
Untuk memastikan apakah pria yang pernah di bayar olehnya benar-benar telah pergi dari kota tersebut, Sigit menelponnya. Ia mencari tempat yang sekiranya tidak di ketahui oleh Rangga.
Kring kring kring kring
Panggilan telepon masuk ke nomor ponsel di pria itu, dan ia pun mengangkatnya dengan tangan gemetaran.
📱" Ha-ha-halo, Mas."
📱" Aku hanya ingin memastikan apakah kamu dan istrimu sudah pergi dari kota ini atau belum? jangan sampai aku bertindak sendiri dengan cara kasar dalam menyingkirkan dirimu!"
📱" Mas nggak usah khawatir, saat ini saya dan istri sudah pergi kok dari kota ini."
📱" Hem, baiklah. Awas ya kalau suatu saat nanti ternyata aku melihat dirimu masih berkeliaran di kota ini. Aku pastikan nyawamu akan melayang!"
Setelah mengucapkan kata terakhir, Sigit langsung menutup panggilan telepon tersebut. Ia tersenyum sinis, di dalam hatinya sangat puas karena kejahatannya tidak akan pernah di ketahui oleh Rangga," hahahahaha...untung saja aku ke mall itu dan melihat Papah. Jika tidak, pasti pria itu telah mengatakan pada papah bahwa akulah yang telah merekayasa semua itu."
Sementara pria itu sedang gemetaran, karena sebenarnya ia saat ini masih ada di kota tersebut dan belum juga pindah. Ia terus saja mondar-mandir seraya sesekali mengacak-ngacak rambutnya. Hal ini membuat sang istri heran melihatnya.
"Ayah, kenapa gelisah seperti itu sih?" tanya sang istri penasaran dengan sikap suaminya yang terlihat begitu panik dan cemas.
"Bu, duduklah. Ayah ingin bicara serius dengan ibu!" pintanya hingga sang istri pun menurut, ia menghempaskan pantatnya di tepi ranjang.
"Bu, sebaiknya kita harus pergi sekarang juga dari kota ini. Karena pria itu telah mengancamku. Tadi dia menelpon untuk memastikan apakah aku sudah benar-benar pergi dari kota ini atau belum. Aku katakan saja bahwa aku memang sudah pergi. Tapi ia bilang, jika ia masih melihatku di kota ini, ia akan menghabisi nyawaku."
Mendengar cerita yang menyeramkan tentang menghabisi nyawa, sang istri mendadak gemetaran," orang yang telah membayarmu waktu itu, ayah?"
"Iya, Bu. Anak dari pria yang waktu itu sempat kura temui di mall. Dimana aku akan berkata jujur padanya, malah tiba-tiba anaknya datang,' ucap sang suami.
__ADS_1
Sang suami menceritakan semuanya pada sang istri jika pria itu memang terkenal kejam dan bisa melakukan segala cara untuk menghabisi siapa saja. Hingga sang istri pun memutuskan untuk bersedia pindah ke kota lain, walaupun awalnya ia menolak dengan alasan kondisi kehamilan dirinya yang sudah besar.
"Baiklah, ayah. Kita pindah saja dech. Dari pada nanti orang itu berbuat nekad menyingkirkan ayah, aku yang akan merasa sangat kehilangan. Lain kali kalau ingin melakukan sesuatu hal itu di pikir dulu. Apa lagi ini hal jahat, ayah."
"Pasti saat ini wanita yang telah di fitnah itu sedang menderita karena ulah ayah. Ingatlah ayah, ada istrimu yang sedang hamil tua seperti ini."
"Jangan hanya karena kita butuh uang, lantas ayah menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan uang. Aku nggak suka, ayah."
"Aku pikir kira akan mencari keberadaan wanita itu untuk meminta maaf padanya. Dan ayah juga menemui pria paruh baya itu. Tetapi belum apa-apa, ayah sudah mendapatkan suatu ancaman yang tidak main-main."
"Ya sudah, kita berkemas sekarang juga. Mohin ampun pada Allah atas Disa yang telah ayah lakukan.Aku nggak mau ya, karma ayah jatuh pada anak kita ini. Ih...anguzubilahmindalik."
Sang suami begitu menyesali perbuatannya, ia benar-benar ingin sekali meminta maaf pada Ella tetapi apalah daya, ia lebih takut dengan ancaman dari Sigit.
Saat itu juga suami istri ini berkemas-kemas untuk pergi dari kota tersebut. Tetapi baru beberapa detik mereka berkemas, sang istri mengaduh kesakitan memegangi perutnya.
"Aaahhh.... ayah...perut ibu sakit sekali..."
Sang suami pun panik," astaga Bu, apakah ibu akan melahirkan? bagaimana ini, Bu?"
"Ist.... huuuuu....aduh...ayah... sepertinya ibu memang akan melahirkan," rintih si istri menahan rasa sakit.
Hingga pada akhirnya sang suami langsung saja menggendong istrinya dan membawanya ke rumah sakit. Ia sudah memesan taxi on line terlebih dahulu. Hingga pada saat ia membawa istrinya keluar dari rumah, taxi on line sudah datang.
Saat itu juga taxi on line meluncur ke rumah sakit. Dan pada saat sampai di rumah sakit, wanita ini langsung di tangani oleh seorang dokter dan satu perawat, yang ternyata perawat itu adalah Ella.
"Astaghfirullah aladzim, bukankah pria ini yang waktu itu tiba-tiba ada di kamarku?" batin Ella.
__ADS_1
Tetapi ia mengesampingkan masalah pribadinya terlebih dahulu, karena nyawa pasien dan bayinya lebih penting. Hingga ia pura-pura tidak tahu dengan pria itu, apa lagi ia memakai masker, yang membuat pria itu tak tahu jikasi perawat adalah Ella.
Ella membawa istri pria itu ke ruangan khusus bersalin. Bersama salah satu dokter ia membantu proses persalinan istri dari pria yang telah memfitnah dirinya waktu itu. Walaupun pada awalnya di dalam hatinya penuh dengan pro kontra. Tetapi ia telah di sumpah pada saat akan menjadi seorang perawat untuk tidak memilih siapa pun yang butuh pertolongan.
"EA...EA...EA..."
Suara tangis bayi terdengar, pria itu begitu lega karena istrinya telah melahirkan anaknya.
Ella membersihkan sang baby, dan rekan kerjanya membersihkan tempat dimana untuk proses melahirkan tersebut. Setelah tempat bersih, barulah Ella meletakkan sang baby di samping ibunya.
"Mba Ella, saya akan menangani pasien yang lain ya. Tolong pasien ini di pindah ke ruang perawatan pasca bersalin."
Pinta sang dokter seraya melangkah pergi dari ruangan tersebut di ikuti oleh rekan kerja Ella.
Saat itu juga Ella mendorong brankar dimana sang wanita dan bayinya berada ke ruangan yang sudah di siapkan. Suami wanita itu mengikuti dari belakangnya. Dan pada saat sudah berada di ruang perawatan, suami mengucapkan terima kasih.
"Suster, terima kasih ya. Sudah membantu proses persalinan istri saya, hingga istri dan anak saya dalam kondisi sehat semuanya," ucapnya tersenyum ramah.
"Sama-sama, mas."
Ella pun lekas membuka maskernya.
Dan pada saat pria itu melihat Ella, ia pun celingukan merasa malu danwrada sangat berdosa.
"Apakah mas masih ingat dengan saya?" tanya Ella menatap tajam pada pria di hadapannya yang terus saja menunduk ketakutan.
"I-Iya, mba. Saya masih ingat dengan mba," ucapnya gagap.
__ADS_1