
Suara teriakan Bu Ari terdengar hingga ke dalam kamar Ella. Dan Sigit juga sempat mendengarnya, ia tersenyum karena berpikir itu suara Ella.
"Hahaha...aku yakin kali ini kamu akan menangis histeris karena janinmu mati, Ella," batin Sigit.
Dia sama sekali tak keluar dari kamarnya, hanya Ella yang lekas melangkah membuka pintu kamarnya karena terdengar suara teriakan.
"Astaghfirullah aladzim, ibu!"
"Bi-mamang! cepat kemari!"
Ella berteriak memanggil si bibi dan si mamang.
Saat itu juga datanglah mamang dan bibi, mereka terkejut melihat Bu Ari tergeletak pingsan tak berdaya. Bibi semakin panik.
"Astaga... kenapa banyak minyak di depan kamarku? ini pasti ulah, Sigit!" batin Ella kesal.
Sementara Mamang menggendong Bu Ari, si bibi di minta membersihkan genangan minyak yang ada di depan kamar, Ella. Saat ini si bibi sudah ada di dalam kamarnya sendiri, tetapi belum juga sadarkan diri. Ella pun segera menelpon Rangga untuk meminta tolong.
Kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel Rangga, tetapi sama sekali tak di angkat olehnya.
"Heh, Ella! untuk apa ia telpon, biarkan saja, toh sebentar lagi aku sampai di rumah," batinnya seraya membiarkan telepon terus saja berdering.
"Astaga... Mas Rangga tidak mau mengangkat teleponnya. Oh iya aku lupa, paling saat ini dia sedang dalam perjalanan pulang. Sebaiknya aku kirim pesan saja kepadanya.
Ella pun lekas mengetik pesan untuk Rangga.
__ADS_1
[Mas, ibu jatuh terpeleset di depan kamarku. Ada seseorang menuangkan minyak goreng tepat di depan pintu kamarku. Ibu pingsan dan sampai detik ini belum sadarkan diri.]
Rangga hanya membacanya saja, ia sama sekali tak ada rasa kaget apa lagi khawatir. Baginya itu bukanlah hal yang pantas di perhatikan. Rasa kecewa pada Ella membuat Rangga sama sekali sudah tidak peduli pada nasib, Bu Ari.
Beberapa detik kemudian, Rangga sampai di rumah. Dan Ella sudah ada di teras halaman untuk menunggu dirinya.
"Mas, aku minta tolong. Sampai detik ini ibu belum sadarkan diri. Mas, tolong aku bawa ibu ke dokter," pinta Ella memelas hingga pada akhirnya Rangga pun tak tega, ia meminta si Mamang dan sopir pribadinya mengangkat tubuh Bu Ari dan membawanya ke dalam mobil.
Saat itu juga Rangga dan Ella ke rumah sakit. Sementara Sigit bari saja bangun dari tidur sorenya, ia sama sekali tidak tahu jika Ella dan Rangga saat ini sedang pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan, Bu Ari.
"Hoam, lelahnya aku seharian aku di kantor hingga tak sadar tertidur. Oh ya, bagaimana ya dengan Ella? kok sepi sekali, apa karena aku tertidur hingga tak terdengar jerit tangisan Ella yang kehilangan bayinya?"
Karena rasa penasaran yang tinggi, Sigit keluar dari kamar. Ia melangkah ke dapur dimana saat ini ada bibi sedang gelisah.
"Bi, dimana papah? apa memang belum pulang, jadi nggak terdengar suaranya?" tanya Sigit celingukan kanan kiri.
"Bu Ari atau Ella?" tanya Sigit semakin penasaran.
"Bu Ari, Den. Kita salah sasaran, karena yang terpeleset malah Bu Ari bukan Non Ella," ucap si bibi ketakutan.
"Dasar bodoh kamu, bi! masa melakukan tugas segampang itu saja gagal! secepatnya kamu kemasi semua pakaianmu dan pergi dari rumah ini. Nanti aku akan memberikan uang pesangon untukmu. Kalau bisa kamu jangan pulang ke kampung."
"Nanti akan aku carikan tempat kerja yang baru untukmu. Bagaimana bisa Ella melihat ada minyak di depan pintu kamarnya? ini bisa berbahaya jika kamu tertangkap!"
Dengan sangat terpaksa si bibi menuruti kemauan Sigit. Dan saat itu juga Sigit menelpon salah satu temannya yang kebetulan sedang membutuhkan jasa asisten rumah tangga.
Bahkan temannya itu akan menjemput sang bibi sekarang juga. Sebelum Rangga dan Ella kembali, si bibi sudah pergi terlebih dahulu. Supaya tidak di mintai keterangan panjang lebar oleh, Rangga. Karena Sigit tak ingin kejahatannya terbongkar begitu saja.
__ADS_1
"Hem.. dengan perginya bibi. Sudah tidak ada lagi yang bisa di mintai keterangan. Walaupun tidak ada noda minyak lagi di depan pintu kamar, Ella. Tetapi aku khawatir ada CCTV di depan pintu kamar, Ella."
Sigit tersenyum sinis, walaupun usahanya menyingkirkan Ella gagal, setidaknya ia berhasil telah membuat Bu Ari terluka.
"Semoga saja terjadi hal buruk pada, Bu Ari. Hingga tidak ada lagi yang menjaga Ella. Dan dengan begini aku akan lebih gampang untuk menyingkirkan Ella," batin Sigit.
Sementara di rumah sakit, kini Ella bisa bernapas lega karena kondisi ibunya tidaklah parah.
"Syukur Alhamdulillah, ya Allah. Engkau masih menjaga ibuku. Bu, apa masih ada yang sakit?" tanya Ella menatap sendu ke arah Bu Ari.
"Nggak, Nak. Hanya kepala ibu saja yang masih terasa pusing dan begitu sakit," ucap Bu Ari lirih.
Saat itu juga Bu Ari diperbolehkan untuk pulang, karena lukanya tidak begitu parah. Dokter hanya menyarankan untuk sementara waktu Bu Ari jangan terlalu banyak beraktivitas terlebih dahulu.
Di dalam mobil Ella pun menyempatkan diri menunjukkan rekaman video CCTV yang ada di depan pintu kamarnya. Ia sendiri sempat kaget pada saat melihat bahwa yang menuang minyak tersebut adalah si, bibi.
"Mas, lihatlah sebentar rekaman video CCTV ini supaya kamu percaya bshwa apa yang aku katakan tidak bohong. Jika ada seseorang yang telah menuang minyak di depan pintu kamarku."
Rangga heran pada saat melihat rekaman video CCTV tersebut di mana si bibi sedang celingngukan kesana kemari seraya menuang minyak.
"Untuk apa si bibi melakukan hal seperti ini pada, Ella. Aku kok menjadi penasaran sekali. Nanti setelah sampai di rumah, aku akan menanyakan secara langsung kenapa si bibi melakukan hal itu. Apakah selama ini Ella bermasalah dengannya? yang membuat si bibi sakit hati dan ingin menyakiti Ella, ataukah ada seseorang yang memerintahnya untuk melakukan hal ini?" batin Rangga semakin penasaran.
"Aku juga baru tahu jika Ella memasang CCTV. Tapi kapan dia memasangnya ya? tapi cerdas juga, hingga ada hal seperti ini bisa ketahuan siapa pelaku yang sebenarnya," batin Rangga sedikit memuji Ella.
Tak berapa lama, mereka telah sampai di rumah. Ella dengan lembutnya menuntun ibunya melangkah masuk menuju ke kamarnya. Sementara Rangga melangkah ke paviliun belakang untuk mencari si bibi A.
Karena di rumahnya ada tiga orang asisten rumah tangga.
__ADS_1
Rangga sangat kecewa karena si bibi tidak bisa ditemui karena sudah pergi beberapa menit yang lalu.