauma Ocha kambuh lagi.
Ocha meminum air yang disodorkan Abi. Ia terdiam, enggan bercerita tentang kejadian yang tadi ia lihat di kamar mandi.
"Ya sudah kalau Ocha gak mau cerita sama mas, gak apa-apa. Mau pulang sekarang?" ajak Abi, ia seperti paham bahwa Ocha enggan menceritakan keadaannya. Ia menghormati privasi Ocha.
Ocha menggeleng lemah.
"Aku kesini sama Nisa" ucap Ocha.
"Nisa temen kampus kamu?" Ocha mengangguk, lalu mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
"Kamu dimana? Aku di food court steak ya" Ocha membaca pesan whatsapp dari Nisa. Ia kemudian menengok kanan dan kiri, celingukan mencari sosok Nisa.
Itu dia!
"Aku ada di food court ayam bakar nih, kamu kesini ya" Ocha membalas pesan dari Nisa. Tak lama kemudian Nisa datang ke tempat duduknya.
"Aku tungguin lam.." ucapan Nisa terhenti ketika melihat laki-laki yang duduk di depan Ocha.
"Em..mas yang dulu pernah ke kampus bareng Ocha kan ya? Tunangannya Ocha kan?" tanya Nisa mengingat-ingat wajah Abi.
"Iya saya Abi" ucap Abi membantu Nisa mengingat namanya.
__ADS_1
"Nis kamu gak apa-apa kan kalo makan di tempat ini aja?" ucap Ocha memelas.
"Kamu kenapa Cha? Mukamu lesu gitu?" selidik Nisa melihat muka Ocha yang kusut dan mata Ocha yang merah.