Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Bujukan Rangga


__ADS_3

Setelah cukup lama menemani Ella makan di cafe, mereka pun berinisiatif pulang. Tetapi tiba-tiba Ella merengek seperti andk kecil tanpa sadar. Ia bergelayut manja di lengan Rangga," mas, boleh nggak pesan menu makanan yang seperti tadi tapi di bungkus untuk di bawa pulang. Anakmu sepertinya suka sekali."


"Subhanallah, apakah ini suatu pertanda baik dariMu?" batin Rangga begitu sangat bahagia.


"Boleh banget, sayang. Kamu duduk saja ya, biar aku yang pesan makanannya."


Ella pun bagai kerbau di cucuk hidungnya, ia pun lekas duduk menunggu Rangga yang sedang memesan makanan. Ella sama sekali tidak sadar dengan apa yang barusan ia lakukan pada Rangga yakni bergelayut manja di lengan Rangga seraya merengek.


Sementara saat ini Rangga sedang memesan makanan untuk di bawa pulang Ella. Beberapa menit saja makanan pesanan Rangga telah siap sedia, dengan segera Rangga membayarnya.


Rangga pun menenteng makanan tersebut di dalam kantung kreseknya dengan penuh antusias menghampiri istrinya," sayang, ini makanannya sudah aku pesankan untuk anak kita. Ayo sekarang kita pulang."


Ella tersenyum sangat senang melihat makanan yang ada di tangan Rangga ia pun bergelayut di lengan Rangga tanpa ada rasa ragu. Mereka melangkah keluar dari cafe tersebut. Mereka berjalan berdampingan, tunggu sopir pribadi Rangga di pelataran cafe.


Selama di dalam mobil terlihat sekali wajah bahagia keduanya. Tiba-tiba Ella berkata," Mas, aku minta maaf karena terlalu banyak permintaan kepadamu ya. Tetapi entah kenapa, aku ingin memakan makanan yang seperti tadi jika sudah berada di rumah."


"Sayang, kamu tidak perlu minta maaf


karena tidak salah. Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan. Sekarang kamu ingin apalagi, katakan saja. Mumpung kita masih di jalan, belum sampai di rumah," ucap Rangga.


Sejenak Ella terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu yang ingin dia beli.


"Sepertinya nggak ada Mas, hanya itu saja," ucap Ella singkat.


Ella mendadak diam saja, ia menatap ke arah jalan raya. Tanpa sadar, dari tadi Rangga terus saja menatap ke arah Ella.


"Sayang, hari ini aku sangat bahagia sekali. Sepertinya ini suatu pertanda yang sangat bagus untuk rumah tangga kita. Semoga saja memang Alla sedang meluluhkan hatimu untuk tidak terus menolakku. Aku janji, jika kita bisa bersama lagi, aku tidak akan mudah di hasut oleh siapapun. Aku akan percaya sepenuhnya pada istriku," janji Rangga di di dalam hatinya.


Tak terasa sampai juga di pelataran rumah Ella. Dengan sangat hati-hati Rangga menuntun Ella keluar dari mobilnya, dan melangkah bersama menuju ke teras halaman.

__ADS_1


Ella duduk di terasa halaman, Rangga meletakkan kantong kresek berisi makanan tersebut di meja hadapan Ella.


Tiba-tiba Ella berucap," Mas, duduklah dulu."


Rangga pun duduk di samping Ella," ada apa, sayang?"


"Nggak ada apa-apa, mas. Entah kenapa aku ingin kamu duduk dulu, nggak apa-apa kan?"


Ella mulai sadar dengan dirinya sendiri, dengan apa yang ia lakukan. Seperti ada dorongan di dalam hatinya untuk menahan kepergian Rangga. Dirinya ingin Rangga lekas pulang, tetapi malah mulut berkata lain. Lain di mulut lain pula di hati.


"Mas, apakah kamu mau minum? aku ingin ngobrol sebentar denganmu setelah sekian lama aku tak ngobrol denganmu. Itupun jika kamu bersedia, aku nggak memaksa,' ucap Ella tertunduk.


"Aku sangat bersedia, hingga esok pun aku akan turuti."


Ucapan Rangga tiba-tiba membuat Ella terkekeh," hehehe..masa iya ngobrol sampai esok pagi. Nggak bakalan bisalah, Mas Rangga kan jago tidur."


"Sayang, kamu masih ingat saja."


"Aku tidak akan pernah lupa dengan segala kebiasaan baik dan buruk yang ada padamu, mas. Apa yang kamu suka dan apa yang tidak kamu sukai aku juga akan selalu ingat," ucap Ella membuat mata Rangga berkaca-kaca.


Sejenak Ella mengatakan banyak hal tentang segala kebiasaan baik dan buruk Rangga. Darj makanan favorit dari makanan yang Rangga tidak suka dan segalanya, Ella katakan saat itu juga.


Tiba-tiba Ella juga menanyakan kepada Rangga, tentang kesehatannya, pola makannya, pola tidurnya, semuanya ia tanyakan.


"Ya Allah, apakah Engkau akan mengabulkan keinginanku supaya rumah tangga kami tidak sampai berakhir tragis? aku tidak ingin anakku lahir jauh dariku. Aku tidak ingin anakku yang masih bayi tumbuh tanpa adanya diriku."


"Apakah aku terlalu banyak berharap ya Allah? apakah aku ini keterlaluan dengan menginginkan supaya rumah tangga kami utuh kembali?"


"Setiap manusia tidak sempurna, pasti pernah melakukan suatu kesalahan. Setidaknya aku tidak berlarut-larut dalam kesalahanku."

__ADS_1


"Aku sudah sadar akan semua kesalahanku pada anak dan istriku. Izinkan aku untuk memperbaiki dan menebus semuanya pada istri dan anakku ya Allah."


Rangga malah sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia tidak sadar jika dari tadi Ella menegur dirinya.


"Mas Rangga, ini minumnya. Mas..."


Rangga bengong saja, hingga satu tepukan di bahunya barulah Rangga tersadar dari lamunannya.


"Astaghfirullah aladzim, maafkan aku ya sayang?" Rangga mencoba menutupi rasa gugupnya, ia pun meminum minuman yang di buatkan oleh Ella.


" Sayang, kamu benar-benar masih ingat minuman kesukaanku ya."


Rangga langsung meneguk hingga habis minuman tersebut.


Di dalam hati Ella entah kenapa tiba-tiba iba pada Rangga," kasihan juga Mas Rangga. Pasti selama nggak ada aku, nggak ada yang merawatnya."


"Mas, mau aku buatkan lagi minumannya?" tawar Ella.


"Boleh, jika aku masih boleh di sini. Kalau aku sudah nggak boleh di sini ya aku akan pulang sekarang juga."


Ella tiba-tiba pasang wajah murung, karena Rangga tidak sinkron dalam membalas perkataannya," mas, kok bicaranya seperti itu? adanya aku menawarkan minuman lagi berarti aku nggak keberatan dirimu ada di sini. Suatu perkataan yang nggak perlu di katakan sebenarnya."


"Maafkan aku, Ella. Aku sedang nggak sinkron karena aku sedang berpikir tentang rumah tangga kita. Jujur saja aku nggak ingin kita pisah, Ella. Tolong kamu berpikir ulang untuk ini."


"Setidaknya kamu berpikir untuk andj kita. Tolong jangan egois, Ella. Berpikirlah secara rasional, bagaimana kelak tumbuh kembang anak kita jika tanpa adanya seorang ayah?"


"Ingatlah akan masa kecilmu dulu yang tumbuh tanpa adanya seorang ayah. Iya misalkan kamu menikah lagi, pasti anak kita punya ayah sambung."


"Tetapi belum tentu ayah sambung akan sayang dengan tulus pada anak kita. Aku mohon padamu, sayang."

__ADS_1


"Masa iya, tidak ada satu kata maaf pun darimu. Dan tidak ada satu kesempatan pun?"


Terus saja Rangga membujuk Ella untuk tidak berpsah darinya.


__ADS_2