Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Membodohi & Di Bodohi


__ADS_3

Sigit menyeringai sinis, di dalam hatinya begitu senang karena berhasil menipu Rangga," hahaha... gampang banget sih bohongin papah. Padahal aku sudah melihat isi ponselnya. Dan aku sudah tahu jika sebenarnya Ella masih hidup. Aku harus segera mencari tahu dimana saat ini Ella berada. Dan aku juga akan menyelidiki nomor ponsel yang mengirimkan video percakapan itu kepada, Papah."


"Terlebih dahulu aku akan ke rumah salah satu tiga anak buahku yang waktu itu aku bayar untuk mengurus, Ella. Sepertinya mereka menghindariku karena nomor ponselnya tidak ada yang aktif sama sekali. Semoga saja ada salah satu diantara mereka yang bisa aku temui."


Saat itu juga Sigit melajukan mobilnya menuju ke salah satu anak buahnya yang pernah dimintanya untuk menculik, Ella. Setelah sampai di rumah tersebut ternyata sudah tidak ada orang yang ditujunya, karena rumah tersebut telah dijual kepada orang lain.


Sigit beralih kedua rumah anak buahnya yang menculik Ella, tetapi hal yang serupa juga ia dapati di mana tidak ada anak buahnya sama sekali.


"Sialan banget, kenapa aku tidak menemukan ketiga anak buahku. Aku telah ditipu mentah-mentah oleh mereka, padahal aku telah membayar mahal untuk aksi mereka. Justru usaha mereka itu gagal total! Kini aku harus mencari tahu di mana Ella berada dan aku akan menyelidiki nomor ponsel yang telah menghubungi, papah."


Pertama-tama Sigit menghubungi nomor ponsel tersebut tetapi tidak aktif.


"Sialan, kenapa nomor ponselnya tidak aktif ya?" gumamnya kesal.


Beberapa kali Sigit mengulangnya, namun tidak juga berhasil. Hingga ia pun menyerah karena putus asa.


"Buatku penasaran saja dengan nomor ponsel ini! tapi sayangnya nggak aktif, jika seperti ini bagaimana aku bisa menyelidiki siapa orang yang telah menyelamatkan Ella dan tentang keberadaan Ella saat ini!' batinnya kesal.


Selagi merasa kesal, tiba-tiba ponselnya berdering. Ada satu panggilan telepon dari Fredy. Dengan rasa enggan, Sigit mengangkatnya.


📱"Halo, ada apa ya bro?"


📱" Dari nada suaramu kok sedang kesal begitu ya?"


📱" Kok kamu seperti cenayang saja tahu apa yang sedang aku rasakan?"


📱" Jelas aku tahu, karena kita berteman bukan sehari atau dua hari kan? bagaimana kalau kita bertemu di tempat biasa dan kamu ceritakan saja apa yang membuatmu kesal."


📱"Ok dech, tapi nggak usah di tempat biasa. Karena aku khawatir ada seseorang yang mengintai kita dan merekam pembicaraan kita."

__ADS_1


📱"Hah, serius? siapa orangnya biar aku hajar dech kalau perlu."


📱"Kita ketemu dulu saja, biar aku ceritakan secara langsung jangan lewat telpon nggak nyaman rasanya."


Saat itu juga, baik Sigit maupun Fredy melajukan mobilnya ke sebuah cafe. Tetapi Fredy tak bodoh, ia meminta salah satu anak buahnya untuk mengikuti dirinya.


"Sigit, aku akan terus mengorek keterangan darimu secara langsung dan percakapan kita akan di rekam lagi oleh salah satu anak buahku. Aku ingin tahu apa yang akan kamu katakan nanti," batin Fredy menyeringai sinis.


Beberapa menit kemudian..


Mereka telah bertemu di sebuah cafe dan kebetulan sudah memesan meja terlebih dahulu, hal ini justru mempermudah Freddy untuk merekam segala percakapan mereka.


Fredy telah memasang chip juga di bawah meja pesanan Sigit, berikut dia membawa salah satu anak buahnya.


"Kenapa mukamu kusut seperti itu, bro?" tanya Fredy.


"Apa? jadi pembicaraan kita waktu itu ada yang merekamnya? masa si Ella masih hidup?" Fredy pura-pura terkejut dan tak percaya dengan apa yang sedang di ceritakan oleh Sigit.


"Ya, bro. Aku sedang khawatir saja, sewaktu-waktu Ella datang dan melaporkan aku ke aparat kepolisian. Makanya saat ini aku sedang berusaha mencari keberadaan dia. Aku sudah memerintahkan beberapa anak buahku."


"Aku juga sempat menghubungi nomor ponsel yang sempat berkomunikasi dengan Papah. Tapi hingga kini nomor ponsel nggak aktif. Aku khawatir orang ini bisa di jadikan saksi utama oleh Ella untuk menjebloskan aku ke dalam penjara."


Fredy terus saja mendengarkan apa yang sedang di katakan oleh Sigit, dan ia mendadak bertanya," bagaimana kamu tahu semua itu?"


"Astaga... Fredy. Bukankah aku barusan katakan padamu jika aku tahu hal ini itu gara-gara tak sengaja ponselku tertukar dengan papah. Pada saat aku ke kantornya dan....


"Stop, iya aku sudah ingat. Maaf ya, aku sedang nggak sinkron karena sedang banyak kerjaan," ucap Fredy memotong pembicaraan Sigit.


"Lantas apa yang akan kamu lakukan? langkah apa yang akan kamu lakukan?" tanya Fredy.

__ADS_1


"Entahlah, mendadak otakku buntu karena hal ini. Aku sama sekali tidak menyangka permasalahan ini akan semakin rumit karena Ella ternyata masih hidup. Dan aku sedang kesal karena kehilangan uang dalam jumlah banyak di bawa kabur ke tiga anak buahku yang waktu itu menculik Ella."


Mendengar aka yang di katakan oleh Sigit, di dalam hati Fredy sangat senang. Dia berharap jika Sigit selamanya tak bisa berpikir jernih hingga tak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Syukurin dech, semoga saja otakmu seperti ini terus!"


"Lantas, apa ada ysng bisa aku bantu untukmu?" tanya Fredy pura-pura menawarkan diri.


"Untuk saat ini aku belum butuh bantuanmu, bro. Apa lagi saat ini kamu sedang banyak pekerjaan, aku nggak enak jika merepotkan dirimu. Lain waktu saja jika kamu sedang tidak banyak pekerjaan," ucap Sigit menolak secara halus.


Setelah cukup lama, mereka bercengkrama satu sama lain. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Di rumah Fredy sangat kesal pada kecerobohan Rangga.


"Dasar sudah tua hingga tak bisa teliti! heran aku pada Ella, kok bisa ya jatuh cinta pada pria seumuran Ayah! Untung saja Sigit masih percaya padaku."


"Hingga ia tak ragu cerita tentang apa yang tengah terjadi. Aku hanya mengatakan hal ini pada, Om Rangga."


Saat itu juga, Fredy membuka dan mengaktifkan ponsel yang sempat di gunakan untuk menghubungi Rangga. Ia telah berganti kartu lagi, karena ia tahu saat ini kartu ponsel yang sempat di gunakan untuk menghubungi Rangga, sudah di ketahui oleh Sigit.


"Jika aku masih pake kartu itu, aku khawatir Sigit bisa mengecek keberadaanku lewat kartu itu. Untung saja dia bicara jujur, jika tidak pasti aku sudah tertangkap basah," batin Fredy.


Drt drt drt drt drt


Satu notifikasi chat pesan masuk ke nomor ponsel Rangga.


Rangga terperangah pada saat melihat sebuah rekaman video yang di kirim ke nomor ponsel dirinya.


"Astaga... jadi Sigit telah tahu semuanya?" batin Rangga.

__ADS_1


__ADS_2