
Mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Ella, membuat Rangga begitu bahagia karena rasa terharunya. Tak sadar keluar cairan bening dari pelupuk matanya.
"Subhanallah walhamdulillah....pada akhirnya doaku terkabul juga. Terima kasih ya Allah, atas anugrahMu ini. Sayang, terima kasih ya kamu mau memberiku kesempatan untuk yang kedua kalinya."
"Aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahanku untuk yang kedua kalinya. Karena aku tidak ingin jauh lagi darimu dan anak kita."
"Aku sangat tersiksa sekali pada saat jauh darimu, dan aku tidak bisa menjadi seorang suami yang siaga di saat kehamilanmu."
Ella menyunggingkan senyuman," sudahlah, mas. Yang Lalu biarlah berlalu, anggap saja semua itu sebagai pembelajaran buat kita berdua."
"Di mana kamu harus percaya pada istrimu, jangan percaya pada orang lain. Meskipun dia itu anakmu atau orang terdekatmu sebelum kamu menyelidikinya lebih lanjut."
"Ini juga suatu pembelajaran bagiku, supaya aku bisa bersikap lebih sabar lagi, dan ikhlas menerima semuanya."
"Aku juga minta maaf padamu, mas. Karena aku belum bisa menjadi istri yang sempurna dalam berarti aku masih belum bisa menahan rasa emosiku."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ella, justru membuat Rangga semakin bertambah terharu," ia pun memeluk Ella."
"Mas, apakah kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" Ella sengaja mengalihkan perhatian Rangga, supaya dia tidak sedih terus.
Rangga pun mengusap air matanya, ia pun berkata," apa aku di izinkan untuk memberikan nama apa anak kita? aku pikir tidak di izinkan. Aku sudah menyiapkan sebuah nama yakni Adnan."
"Kalau boleh tahu apa arti nama, Adnan?" tanya Ella penasaran.
"Arti dari kata Adnan yaitu penenang hati," ucap Rangga.
Saat ini Rangga sedang diliputi berlipat-lipat kebahagiaan, di mana anaknya telah lahir dan juga istrinya sudah bisa memaafkannya. Baginya ini adalah suatu anugerah terindah dari yang Maha Kuasa, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
__ADS_1
"Sayang, berarti setelah ini kamu akan tinggal di rumahku lagi bukan?" tanya Rangga untuk memastikan.
"Iya, mas. Tapi aku ingin tanya dengan ibu dulu, apakah dia akan ikut dengan kita atau tidak," ucap Ella.
Tak berapa lama datanglah Bu Asih, beserta mantan suaminya serta Fredy. Mereka turut bahagia melihat Ella dan anaknya dalam kondisi sehat walafiat.
"Ella, apakah sudah ada nama untuk anakmu ini?" tanya Ayah Bayu.
"Sudah, Ayah. Mas Rangga yang telah memberikan nama untuk anak kami," ucapnya singkat.
"Ayah-Ibu, aku ingin membicarakan sesuatu pada kalian. Setelah aku melahirkan, aku memutuskan untuk tinggal di rumah Mas Rangga kembali."
"Setelah aku berpikir-pikir, aku mengurungkan niatku untuk menggugat cerai, Mas Rangga. Ibu, apakah akan ikut dengan kami?"
Bu Ari pun terdiam, seolah ia sedang berpikir. Di dalam hatinya agak sedikit bingung," bagaimana ini ya? apakah aku ikut dengan Ella atau tidak?"
"Baiklah, kalau begitu aku akan menuruti kemauanmu untuk sementara waktu aku akan tetap tinggal bersama ibu dulu. Nanti setelah Ibu dan Ayah menikah ulang, aku akan kembali ke rumah Mas Rangga."
"Ayah-ibu, aku mau minta izin ya. Selama aku tinggal di rumah Ibu, boleh kan Mas Rangga juga ikut tinggal bersama kita?"
Sejenak Bu Ari dan ayah Bayu saling berpandangan satu sama lain mereka juga menatap ke arah Fredy seolah meminta persetujuan.
Fredy pun terpojok Ia pun berkata," ayah dan Ibu yang mengambil keputusan jangan aku."
"Bagaimana, ayah? kan ayah yang kelak akan menjadi kepala keluarga, jadi ayah yang berhak untuk memutuskan. Apa lagi rumah itu adalah rumah, ayah," ucap Bu Ari.
"Ya sudah, nggak apa-apa. Biarkan saja Rangga tinggal bersama kita, nanti pada saat kita menikah sekalian saja kita membuat syukuran untuk memberikan nama kepada anak, Ella," ucap Ayah Bayu.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Ayah-Ibu. Telah mengizinkan aku untuk tinggal di rumah kalian menemani Ella,' ucap Rangga.
Baik bu Ari maupun Ayah Bayu hanya menyunggingkan senyuman saja, mereka tak mengatakan apapun.
Esok harinya, Ella telah di izinkan pulang oleh dokter. Karena kondisi Ella dan bayinya dalam kondisi sehat. Ella sangat lega, ia merasakan ada yang beda pada dirinya. Di saat ia telah mampu memaafkan ayah dan suaminya.
"Ternyata menyimpan rasa kebencian yang mendalam itu tidaklah baik, untuk diri sendiri. Pada saat aku masih menyimpan amarah dan dendam kepada ayah dan juga Mas Rangga, hidupku selalu saja diliputi oleh rasa kepahitan. Di dalam diri ingin selalu marah dan marah terus, bahkan yang ada cuma rasa kecewa terus."
"Menyimpan kesalahan orang lain begitu lama, ternyata tidaklah berdampak positif bagi kehidupanku. Aku sangat bersyukur karena pada akhirnya bisa membebaskan diri ini dari amarah dan dendam kepada ayah dan suamiku."
"Awalnya ini terasa sulit bagiku, tetapi lambat laun Allah meluluhkan hatiku. Sehingga entah bagaimana aku bisa memberikan pintu maaf kepada ayah dan juga suamiku."
"Karena aku pernah ingat satu hal pada saat ikut suatu pengajian, di mana Allah tidak akan mengampuni dosa dan kesalahan kita selagi kita juga tidak bisa mengampuni dosa dan kesalahan orang lain. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi kepadaku jika aku terus menyimpan amarah dan dendam kepada ayah dan suamiku. Aku tidak ingin Allah murka kepadaku, dan tidak memberikan pintu maaf kepadaku."
Terus saja Ella menggerutu di dalam hatinya, kini ia benar-benar merasakan suatu kebahagiaan. Karena telah berhasil meredam amarahnya sendiri.
Beberapa hari kemudian...
Di rumah tersebut, di selenggarakan acara pernikahan secara sederhana. Acara ijab kabul pernikahan ulang Bu Ari dan Ayah Bayu. Juga acara syukuran pemberian nama untuk anak, Ella.
Acara di hadiri oleh tetangga kiri kanan saja, dan juga di hadiri oleh Bu Berta dan Rama. Rama juga sempat mendengar berita bahwa Ella mengurutkan niatnya untuk bercerai dari Rangga.
"Ternyata Ella memang bukan jodohku. Ini terbukti karena dia pada akhirnya kembali lagi pada suaminya. Beginilah cinta, deritanya tiada akhir," batin Rama mengasihani diri sendiri.
Tetapi hidup harus terus berjalan, dia tak ingin putus asa hanya karena cinta tak bersambut. Apa lagi dia punya seorang ibu, jika dia putus asa dan nekad. Dia nggak bisa membayangkan bagaimana nasib ibunya tanpa ada dirinya.
Acara ijab kabul dan syukuran pemberian nama pada anak Ella, berjalan lancar dan tidak ada halangan sama sekali.
__ADS_1