
Esok harinya Rama segera ke kantor polisi, karena dia sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui hasil cek laboratorium dari cairan obat yang ada di dalam botol.
Pada saat sampai di kantor polisi, Rama sempat terperangah pada saat mendengar penjelasan dari salah satu aparat kepolisian yang telah menerima hasil dari cek laboratorium.
"Tuan Rama, hasil cek laboratorium dari cairan obat yang ada di dalam botol itu sudah keluar. Dan ini membuktikan bahwa cairan tersebut mengandung senyawa yang berbahaya, serupa dengan racun yang sangat mematikan. Apabila dikonsumsi oleh manusia bisa mengakibatkan kematian," ucap sang aparat kepolisian yang sedang bertugas.
"Astaghfirullah aladzim, berarti niat Mery ingin menyingkirkan Mamah saya pak polisi. Saya tidak bisa menerima semua ini saya harap pihak kepolisian bisa bersikap tegas dengan memberikan hukuman yang setimpal dengan apa yang telah dilakukan oleh Mery. Ini sama saja dengan rencana pembunuhan,' ucap Rama kesal.
"Tenang saja, Tuan Rama. Kami sebagai aparat hukum akan menindak tegas dengan perilaku tersangka, dan saat ini juga kami akan melakukan persidangan untuk masa hukuman dari tersangka. Dan sebentar lagi status bukan tersangka tetapi sebagai pelaku kejahatan," ucap aparat kepolisian.
"Baiklah, pak polisi. Saya percaya dengan kinerja aparat hukum di tempat ini. Jalau boleh saya tahu kira-kira jam berapa akan dilakukan persidangan untuk masa hukuman dari si pelaku?" tanya Rama.
"Kami belum bisa memastikannya, tepatnya jam berapa akan dilakukan persidangan tersebut. Karena saat ini kami sedang menunggu orang tua dari si pelaku yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju kemari," ucap aparat kepolisian.
Rama memutuskan untuk menunggu di kantor polisi tersebut karena dia tidak ingin memakan waktu dengan berbolak-balik pulang ke rumah dan kembali lagi ke kantor polisi.
Satu jam....
Dua jam....
Tiga jam.....
Akhirnya orang tua Mery sampai jumpa di kantor polisi tersebut mereka langsung menemui, Rama. Dengan keinginan ingin meminta belas kasih Rama, untuk mencabut tuntutannya terhadap Mery supaya anak mereka tidak masuk ke dalam penjara.
"Nak Rama, kami mohon maaf belas kasihmu untuk mencabut tuntutanmu terhadap Mery. Kami sebagai orang tuanya meminta maaf atas segala kesalahan yang dilakukan anak kami terhadap, Mamah Nak Rama."
"Kami pastikan anak kami tidak akan melakukan hal buruk lagi terhadap keluarga, Nak Rama. Kami akan membawanya kembali ke luar negeri supaya dia tidak berulah lagi di sini."
__ADS_1
Namun Rama sama sekali tidak menanggapi permintaan dari orang tua Mery. Dia tetap pada pendiriannya, untuk menjebloskan Mery ke dalam penjara.
"Maafkan Saya, Om-Tante. Saya tidak bisa memaafkan kesalahan Mery yang terlalu fatal. Bukan hanya sekali, dua kali dia ingin mencelakai Mamah saya."
"Asal om dan tante tahu, pertama sekali Merry mencelakai mamah sampai membuat Mamah saya cedera hingga tidak bisa berjalan untuk jangka waktu yang cukup lama."
"Pada waktu itu saya telah berhasil menemukan saksi tetapi sayangnya saksi tersebut meninggal dunia dan saya belum sempat merekam semua ucapannya, sebagai barang bukti untuk menjebloskan dia dalam penjara."
"Untuk kali ini saya tidak akan membiarkan Mery berkeliaran lagi, karena saya tidak ingin nyawa Mamah saya terancam bahaya."
"Negara ini adalah negara hukum, Om-Tante. Jadi setiap apapun perbuatan jahat yang telah dilakukan oleh seseorang harus menerima konsekuensinya, harus mau menerima hukuman yang akan diterimanya."
"Jika setiap penjahat melakukan kesalahan hanya diberi permintaan maaf saja, suatu saat nanti pasti ia akan melakukannya kembali. Tetapi jika suatu penjahat yang telah melakukan kejahatan diberi sebuah hukuman, itu bisa membuatnya jera dan tidak melakukan kesalahan yang sam lagi."
Setelah mendengar panjang lebar apa yang dikatakan oleh Rama, orang tua Mery tidak bisa membujuknya lagi untuk mencabut tuntutannya terhadap, Mery.
"Seharusnya Om tidak perlu meminta izin padaku jika ingin bertemu dengan Mery. Tetapi Om meminta izinlah pada aparat kepolisian yang saat ini sedang bekerja. Karena mereka yang mempunyai wewenang tentang hukum yang berlaku," ucap Rama.
"Baiklah, Rama."
Saat itu juga orang tua Mery melangkah ke salah satu meja petugas aparat kepolisian dan dia meminta izin untuk sejenak bisa bertemu dengan, Mery.
"Mery kenapa kamu melakukan hal seperti ini? apakah kamu tidak memikirkan perasaan kami sebagai orang tuamu?" ucap Papahnya.
"Iya Mery, seharusnya sebelum kamu bertindak, pikirkan segalanya. Memikirkan sebab dan akibat dari perbuatan yang akan kamu lakukan. Jangan langsung mengambil tindakan seperti ini," ucap mamahnya.
"Apalagi ini perbuatanmu yang kedua kalinya. Kami sama sekali tidak menyangka, jika perbuatanmu sungguh keji terhadap, Tante Berta.
__ADS_1
"Percuma kamu mendapatkan pendidikan yang tinggi bahkan di luar negeri, tetapi kelakuannya ini tidak mencerminkan orang yang berpendidikan. Kamu ini seperti seorang anak jalanan saja."
"Secara langsung kamu telah mencemarkan nama baik kami di kancah perusahaan. Karena permasalahan seorang lelaki saja kamu ingin menghabisi nyawa seseorang bahkan itu bukan terjadi satu kali saja, melainkan dua kali."
"Maaf, Pak-Bu. Acara persidangan akan segera dilaksanakan, jadi kalian sudah tidak bisa mengbrol lagi dengan pelaku."
Hingga pada akhirnya, orang tua Mery pun menghentikan pembicaraannya dengan sangat terpaksa.
Saat itu juga Mery dibawa ke ruangan khusus untuk persidangan. Di ikuti oleh orang tuanya juga Rama.
Selama di dalam persidangan, semua nya diam tak berani berkomentar pada saat pihak pengadilan mulai mem Uma persidangan.
Satu persatu saksi di minta ke depan untuk memberikan keterangan yang menyangkut tindak kriminal yang di lakukan oleh, Mery.
Setelah mendengar semua penjelasan dari para saksi dan juga melihat beberapa bukti seperti rekaman video CCTV dan juga obat tersebut. Saat itu juga hakim mengatakan masa hukuman yang harus di jalani oleh Mery, yakni lima belas tahun penjara.
Hakim langsung mengetuk palunya. Sidang pun berakhir. Tetapi ini sangat membuat Mery shock dan tidak terima dengan keputusan dari hakim. Dia pun berteriak," nggak, pak hakim! ini tidak adil buatku, masa iya aku di hukum lima belas tahun penjara!"
Tetapi pihak pengadilan sama sekali tidak menghiraukan teriakan dari Mery. Beberapa aparat kepolisian segera membawa Mery keluar dari ruang persidangan tersebut.
Dan untuk Ita, dia di bebaskan. Karena dia memang tidak tahu menahu apa fungsi dari obat tersebut.
"Den Rama, terima kasih. Atas kebaikan anda. Hingga saya tidak sampai di penjara."
Rama tersenyum," lain kali jangan ceroboh jika ada seseorang menawarkan pekerjaan dengan bayaran besar, tetapi pekerjaan itu mencurigakan."
"Baik, Den. Saya akan lebih berhati-hati lagi."
__ADS_1