
Tak terasa mobil yang dikemudikan oleh Rama telah sampai di pelataran rumahnya. Iya sempat terperangah melihat ada seseorang yang memakai baju ojek tetapi seorang wanita.
"Siapa tukang ojek wanita itu, sore-sore datang ke rumah? tetapi aku tidak asing lagi dengan plat nomor motornya. Astaga, bukan itu motor yang dipakai oleh Wina? lantas apa hubungannya Wina dengan Eka? kok mereka terlihat akrab sekali?"
Wina pun sempat menoleh ke arah mobil yang sedang perlahan-lahan merayap berhenti di penalaran rumah," astaga itu kan pria yang barusan aku tolong? jadi ini rumahnya?" batinnya heran.
Saat ini Wina sedang diobati luka memarnya yang ada di tangan oleh, Eka.
"Eka, kenapa adikmu berani sekali melawan preman? jangan terlalu berani seperti itu, Wina. Kamu ini kan perempuan?" nasehat Bu Berta.
"Hehehe...nggak apa-apa kok Nyonya, saya sudah terbiasa. Saya paling anti kalau melihat seseorang sedang membutuhkan pertolongan, tanpa menolongnya. Walaupun saya perempuan saya bukan tripikal penakut," ucap Wina.
"Memang benar, Wina tidak penakut. Tetapi dia sombong,' tiba-tiba Rama menyela pembicaraan antara Wina dan Bu Berta.
"Rama, kamu baru datang kok ngomongnya seperti itu? memangnya kamu kenal, Wina? itu kenapa muka babak belur dan baju kotor seperti itu?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Bu Berta.
"Mamah ingin tahu kenapa aku babak belur, dan penampilanku berantakan seperti ini? tanya saja pada Wina, dia tahu kok."
Rama berlalu pergi melangkah masuk ke dalam rumah untuk segera membersihkan dirinya yang terlihat berantakan sekali.
"Wina, coba ceritakan. Memangnya kamu tahu apa yang telah terjadi pada, Rama?" tanya Bu Berta seraya menatap heran pada Wina.
"Hehehe...jelas tahulah, Nyonya. Karena barusan orang yang aku tolong adalah, Den Rama," ucap Wina terkekeh
Belum juga Bu Berta mengatakan sesuatu, Wina kembali lagi berkata," Nyonya Berta-Mba Eka, aku pamit pulang ya?"
"Iya, de. Tetapi kamu yang hati-hati ya, mbak ingin terjadi hal buruk padamu karena kamu satu-satunya yang mba punya di dunia ini."
Eka memeluk adiknya.
"Sudahlah, nggak usah lebay. Aku nggak suka, mba. Aku sehat-sehat begini saja di khawatirkan."
Wina melepaskan pelukan Eka, ia segera melajukan motornya arah pulang ke rumah.
__ADS_1
"Eka, aku baru tahu jika kamu mempunyai seorang adik. Aku pikir kamu anak tunggal," ucap Bu Berta.
"Aku anak sulung, Nyonya. Dan kebetulan ibuku meninggal belum lama yakni pada saat aku baru masuk kerja di sini," ucap Eka.
"Kenapa adikmu memilih profesi sebagai tukang ojek? bukannya masih ada pekerjaan yang pantas untuk seorang wanita, apa lagi adikmu itu cantik loh," tanya Bu Berta.
"Wina, ingin meneruskan profesi almarhum ayah kami. Apa lagi dulu ayah juga sifatnya mirip sekali dengan Wina. Dia suka sekali menolong orang, hingga di akhir hidupnya juga meninggal karena menolong orang. Di saat itu ayah tertusuk pisau di perutnya oleh preman yang akan menusuk seseorang yang ia tolong."
"Karena luka tusukan itu terlalu dalam, hingga pada akhirnya ayah pun meninggal dunia."
Bu Berta begitu serius mendengarkan cerita dari Eka, seputar mendiang orang tuanya.
Tak berapa lama, muncul Rama. Dia celingukan mencari keberadaan, Wina.
"Wina mana, mah?" tanyanya.
"Wina, sudah pulang."
"Nah kan, suka sekali menghilang. Padahal aku ingin sekali marah padanya, karena dia itu terlalu sombong!" ucap Rama kesal.
Rama terperangah pada saat mendengar penuturan dari Eka," apa, jadi Wina itu adik kandungmu? hem...pantas saja menyebalkan seperti kakaknya!"
Rama pun berlalu pergi dari hadapan Eka dan Bu Berta.
"Eka, maafkan sikap Rama ya? selalu saja bersikap tidak baik padamu dan ketus," Bu Berta merasa tidak enak hati kepada Eka.
"Nggak usah terlalu dipikirkan, nyonya. Saya sama sekali tidak marah dengan sikap, Den Rama," ucap Eka berbohong.
Walaupun sebenarnya di dalam hati Eka merasa sedih," sebenarnya aku sedih, nyonya. Karena Den Rama tidak bisa bersikap ramah kepadaku, padahal aku....ah sudahlah itu tidak mungkin. Aku yang terlalu berharap padanya. Lagi pula aku ini cuma seorang perawat, mana mungkin Den Rama mau denganku."
Sementara saat ini Wina telah sampai di rumah," jadi itu yang namanya Den Rama yang selama ini selalu diceritakan oleh Mba Eka? pria yang dia suka, tetapi sifatnya angkuh dan dingin?"
"Mba Eka-Mba Eka, seperti nggak ada pria lain saja di dunia ini? hingga pria kaya Rama, ia sukai. Jika aku menjadi kamu, ogah mba."
__ADS_1
"Pusing juga jika pikirkan tentang cinta. Untung saja aku tidak punya pacar. Bikin mumet saja."
'Kenapa kok aku jadi terus mengatakan hal buruk tentang, Den Rama ya? sebaiknya aku mandi saja dan setelah itu mengerjakan tugas dari kampus. daripada memikirkan tentang cintaan-cintaan, yang hanya membuat pusing saja."
Setelah cukup lama mengerutu sendiri, Wina pun segera melakukan ritual mandi sorenya.
*****
Malam menjelang...
Pada saat akan menjelang tidur, sejenak Eka mengingat akan masa lalu keluarganya.
"Aku ingat betul pada saat Wina masih kecil, dia rajin sekali berlatih karate bersama almarhum, ayah."
"Selalu saja Wina mengatakan ingin menjadi penjaga untuk aku dan ayah-ibu."
"Ini sudah dibuktikan olehnya sekarang, Wina selalu menjagaku. Kalau di pikir Wina yang lebih pantas menjadi seorang kakak dari pada aku."
"Karena dia yang pandai bela diri, yang selalu saja bisa melawan orang-orang yang ingin berbuat tidak baik padaku."
"Sementara aku tidak bisa bela diri sama sekali. Bahkan aku tidak pernah menjaga adikku, justru sebaliknya Wina yang selalu menjagaku."
terus saja dirinya menggerutu sembari menatap langit-langit kamar. Tanpa sadar, perlahan matanya pun mulai terpecah.
Hal serupa juga sedang dialami oleh, Rama. Entah kenapa dia sedang memikirkan Wina.
"Aneh sekali, Wina ternyata adik kandung dari Eka. Tetapi kok rupanya jauh sekali ya, nggak ada mirip-miripnya."
"Jika dilihat Wina itu lebih cantik dari Eka, lebih putih, sempurna sekali bak peragawati."
"Heran saja, wanita cantik seperti Wina kok berprofesi sebagai tukang ojek? padahal bisa saja dia menjadi foto model atau peragawati."
"Seorang mahasiswi kedokteran, kok berprofesi sebagai tukang ojek? heran dech aku dengan Wina?"
__ADS_1
Terus saja Rama memikirkan Wina tanpa sadar kerap kali dia tersenyum sendiri pada saat melihat aksi lincah Wina melawan pria yang menyersbg dirinya pada sore tadi.
"Waduh... untung saja aku sedang ada di dalam kamar. Jika aku berada di samping Mamah, pasti aku sudsh di godanya karena senyam senyum sendiri seperti ini," gumamnya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.