
Bu Ari merasa terkejut pada saat melihat kepulangan Ella," Nak, katanya kamu pulang jika usia kandungan sudah delapan bulan?"
"Nggak lah, Bu. Entah kenapa aku kok ingin pulang saja, nggak apa-apa kan Bu?"
Bu Ari tersenyum," astagaa...Ella..Ya nggak apa-apa lah. Ibu kan hanya sekedar bertanya saja, memangnya nggak boleh ya?"
'Oh iya, Nak Rama. Mau minum apa?" tanya Bu Ari ramah.
"Nggak usah, Bu. Aku pamit pulang ya, Bu. Karena kebetulan mamah sendirian di rumah, nggak tega juga berlama-lama. Gampang nanti kapan-kapan pasti aku akan sering kemari mengajak mamah," ucap Rama.
"Terima kasih ya, Nak Rama. Sudah mengantarkan Ella pulang," ucap Bu Ari.
"Iya, Bu. Sama-sama."
"Mas Rama, terima kasih ya. Hati-hati di jalan, dan aku minta maaf karena telah merepotkan Mas Rama untuk mengantarku pulang."
Ella menangkupkan kedua tangannya di dada seraya menyunggingkan senyuman manisnya.
"Nggak usah sungkan, Ella. Selama ini justru aku yang telah merepotkanmu dengan kamu merawat mamahku. Seharusnya aku yang berterima kasih. Ya sudah ya, kamu jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatan terutama, sebentar lagi kamu akan melahirkan. Jangan bosan mungkin aku akan sering datang bersama dengan Mamah untuk menjengukmu."
Setelah mengatakan banyak hal, Rama pun melangkah pergi dari rumah. Ia lekas melajukan mobilnya menuju arah pulang. Sementara Bu Ari mengajak ngobrol Ella sejenak.
"Ella, ibu khawatir jika suatu saat nanti Rangga datang lagi kemari," ucapnya dengan mimik wajah cemas.
"Bu, nggak usah khawatir. Aku akan hadapi Mas Rangga, aku yakin tidak akan melakukan kejahatan padaku. Jika aku terus menghindar dari masalahku, nggak akan ada ujung pangkalnya. Dan nggak akan selesai-selesai terus saja berlanjut."
"Aku berniat untuk mengajak bicara Mas Rangga, jika dia datang lagi kemari. Dengan maksud supaya dia tidak terus mengganggu hidupku ini."
Bu Ari bisa bernapas lega pada saat mendengar apa yang barusan di katakan oleh Ella. Selang beberapa jam, Ayah Bayu datang ng dengan maksud untuk menjenguk Bu Ari.
Ia sempat terhenyak kaget pada saat melihat Ella sudah ada di rumah," Ella, kamu pulang kapan? apakah kamu pulang sendirian? seharusnya hubungi ayah, biar ayah jemlut kamu."
__ADS_1
"Nggak usah sok perhatian, dech. Dari dulu saja menelantarkan anak istri."
Bu Ari memicingkan alisnya pada saat mendengar perkataan Ella," astaghfirullah aladzim...kamu nggak boleh seperti ini terus Ella. Nggak boleh memendam kebencian dan amarah yang berkepanjangan, apa lagi kamu ini sedang hamil loh."
Ella hanya diam saja pada saat mendengar nasehsty ibunya, justru Ayah Bayu yang berkata.
"Bu, nggak usah menyalahkan Ella. Ayah memang salah kok, biarkan saja Ella mengatakan apa pun yang ingin dia katakan. Jika itu bisa membuat dirinya tenang dan puas."
"Nah, itu sadar diri. Jadi ibu nggak usah terus membelanya yang telah menelantarkan kita berdua."
Ella melangkah masuk menuju ke kamarnya.
"Mas, aku minta maaf ya? hingga detik ini, aku belum bisa membuat Ella bersikap baik padamu."
Bu Ari merasa tak enak hati pada mantan suaminya tersebut.
"Bu, nggak perlu minta maaf. Sudah wajar jika Ella bersikap seperti itu padaku. Aku sama sekali tidak merasa sakit hatiz justru aku sampai detik ini masih merasa bersalah pada kalian berdua."
"Ibu, nggak usah khawatir ya. Nanti aku akan kerahkan seluruh anak buahku lagi Untuk berjaga di sekeliling rumah ini supaya Rangga tidak menggangu Ella."
Bu Ari hanya menganggukkan kepalanya perlahan seraya tersenyum ke arah Ayah Bayu.
Beberapa saat kemudian...
Rama sudah sampai di rumah, tetapi ia tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia justru duduk di teras halaman sembari melamunkan Ella.
"Jika kelak Ella benar-benar bercerai dan aku mengungkapkan isi hatiku. Apakah Ella bersedia ya, jika aku menjadi ayah sambung bagi anaknya kelak?"
"Entah kenapa rasa cinta ini bukannya semakin susut pada Ella. Justru semakin membara dan semakin kuat. Semoga saja doaku di ijabah oleh Allah."
Rama terus saja diam, pikiran traveling. Hingga satu tepukan tangan di bahunya yang berhasil membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Astaghfirullah aladzim, mamah. Kenapa nggak bersuara malah menepuk bahuku?"
"Hehehe.. ketahuan sedang melamun yah? pasti kamu sedang sedih kam? Ella susah tidak bersama kita. Mamah juga sebenarnya sedih. Tapi ya mau bagaimana lagi ya kan? kecuali dia itu sudah menjadi salah satu bagian dari keluarga kita, pasti bisa tinggal selamanya di sini bersama kita," ucap Bu Berta murung.
"Mah, ada hal yang ingin aku sampaikan pada, mamah. Tetapi aku minta, Mamah jangan marah ya?" ucap Rama ragu.
"Nggak usah formal seperti itu, Rama. Mamah sudah bis membaca apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu suka kan pada Ella?"
Rama tersipu malu pada saat mendengar perkataan Bu Berta," hestah... mamah seperti cenayang saja. Aku belum mengatakan apa pun tetapi Mamah sudah tahu."
"Mah, bagaimana kiranya? setuju nggak jika aku berniat meminang Ella kelak?" tanya Rama ragu.
"Jika mamah nggak setuju, untuk apa pula mamah selalu bercanda tentangmu. dan Ella," ucapnya untuk meyakinkan Rama.
"Tetapi apa mamah nggak keberatan karena Ella punya anak?" kembali lagi Rama bertanya.
"Nggak sama sekali, Rama. Justru mamah lebih senang, karena langsung menimang cucu. Walaupun itu bukan darah dagingmu sendiri, Mamah tidak bermasalah sama sekali."
Perkataan Bu Berta, membuat Rama sangat bersemangat untuk bisa mendapatkan Ella. Tetapi terlebih dahulu, Rama akan mengurus Mery. Karena ia bisa menjadi batu sandungan kelak pada hubungan dirinya dan Ella.
"Mah, aral rintangan yang terbesar hanya Mery. Aku sedang bingung bagaimana caranya supaya Mery tidak mengganggu kita lagi. Hingga sampai sekarang aku belum menemukan caranya," ucap Rama bingung.
"Rama, nggak usah kamu terlalu bingung seperti ini. Seiring berjalannya waktu, pasti kamu akan menemukan cara yang tepat untuk bisa membuat MEry tidak lagi mengganggu kita. Mamah minta jangan pernah berbuat jahat pada MEry. Pakailah cara yang halus untuk menyingkirkan MEry."
"Mamah bisa memahami, jika saat ini kamu belum bisa berpikir jernih karena di kantor banyak pekerjaan. Jadi kamu nggak usah terlalu banyak pikiran."
'Jalani hidup ini seperti aliran sungai. Tetapi tetap waspada karena Mery itu licik."
Rama langsung memeluk mamahnya penuh kasih," terima kasih ya mah, selalu memberikan aku saran yang positif."
"Ya, Rama. Karena nggak harus kejahatan di balas dengan kejahatan. Pasti ada cara yang tepat untuk bisa menyadarkan Mery. Hanya saja sampai detik ini, kita belum mengetahuinya."
__ADS_1