Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Sigit Berkilah Bahkan Mengancam


__ADS_3

Hingga pada akhirnya, Bu Ari pun berkata," Ella, ibu minta maaf atas kesalahan ibu. Ibu janji akan memperbaiki kesalahan dengan mengatakan yang sebenarnya pada suamimu, supaya Pak Rangga bisa mengerti dan tak salah paham lagi."


"Alhamdulillah... baiklah ibu.. bagaimana pun ibu adalah ibu kandungku, jadi aku takkan bisa marah terlalu lama. Semoga saja, Mas Rangga mau mendengarkan dan percaya apa yang ibu katakan. Karena kita tak punya barang bukti yang kuat untuk membuktikan jika semua ini adalah ulah, Sigit."


Ella agak lega pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya. Ia sangat berharap jika pengakuan ibunya nanti benar-benar bisa membuat hubungan dirinya dengan suaminya kembali harmonis seperti sedia kala.


******


Malam menjelang, inilah saat yang telah ditunggu oleh Bu Ari dan juga Ella. Di sela selesai makan malam, bu Ari meminta waktu sebentar kepada Rangga untuk berbicara.


"Pak Rangga, aku minta waktunya sebentar untuk berbicara ya? mumpung di sini ada Ella dan juga, Nak Sigit," ucapnya dengan rasa agak cemas.


"Katakan saja apa yang ingin Ibu katakan, tak usah meminta izin seperti ini. Tapi waktuku tidak banyak karena aku lelah dan ingin segera beristirahat," ucap Rangga ketus.


Bu Ari pun mulai menceritakan perihal tentang kejadian pada saat di mana Ella kedapatan bersama dengan seorang pria di kamarnya. Bu Ari mengatakan bahwa itu semua adalah rekayasa dari Sigit, karena ia ingin memisahkan Ella darinya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Ari, Sigit pun terbakar api kemarahan. Ia langsung saja menghardik Bu Ari. Padahal Bu Ari belum selesai dalam berbicara.

__ADS_1


"Bu, kenapa aku yang di salahkan dalam hal ini? astaga...pah.. lihatlah ibu dan anak saling bekerja sama. Aku nggak terima, pah! ini sama saja pencemaran nama baik, jika memang ini rencanaku atau rekayasaku. Lantas apakah ibu punya bukti yang kuat untuk di tunjukkan pada, Papah? jangan hanya omongan saja!" bentak Sigit kesal.


"Nak Sigit, aku memang tidak punya bukti untuk membuktikannya pada Pak Rangga, tetapi aku berkata jujur. Awalnya Nak Sigit memintaku bekerja sama untuk memberikan obat tidur pada minuman Ella. Lantas menjebaknya dengan pria lain supaya seolah-olah Ella telah berselingkuh dengan pria itu hingga Pak Rangga akan menceraikan Ella. Tapi pada waktu itu, Ella tak lekas meminum jus yang telah aku bubuhi obat tidur. Hingga pada akhirnya, Nak Sigit yang membekap mulut Ella dengan sapu tangan yang sudah di bubuhi obat bius. Hingga Ella tak sadarkan diri."


"Nak Sigit membawa Ella ke kamarnya, dan juga meminta pria bayaran Nak Sigit untuk tidur di samping Ella. Dan setelah itu Nak Sigit menelpon, Pak Rangga. Awalnya aku diam, karena Mak Sigit berjanji setelah Ella berpisah dari Pak Rangga, Nak Sigit yang akan menikahinya."


"Terutama pada saat aku tahu dan aku merasakan jika Nak Sigit tidak tulus. Aku ragu akan hal itu, dan aku merasa bersalah pada Ella dan juga Pak Rangga. Pak Rangga, aku mohon percayalah jika saat ini Ella benar-benar mengandung anakmu."


Rangga memicingkan alisnya, ia belum sepenuhnya percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh bu Ari kepadanya, karena memang tidak ada bukti yang kuat untuk percaya dengan pengakuan dari Bu Ari tentang kejahatan yang dilakukan oleh Sigit.


"Maafkan saya, Bu Ari. Saya tidak bisa percaya begitu saja dengan segala yang Ibu katakan tentang anak saya. Kecuali memang ibu atau Ella memiliki bukti yang kuat tentang segala yang dilakukan oleh Sigit tersebut. Tapi nyatanya kalian berdua tidak memberikan bukti apapun bukan?" ucap Rangga seraya bangkit dari duduknya dan berlalu pergi begitu saja dari ruang makan.


"Sigit, apa salahku padamu? kenapa kamu ingin memisahkan aku dengan papahmu?" tanya Ella heran dengan sikap Sigit yang kesannya sangat benci pada, Ella.


"Asal perlu kamu tahu ya, Ella. Awalnya aku itu sangat mencintaimu dan aku cemburu dengan segala perhatian yang kamu berikan pada, papah."


"Bahkan serangkaian kejadian yang menimpa papah dan dirimu itu adalah perbuatanku, untuk memisahkan kalian berdua. Dari kecelakaan mobil yang dialami oleh papah dan juga penusukan yang dialami olehmu. Itu semua aku lakukan awalnya untuk menyingkirkan papah dan supaya aku bisa memilikimu seutuhnya."

__ADS_1


"Tetapi setelah aku melihat tingkahmu padaku begitu dingin dan ketus tidak ada lembutnya sama sekali, sejak saat itu aku membenci dirimu dan ingin membuatmu tersingkir dari kehidupan Papah."


"Bahkan aku ingin menyingkirkanmu dari rumah ini secepatnya karena aku merasa terhina oleh kelakuanmu terhadapku! kamu bisa bersikap manis dan lembut terhadap papah, tetapi terhadapku kamu selalu jutek dan ketus jika diajak bicara. Dan ini sangat menyakitkan bagiku."


"Lihatlah Ella, dan kamu Bu Ari. Aku tidak akan tinggal diam setelah apa yang Bu Ari katakan barusan pada papah. Aku akan lebih lagi berusaha sekuat tenagaku untuk bisa membuat kalian tersingkir secepatnya dari rumahku ini."


Setelah mengatakan banyak hal kepada Ella dan juga Bu Ari, Sigit pun segera pergi dari ruang makan tersebut dengan penuh kemarahan dan kebencian.


Bu Ari langsung panik dan ia sangat ketakutan dengan segala ancaman yang dikatakan oleh Sigit," Ella, apa nggak sebaiknya kita pulang kampung saja? ibu takut jika nanti, Nak Sigit berbuat nekat melukaimu dan melukai calon anakmu. Ibu tidak mengkhawatirkan diri Ibu, tetapi yang Ibu khawatirkan dirimu yang saat ini sedang hamil."


Ella mencoba tersenyum, walaupun di dalam hatinya ia juga ada rasa cemas dan khawatir setelah mendengar ancaman dari Sigit. Tetapi ia berusaha menghibur ibunya supaya tidak khawatir dan tidak terlalu cemas.


"Tak usah begitu panik dan cemas seperti ini, kita serahkan saja permasalahan kita sepenuhnya kepada Allah. Yakinlah bahwa ia akan selalu menjaga kita terutama menjagaku dan calon anak yang ada di dalam kandunganku ini."


"Aku sangat yakin Bu, Allah telah meletakkan benih di dalam rahimku berarti ia juga akan menjaganya supaya anakku selalu sehat, terhindar dari segala marabahaya."


Bu Ari merasa iba dan sangat bersalah kepada Ella karena selama ini ia tidak merestui hubungan pernikahan antara Ella dan Rangga," Ella, sekali lagi Ibu minta maaf atas segala kesalahan dan dosa Ibu selama ini padamu ya, nak."

__ADS_1


Ella pun mengangguk pelan seraya tersenyum kepada ibunya.


__ADS_2