
Esok harinya, Rangga mengolah makanan seperti yang di sarankan oleh dokter. Dan pada saat Rangga telah bangun, Ella juga mengajaknya untuk sejenak berlari kecil mengelilingi rumah.
"Sayang, aku nggak maulah. Yang ada nanti aku cape," tolak Rangga pada saat Ella mengajaknya untuk berlari kecil mengitari rumah.
"Mas, menurutlah demi kesehatanmu. Apa kamu nggak ingin sehat? nggak ingin panjang umur dan nggak ingin melihat tumbuh kembang, Baby Adnan? setidaknya lakukan demi anakmu."
Hingga pada akhirnya, Rangga menuruti kemauan Ella. Dia berlari kecil mengitari rumah di dampingi oleh, Ella hingga beberapa kali putaran.
"Sayang, aku ingin minum kopi ya?" pinta Rangga.
"Mas, perbanyak minum air putih. Sejak kapan kamu pagi-pagi minum kopi?" tanya Ella.
"Sejak, saat kita pisah rumah waktu itu. Aku sering minum kopi dari pagi, siang, dan juga malam," ucapnya.
"Sekarang kita sudah nggak pisah rumah, jadi kamu nggak perlu lagi ngopi terus. Ao lagi saat ini kamu sedang mengkonsumsi obat," ucap Ella tegas.
Dia benar-benar ingin suaminya hidup sehat dan benar, supaya terhindar dari penyakit. Hingga dia benar-benar bersikap tegas padanya.
"Sayang, kok kamu sekarang berubah ya?" proses Rangga manyun seperti sndk kecil saja.
"Berubah bagaimana?" tanyanya.
"Berubah jadi istri yang galak banget, bawel, dan juga suka mengatur," ucap Rangga ketus.
"Astaghfirullah aladzim, Mas Rangga. Aku berubah seperti ini untuk hal yang positif. Aku nggak ingin terjadi hal buruk padamu, karena aku ingin kamu bisa melihat Adnan tumbuh dewasa."
"Mas, cobalah berpikir jernih dan jangan seperti anak kecil. Karena kondisi kesehatanmu ini tidaklah main-main. Kamu sering lupa, jika kamu tidak bisa merubah gaya hidupmu. Amit-amit kamu bisa kena penyakit alzheimer, yang tak ada obatnya."
Rangga hanya diam saja mendengar apa yang di nasehatkan Ella padanya. Sementara Ella mencoba meredam emosinya.
Setelah selesai acara lari, Rangga dan Ella sejenak duduk di teras halaman. Ella memberikan air putih sati gelas padanya.
Beberapa menit kemudian...
"Mas, ayok kita sarapan. Aku sudah masak ikan salmon untukmu dan juga ada SOP kacang merah."
__ADS_1
Ella bergelayut di lengan Rangga, membawanya melangkah ke ruang makan. RmDimabs sudah ada orang tua Ella. Karena kebetulan Baby Adnan masih tertidur pulas.
Mereka berempat sarapan tanpa ada kata sama sekali. Hingga Rangga memecah keheningan," sayang, hari ini aku akan mulai ke kantor ya?"
"Aku ikut, mas. Dan aku ingin bertemu dengan asisten pribadimu ya?" ucap Ella.
"Memangnya untuk apa, kamu ingin bertemu dengan asisten pribadiku?" tanya Rangga heran.
"Nanti saja aku jelaskan jika kita sudah sampai di kantor. Sekarang kita fokus saraksn dulu saja," ucap Ella.
Di dalam hati, Rangga menggerutu," hem, ada apa sih sebenarnya? ingin bertemu dengan asisten pribadiku? pakai acara rahasia segala."
Setelah cukup lama berada di meja makan, Rangga dan Ella lekas meninggalkan meja makan.
Ella telah menyiapkan air untuk mandi Rangga, dan juga baju untuk ke kantor.
Beberapa menit kemudian...
Ella berpamitan pada orang tuanya terutama pada Bu Ari, untuk dirinya sejenak ke kantor menemani Rangga.
Ella dan Rangga menyalami kedua orang tua Ella. Setelah itu mereka lekas ke kantor, karena sopir pribadi sudah menunggu di pelataran rumah di balik kemudinya.
Perjalanan ke kantor hanya memakan waktu beberapa menit saja. Dan saat itu juga Rangga memanggil asisten pribadinya.
"Ada apa ya, Tuan Rangga?" tanya Pak Jamal.
"Sayang, sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan dengan, Pak Jamal? sebentar ya, pak. Karena istri saya yang ingin bicara pada, bapak," ucap Rangga.
Ella pun mengatakan maksud dan tujuan dirinya ingin bertemu dengan Pak Jamal. Dia meminta Pak Jamal untuk sementara waktu menghandle urusan kantor. Dan Rangga cukup bekerja dari rumah saja, sampai kondisinya pulih.
"Bagaimana, Pak Jamal. Apakah anda bersedia untuk sementara waktu menghandle urusan kantor. Nanti suami akan memantau kinerja anda dari rumah di dampingi oleh saya. Sampai dia benar-benar di nyatakan sehat," ucap Ella.
"Maaf, Nona Ella. Apakah anda sudah membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan, Tuan Rangga?" tanya Pak Jamal.
"Belum, Ella sama sekali tidak mengatakan apapun padaku. Ella, kenapa kamu bertindak sendiri seperti ini? seharusnya kamu membicarakan dulu denganku seperti yang dikatakan oleh, Pak Jamal itu ada benarnya. Lagi pula ini perusahaanku," protes Rangga.
__ADS_1
Ella sejenak menghela napas panjang," Mas Tanggae, ini hanya untuk sementara saja. Sampai kamu benar-benar sehat dan tidak pelupa lagi. Kenapa kamu seperti ini?"
"Ya sudah, terserah kamu saja dech!" Rangga sewot dan ia mengalihkan pandangan ke arah lain.
Ella berusaha memberikan pengertian pada, Rangga kembali.
'Mas Rangga, aku minta maaf jika kamu tidak setuju dengan saranku ini. Tetapi apakah kamu menyadari kejadian waktu itu, dimana kamu lupa segalanya?"
"Aku hanya ingin, pikiranmu fresh. Tidak stres memikirkan urusan kantor dulu, supaya kamu lekas sehat."
Rangga diam saja, dan pada akhirnya dia pun mengizinkan Pak Jamal untuk sementara waktu menghandle urusan kantor.
"Ya sudah, terserahlah!"
Ella pun mengatakan banyak hal pada Pak Jamal, untuk menghandle urusan kantor sementara waktu. Jika nanti Rangga telah benar-benar sehat, barulah Rangga kembali yang menghandle urusan kantor.
Setelah cukup lama di kantor, Ella mengajak Rangga pulang. Selama di dalam perjalanan pulang, Ranggfa mengomel.
"Kamu itu lama-lama kok keterlaluan sekali! sampai sejauh ini mengatur hidupku!"
"Apakah kamu nggak berpikir jika aku susah payah mendirikan perusahaan dari nol."
"Dan kamu dengan seenaknya saja, minta Pak Jamal untuk menghandle urusan kantor. Jika terjadi hal buruk di kantor bagaimana? apa kamu mau tanggung jawab?"
Untuk kesekian kalinya, Ella menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Mas, seharusnya kamu selalu positif thinking. Supaya hasil juga positif. Karena ucapan adalah doa."
"Lagi pula, Pak Jamal, bekerja denganmu sudah lama bukan? kenapa kamu nggak percaya padanya? jika kamu ragu padanya, lantas untuk apa pula, kamu pekerjaan dia sebagai asisten pribadimu?"
"Bukankah seorang asisten pribadi itu, orang yang sudah benar-benar di percaya?'
Rangga diam saja pada saat Ella mengatakan banyak hal. Tetapi wajahnya murung saja, bahkan ia sama sekali enggan menoleh ke arah Ella. Ia lebih banyak melihat ke arah lain.
"Ya Allah, beri hamba kesabaran dalam menghadapi suami hamba ini. Dia sedang sakit, tetapi serasa tidak sakit. Aku harus lebih extra sabar. Demi kesembuhan dirinya."
__ADS_1
Ella terus saja bergumam di dalam hatinya.