
Sementara beberapa anak buah Sigit telah kembali ke rumah yang letaknya di desa terpencil. Setelah mereka merasa mobil pratoli polisi sudah pergi.
"Bro, ayo kita kembali ke tempat. Sepertinya para polisi hanya sekedar patroli saja, tadi kita terlalu panik hingga kita langsung kabur begitu saja."
"Itu u kan ulahmu, begitu suara mobil polisi berbunyi kamu kabur ya otomatis kami berdua juga ikut kabur."
"Iya seharusnya tadi kita mengecek terlebih dahulu apakah memang mobil polisi itu benar-benar mendekati kita atau tidak?"
"Kalian ini bodoh ya, jika kita menunggu mobil itu mendekat pada kita yang ada malah kita tertangkap oleh para aparat polisi, makanya aku kabur dan mengajak kalian turut serta!"
Sejenak ketiga preman anak buah dari Sigit terus saja berselisih paham. Saling bantah membantah dan hingga pada akhirnya mereka pun diam dan memutuskan untuk segera ke tempat di mana mereka meninggalkan mobil yang berisi, Ella.
Namun mereka sangat terkejut pada saat mengecek di dalam mobil sudah tidak ada Ella. Mereka pun kelimpungan mencari kesana kemari dan tidak juga menemukannya.
"Aduh... bagaimana ini? apa yang harus kita katakan pada bos?" ucap salah satu preman tersebut.
"Kalian tak perlu khawatir, kita kelabui saja bos. Dengan mengatakan bahwa kita telah berhasil menyingkirkannya dan jasadnya kita buang ke laut," ucap satu preman yang lain.
"Tapi jika bos tahu kita berbohong bagaimana?" tanya satu preman yang terkenal mudah panik.
"Jika diantara kita bertiga tidak ada yang mengatakan apa pun, pasti kita aman. Dan selamanya bos nggak akan tahu. Dan sebaiknya, setelah kita menghadap bos, kita langsung kabur yang jauh dan kita ganti nomor ponsel supaya jejak kita tidak di ketahui oleh bos. Karena jika kita mengatakan sejujurnya pada, bos. Yang ada nanti kita tidak mendapatkan bayaran, malah kita akan dihukum. Apa kalian berdua mau seperti itu?"
Kedua preman yang mendengar perkataan temannya tersebut serentak menggelengkan kepalanya, hingga pada akhirnya ketiganya sepakat untuk berbohong kepada Sigit. Bahwa mereka telah berhasil melenyapkan Ella dan membuang jasadnya kelautan yang luas.
Setelah mendapatkan keputusan yang tepat, mereka bertiga pun baru mengaktifkan ponselnya kembali, dan banyak sekali panggilan telepon dari Sigit ke nomor ponsel mereka bertiga.
__ADS_1
Sementara di rumah, Sigit juga sedang gelisah karena dia tidak berhasil juga menghubungi ketiga anak buahnya.
"Kenapa serentak ketiga anak buahku ponselnya tidak ada yang aktif, aneh sekali? padahal aku ingin tahu bagaimanakah kinerja mereka, apakah mereka telah berhasil atau tidak?"
"Sudah satu jam berlalu tidak ada satupun yang menghubungiku. Membuatku semakin bertambah tak menentu saja, semakin penasaran aku dibuatnya."
Sejenak Sigit kembali mengecek ponselnya, dan ia pun mencoba menghubungi salah satu anak buahnya lagi. Dan pada akhirnya tersambung juga teleponnya ke salah satu anak buahnya tersebut.
📱" Heh, ke mana saja kalian bertiga? kenapa tidak ada satupun dari kalian yang nomor ponselnya aktif?"
📱" Maaf bos, kami tadi fokus dengan pekerjaan kami. Sehingga kami serentak memutuskan untuk menonaktifkan ponsel kami, karena supaya pekerjaan kami tidak terganggu."
📱" Lantas bagaimana dengan pekerjaan kalian, apa kalian telah berhasil ataukah gagal?"
📱" Apakah yang kalian katakan itu benar? kalian sedang tidak berbohong padaku kan?"
📱" Untuk apa kami berbohong padamu, bos. Kami benar-benar telah menghabisi target, sesuai dengan perintah."
📱" Baiklah kalau begitu aku percaya dengan apa yang kalian katakan. Sekarang juga aku akan mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening dari salah satu kalian untuk bayaran kalian."
Saat itu juga Sigit mentransfer sejumlah uang yang nilainya begitu besar ke nomor rekening salah satu anak buahnya tersebut. Setelah itu ia mengirimkan s
satu chat pesan dengan mengatakan bahwa ia telah mentransfer sejumlah uang untuk pembayaran atas tugas yang ia berikan kepada ketiga anak buahnya.
[Aku telah mentransfer sejumlah uang, cek sekarang sudah sampai atau belum. Itu untuk bayaran kalian bertiga.]
__ADS_1
Drt drt drt drt drt
Satu notifikasi chat pesan masuk ke dalam nomor ponsel salah satu anak buahnya. Dan anak buahnya itu membacanya dan langsung mengecek M-banking nya.
[Sudah masuk bos, terima kasih atas bayar nya ya bos.]
Satu balasan chat pesan untuk Sigit dari salah satu anak buahnya masuk ke dalam nomor ponsel Sigit dan ia pun langsung membacanya.
Setelah ketiga anak buahnya mendapatkan bayaran yang begitu mahal, mereka pun merasa sangat senang dan bahagia dan langsung melancarkan aksi selanjutnya.
Mereka bertiga kabur dari kota tersebut dengan membawa serta anak dan istri mereka. Dan tak lupa mengganti nomor ponsel mereka serta mengganti nomor rekening yang barusan dipakai untuk menerima transferan dari Sigit. Terlebih dahulu uang kiriman tersebut diambilnya.
Sedangkan Sigit saat ini sedang tersenyum bahagia di dalam kamarnya, ia mengira bahwa Ella benar-benar telah tiada.
"Padahal aku memerintah mereka untuk membawa Ella terlebih dahulu di rumah yang ada di desa tersebut. Tidak memerintah untuk menghabisinya, tapi biarkanlah ini justru menguntungkan bagi diriku, karena aku tak perlu mengotori tanganku sendiri untuk menyingkirkan Ella selamanya."
"Mereka benar-benar sangat kejam, belum apa-apa sudah menghabisi Ella. Padahal aku awalnya hanya ingin menggertak Ella dan memintanya supaya pergi jauh dari kehidupan papah. Mungkin sudah nasib Ella umurnya hanya sampai di sini, hingga ketiga anak buahku menghabisinya begitu saja. Maafkan aku ya Ella, Ini semua bukan kesalahanku tapi kesalahanmu sendiri."
Sigit terus saja bergumam sendiri di dalam kamarnya sembari senyum-senyum. Bahkan hingga saat ini dia belum tahu jika Bu Ari telah kabur dari rumah tersebut. Karena ia terus saja berada di dalam kamarnya tidak keluar sama sekali.
Beberapa menit kemudian, Rangga pun pulang. Tiba-tiba ia merasa gelisah memikirkan Ella.
"Kenapa aku tiba-tiba mencemaskan nasib Ella? dari aku pulang kenapa tidak mendapati adanya Ella? biasanya ia selalu menyambut kepulanganku, walaupun aku selalu bersikap dingin padanya. Tetapi ia tetap bersikap layaknya seorang istri pada suaminya," batin Rangga.
Sejenak Rangga meletakkan tas kerjanya di kamar tamu di mana selama ini ia tidur, dan ia melangkah menuju ke kamar Ella untuk mengecek keberadaannya. Tetapi tidak ada, hingga ia pun melangkah ke dapur dan keseluruh penjuru ruangan, bahkan ia bertanya pada pelayan di rumah tersebut, tetapi tidak ada yang tahu kemana, Ella pergi.
__ADS_1