Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 27


__ADS_3

>>author deui<<


Ocha sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah Abi, ia membawa bekal makan siang yang dibuatkan mamanya untuk Abi.


"Eh ketemu mbak lagi di sini. Mau ngasih makanan lagi ya buat Ucup" cengir anak laki-laki yang dulu pernah Ocha temui saat pertama ke sekolah Abi.


"Enak aja lo! Eh Tong anterin gue dong ketemu pak Abi!" ucap Ocha.


"Ye si mbak ngeyel nih, dibilangin gak ada yang namanya pak Abi di sini, kagak percaya banget sih!" sungut si Ucup.


"Ya udah anterin gue ke ruang guru, gue mau nyari sendiri orangnya!" ucap Ocha.


"Imbalannya apa kalau gue bantuin mbak?" ucap si Ucup


"Gue kasih duit lima ribu, mau gak?" ucap Ocha, sebal juga ia pada anak itu.


"Lima ribu? Duit segitu buat apaan? Kagak kenyang buat jajan sih" sanggah si Ucup.


"Terus lo maunya berapa?" Ocha mulai kesal.


"Lima puluh ribu!" ucap si Ucup sambil mengacungkan kelima jari tangannya. Ocha melotot.


"Ogah! Mending gue cari sendiri!" kilah Ocha.


"Penawaran terakhir nih, sepuluh ribu, mau gak?! Kalau nggak mau gue masuk sendiri" ucap Ocha masih meladeni si Ucup.


"Ya ya ya.. oke deh deal! Si mba pelit banget ya" sambil bersungut-sungut ia akhirnya mengantarkan Ocha ke ruang guru.


"Tuh ruang gurunya, gue anter mbak sampe sini saja, mana uangnya?!" ucap si Ucup sambil menadahkan tangan di hadapan Ocha.


"Gak mau!" tolak Ocha.


"Kok gak mau sih mbak?! Kan tadi kita udah deal!" ucap Ucup kesal.

__ADS_1


"Tadi kan perjanjiannya anterin gue sampai ke ruang guru, ini kan masih di tengah jalan, belum nyampe depan pintu" ucap Ocha.


"Yah si mbak ngajak ribut nih, mana mungkin gue ke sana, entar gue ketangkep, kan gue lagi bolos pelajaran! Buruan sini duitnya!" ucap si Ucup sedikit memaksa. Ocha masih bersikeras tidak mau memberikan uang untuk Ucup.


"Yusuf!" bentak seseorang. Sontak Ocha dan Ucup menoleh ke arah sumber suara.


"Ocha? Ngapain ke sini?" tanya seseorang itu ternyata Abi.


"Mas Abi, ehm aku disuruh mama nganterin makan siang" ucap Ocha malu-malu.


"Mbak namanya bukan Abi, ini tuh guru saya namanya pak Reza" ucap Ucup masih belum paham situasi.


"Yusuf kamu ngapain ada di luar kelas?! Sekarang masih ada pelajaran" sentak Abi.


"Ehm..anu..tadi mau.." ucap si Ucup terbata-bata.


"Dia mau bolos mas!" Ocha memotong ucapan si Ucup lalu menjulurkan lidahnya pada si Ucup.


"Yusuf cepat kamu masuk kelas!" perintah Abi.


"Uang? Uang apa?" tanya Abi heran. Ia kemudian bertanya pada Ocha, uang apa yang dimaksud si Ucup.


"Kamu bapak hukum membersihkan wc guru!" ucap Abi. Ia merasa marah pada kelakuan muridnya itu yang berani meminta upah karena menunjukkan ruang guru pada Ocha.


"Kok saya di hukum sih pak?!" tanya si Ucup protes. Ocha juga merasa bingung kenapa Abi menghukum si Ucup.


"Kamu bapak hukum karena sudah bersikap tidak sopan pada tamu bapak!" ucap Abi menyuruh si Ucup untuk kembali ke kelasnya.


.


.


"Ayo masuk Cha, ini ruangan mas, kita ngobrol di sini saja" Abi membawa Ocha ke ruangan tempat ia berkutat sebagai guru komputer. Ruangan itu terletak di sebelah Lab komputer. Abi jarang sekali bergabung dengan guru yang lain di ruang guru, karena tugasnya yang padat mengurusi perangkat komputer membuatnya terkadang tak sempat berinteraksi dengan guru yang lain.

__ADS_1


Ocha mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Satu buah sofa panjang dan meja kaca yang di atasnya ada vas bunga plastik menyambutnya setelah membuka pintu ruangan itu. Nampak rapi semuanya, bahkan buku-buku pun di tata sangat rapi di atas meja kerjanya.


Abi memang menyukai suasana rapi dan bersih. Ia selalu membereskan alat-alat komputernya setelah selesai memakainya. Ocha duduk di sofa panjang ruangan itu. Ia masih mengedarkan pandangan pada ruangan itu, di sudut ruangan ada lorong kecil yang mengarah pada pintu kamar mandi.


"Ada apa Ocha ke sekolah mas? Oh ya kamu kenal dengan Yusuf? Sepertinya kalian sudah saling kenal sebelumnya" tanya Abi. Ia duduk di samping Ocha. Tercium aroma maskulin Abi dari jarak sedekat ini.


"Ah iya, aku mau memberikan ini, makan siang untuk mas Abi. Ini yang kedua kalinya Ocha mengantar makanan untuk mas ke sekolah ini" Abi mengerutkan dahi.


"Kedua kali? Yang pertama kalinya kapankah?" gumam Abi pelan. Ia mencoba mengingat kapan Ocha pertama kali ke sekolahnya.


"Yang pertama aku gak ketemu mas, aku ketemunya sama si Ucup. Waktu itu si Ucup juga kebingungan dengan nama Abi. Katanya gak ada pengajar atas nama Abi, jadi Ocha pulang lagi dan memberikan makan siang mas untuk si Ucup" jelas Ocha. Ah! Abi akhirnya mengingat kejadian waktu si Ucup menanyakaan nama pak Abi dan membawa bekal ke dalam kelas.


"Mas masih sibuk mengajar gak?" tanya Ocha.


"Jam mengajar mas sudah selesai, emang kenapa?" tanya Abi. Ocha lantas membuka rantang yang tadi ia bawa. Menatanya di atas meja. Abi hanya diam, menyaksikan perlakuan Ocha yang membuat hangat hatinya.


"Mas mau yang mana lauknya?" tanya Ocha, ia sudah menuangkan nasi di piring yang ia bawa dari rumah.


"Lauk manapun mas suka asal disuapi Ocha" goda Abi yang membuat wajah Ocha merona. Abi tersenyum, ia merasakan debaran jantung yang semakin kencang jika dekat dengan Ocha terlebih sekarang Ocha sedang belajar membiasakan diri dekat dengannya.


Ocha menuangkan tumis buncis sedikit ke atas nasi lalu mengambil ikan goreng.


"Mas mau cuci tangan dulu ya" ucap Abi lalu berdiri menghampiri wastafel yang ada di depan kamar mandi. Ocha menyusul di belakangnya.


Abi heran, kenapa Ocha masih memegang piring yang sudah diisi nasi dan lauk. Bukankah ia tadi menyiapkan piring itu untuknya? Seperti sebuah kejutan manis, Ocha menyuapkan nasi ke depan mulut Abi. Abi terkejut, ucapannya yang tadi sebenarnya hanya gurauan untuk menggoda Ocha saja. Tak disangka ternyata Ocha menanggapinya seperti sebuah perintah.


"Kenapa diam? Buka mulutnya dong kalau mau makan" ucap Ocha, ia sekuat tenaga menahan rasa malunya saat ini. Ia belum pernah menyuapi siapapun selama hidupnya. Ia melakukannya pada Abi karena ia merasa sudah berjanji akan belajar membiasakan diri pada sosok Abi.


"Maaf aku menyuapi mas pakai tangan kosong tanpa sendok, karena ikannya tidak bisa di koyak menggunakan sendok" Ocha benar-benar sekuat tenaga menahan rasa malunya sehingga yang terlihat wajahnya yang semakin memerah. Abi lantas menarik tangan Ocha dan mendekatkannya ke mulutnya.


Saat tangan Ocha bersentuhan langsung dengan bibir Abi, ada gelenyar rasa geli dalam hatinya. Seperti sebuah setruman kecil yang mencubit batinnya. Ia sontak menarik tangannya dan menghentikan menyuapi Abi, ia tidak kuat dengan rasa aneh yang menerpa tubuhnya.


"Ehm maaf mas, mas lanjut makan sendiri saja ya, aku.." ucap Ocha kikuk, ia hawatir Abi kecewa padanya. Abi mengerti dengan sikap Ocha. Ocha pasti pertama kalinya melakukan skinship dengan lawan jenis, sebab Abi juga merasakan hal yang sama. Ia merasa ada getaran aneh yang mengendalikan tubuhnya sehingga terus memompa debaran jantungnya.

__ADS_1


"Iya gak apa-apa, kamu makan juga dong, mau mas suapin?" ucap Abi, Ocha menggeleng cepat. Abi kemudian melanjutkan makannya. Ocha mengambil nasi dan lauk untuk ia makan sendiri.


__ADS_2