Dia.. Jodohku

Dia.. Jodohku
Bab 61


__ADS_3

>>author<<


"Permisi pak, mencari siapa?" tanya Abi sopan.


Laki-laki itu membalikkan badannya. Dan ternyata ....


"Cha, ayo kita berangkat! Kok bengong?" tanya Abi menghampiri Ocha yang masih berdiri mematung di balik pintu rumahnya.


"Tadi siapa mas?" tanya Ocha setelah kesadarannya kembali ke raganya.


"Oh tadi, bapak tadi kurir ekspedisi. Dia mau kirim paket ke alamat atas nama bapak Marwan. Mas, bilang salah alamat, di sini kediaman bapak Irawan. Bener 'kan mas bilang begitu?" tanya Abi. Ocha mengangguk.


"Oh, kirain .... " lanjut Ocha menggantung.


"Kirain siapa? Terus Ocha kenapa dari tadi bengong aja? Ada apa sih? Mas jadi bingung" ucap Abi.


"Nanti aja aku ceritanya pas kita udah jalan, ayok mas! Udah hampir mau masuk jadwalku nih!" ucap Ocha tergesa-gesa keluar rumah. Abi yang sedari tadi bingung, akhirnya menurut saja bergegas menyusul Ocha.


.


.


"Jadi sebenarnya ada apa? Tadi Ocha diam saja di dalam rumah dan gak mau menemui bapak ekspedisi itu? Ocha punya hutang dengan pihak ekspedisi?" tanya Abi sambil tetap fokus menyetir motornya.


"Ish ... apaan sih mas!" Ocha memukul pundak Abi.


"Ocha gak ada hutang sama pihak manapun, Ocha kira yang datang bukan bapak ekspedisi, melainkan dia" ucap Ocha.


"Dia? Dia siapa?" tanya Abi semakin bingung.


"Jadi gini mas, ... " Ocha menceritakan kejadian kemarin saat dirinya dikejutkan oleh kedatangan pak Aditya ke rumahnya pagi-pagi sekali lalu mengajaknya sarapan bersama di warung nasi Jamblang.


"Perhatian banget dosenmu itu, Cha!" ucap Abi dengan nada menyindir.


"Mas cemburu ya?" goda Ocha. Tapi Abi sedang tak ingin bergurau, hatinya sedang panas mendengar ada laki-laki lain yang berani mengajak calon istrinya makan bersama.


"Lain kali, Ocha harus tolak ajakan dia untuk makan bareng lagi. Mas gak mau Ocha terlalu dekat dengan dosen itu!" ucap Abi. Nadanya mungkin terdengar datar-datar saja, tapi bagi Ocha, ucapan Abi seperti sebuah peringatan keras agar dirinya meminimalisir intensitas pertemuannya dengan dosen itu.

__ADS_1


"Bagaimana caranya aku menghindari dosen itu?" batin Ocha.


Setelah memakan waktu perjalanan dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di depan kampus.


"Mas, Ocha turun di sini aja" ucp Ocha seketika menepuk pundak Abi bak menepuk tukang ojek. Abi yang memang hatinya sedang sensitif karena cerita Ocha yang makan bersama dengan laki-laki lain, sontak mengerem mendadak secara kasar membuat tubuh Ocha terbentur punggung keras Abi.


"Aduh ... !" seru Ocha karena kepalanya terbentur helm Abi.


Abi diam tak merespon seruan Ocha. Hatinya masih bergolak karena cemburu.


"Mas, makasih udah anterin Ocha. Ini helmnya" ucap Ocha sambil menyerahkan helm pada Abi.


"Sama-sama ... !" ucap Abi ketus. Ia menerima helm dari Ocha tanpa menatap wajah Ocha. Lalu menyalakan mesin motornya dan meninggalkan Ocha yang berdiri mematung merasa bersalah.


"Mas Abi pasti marah sama aku. Ya sudahlah ... nanti aku telpon dan minta maaf setelah jadwal mengajarku selesai" lirihnya lalu berjalan memasuki area kampus.


.


.


"Untuk tugas individual pada pertemuan kita selanjutnya, silakan kalian cari informasi tentang deret Fibonacci. Tugas bisa kalian kirimkan melalui email saya. Saya tunggu dua hari sebelum pertemuan kita selanjutnya. Terima kasih, kelas kita akhiri sampai di sini. Assalamualaikum!" Ocha mengakhiri sesi kelasnya dengan lancar, meski sebenarnya selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pikirannya sangat terganggu dengan ekspresi Abi saat tadi mengantarnya.


Baru saja Ocha mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, seseorang yang ia kenali menghampirinya.


"Selamat sore Ocha ... !" suara barito yang ia kenali akhir-akhir ini membuat Ocha menghentikan menekan tuts pada ponselnya dan menoleh ke arah sumber suara.


"Anda mau kemana buru-buru? Saya belum menerima laporan hasil mengajar anda hari ini" ucap pak Aditya.


"Bener-bener kayak hantu nih orang! Nongol tiba-tiba, nagih laporan pekerjaan secepat kilat begini" Ocha mendengus kesal.


"Mohon ijin pak, saya ada keperluan mendadak" ucap Ocha berusaha menghindari Aditya.


"Saya kira, anda bisa bekerja profesional. Bisa memilah mana yang harus diutamakan dan tidak mencampur adukkan dengan urusan pribadi" ujar Aditya sinis.


Sontak Ocha yang tadinya ingin bergegas meninggalkan Aditya, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ocha menggertakkan giginya tanda geram kemudian membalikkan badan dan menghampiri Aditya.


"Saya selalu bersikap profesional, pak! Karena itu, saya selalu disiplin tepat waktu" ucap Ocha penuh penekanan.

__ADS_1


"Oh, bagus! Kalau begitu anda juga bisa profesional menyelesaikan laporan saat ini juga di kantor saya" ucap Aditya sembari melengos meninggalkan Ocha.


"Nisaaa!!! Dosen ini bener-bener gila!" teriak Ocha dalam hati. Ia kini menyesal menerima tawaran Nisa untuk menggantikannya memenuhi posisi asisten dosen.


Dengan menghentakkan kakinya, akhirnya Ocha mengikuti Aditya menuju kantornya.


"Silakan duduk dek Ocha .... " ucapnya mempersilakan Ocha duduk di hadapannya. Panggilan Aditya pada Ocha selalu berubah-ubah, mengikuti suasana hatinya. Kali ini hati Aditya sumringah karena bisa berlama-lama dengan Ocha di kantornya.


Ocha duduk dengan penuh emosi. Ia sudah lelah dan ingin segera pulang, tapi tak bisa dilakukannya karena dosen tengil ini menahannya dengan alasan harus membuat laporan harian sekarang juga.


"Dek Ocha, mau minum apa?" ucap Aditya. Matanya tak lepas melucuti kecantikan wajah Ocha. Tiap jengkal dari wajah Ocha, tak tertinggal sedikitpun dari tatapan matanya.


Ocha bergegas menyelesaikan tugas laporan yang diminta, tanpa menghiraukan tawaran ramah tamah Aditya. Ia ingin segera pulang dan menelpon Abi.


"Hm ... baiklah kalau tidak mau minum. Rugi sendiri ya ... " ucap Aditya.


Ocha memutar bola matanya jengah. Ia mengisi setiap kolom pada lembar kertas laporan dengan sangat cepat. Ingin segera menyudahi berdekatan dengan dosen menyebalkan itu.


Sedangkan Aditya nampak senang. Ia menyecap kopinya dengan sebelumnya menghirup aroma kopi di cangkirnya. Ia sangat menikmati berhadapan dengan Ocha. Tanpa sengaja, Aditya menatap jemari Ocha yang telah terisi oleh sebuah cincin. Aditya mengerutkan keningnya, berfikir sejenak.


"Apakah cincin itu, cincin bermakna ataukah hanya hiasan di jemarimu semata?" tanya Aditya akhirnya karena rasa penasarannya.


"Saya rasa itu bukan urusan bapak! Aku tak perlu menjelaskan kehidupan pribadiku kepada bapak. Bukankah bapak menginginkan sikap profesional saya?" ketus Ocha sudah tak bisa menahan emosi di dadanya.


🌺 hai readers..


Seriusan sebagai author yang menciptakan tokoh Aditya juga berasa jengkelnya sampe ke ulu hati, bagaimana dengan Ocha ya? Yang mengalaminya sendiri. Oh ya, babang ganteng Abi cemburunya berlebihan deh. Moga cepet baikan ya, supaya tak ada celah buat diisi oleh pelakor atau pebinor.


Terima kasih karena sudah setia menemani perjalanan Ocha dan Abi.


Saat ini author sedang berusaha untuk bisa up setiap hari, mohon readers mau bersabar menanti Ocha dan Abi up ya, terima kasih ...


Berusaha terus memperbaiki tulisan author supaya layak dibaca oleh readers 🙏


Oke gaess jangan lupa jempolnya dimainkan ya, bantu untuk like, komen dan votenya ya teman-teman, jadikan novel ini sebagai novel favorite kalian ya terima kasih teman-teman...


babay....😘

__ADS_1


Lot's of love from Ro Miyoung 💕💕


__ADS_2