Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Permohonan Orang Tua Mery


__ADS_3

Tiba-tiba Papahnya Mery bersimpuh di kaki Rama, membuatnya kaget," om tolong jangan seperti ini dong."


"Om tidak akan berhenti bersimpuh di kakimu, Rama. Sebelum kamu mau mengabulkan permohonan, kami," ucapnya seraya tertunduk.


"Permohonan apa ya, Om. Kalau untuk permasalahan masa hukuman Mery, mohon maaf saya tidak bisa untuk bertindak. Karena itu sudah sesuai dengan ketetapan dan ketentuan dari pihak pengadilan. Itu pun melihat dari kejahatan yang telah dilakukan oleh, Mery," ucap Rama seolah telah tahu apa maksud dan tujuan oran tua Mery menemuinya.


Mamahnya Mery ikut serta bersimpuh di kaki Rama, bahkan ia sampai menangis," Nak Rama, mohon kebijaksanaannya. Setidaknya hukuman Mery jangan terlalu panjang. Masa iya lima belas tahun di dalam penjara? kasihani kami juga sebagai orang tuanya karena hanya Mery yang kami punya," ucapnya seraya sesenggukan dalam tangisnya.


"Mohon maaf, tante. Saya tidak bisa mengabulkan keinginan tante, karena yang menentukan masa hukuman itu bukan saya, tetapi pihak pengadilan. Jadi saya tidak bisa seenaknya meminta kepada pihak pengadilan untuk mengurangi masa tahanan Mery. Jika om dan tante ingin hal itu, sebaiknya kalian naik banding saja. Seharusnya dari awal kalian mengatakan keberatan kepada pihak pengadilan dan ingin banding," ucap Rama menjelaskan.


'Jadi Nak Rama, tidak mau memberikan belas kasihnya kepada kami berdua? tega banget sih, kejam sekali. Ayoh, mah. Percuma saja kita berlama-lama di sini, tetapi tidak ada untungnya sama sekali."


"Lihat saja ya, Rama. Om tidak akan lupa tentang hal ini, suatu saat nanti om akan membalas kelakuanmu ini!" bentak Papahnya Mery seraya bangkit dari bersimpuhnya.


Dia mengajak istrinya pergi dari kantor Rama tanpa pamit sama sekali. Hal ini sempat membuat Rama tidak habis pikir," ternyata permintaan maaf mereka hanyalah kamuflase belaka. Mereka tidak tulus untuk meminta maaf."


"Seenaknya saja datang meminta untuk meringankan masa hukuman anak mereka, sedangkan itu sudah menjadi ketentuan dari pihak pengadilan. Salah siapa berbuat kejahatan ya harus merasakan imbasnya sendiri."


"Jika para penjahat diberi keringanan, pasti mereka akan merasa senang dan kembali lagi melakukan suatu kejahatan. Sudah sewajarnya setiap pelaku kejahatan mendapatkan imbalan yang setimpal dari apa yang telah ia lakukan supaya jera."


"Astaghfirullah aladzim, kenapa aku menjadi seperti ini ngomong sendiri gara-gara kedatangan orang tua Mery."


Rama pun berniat untuk segera memulai aktivitasnya, tetapi tiba-tiba perutnya merasa lapar.


"Aduh, perutku lapar sekali. Benar juga apa yang tadi dikatakan oleh Mamah, seharusnya aku terlebih dulu sarapan tetapi setiap aku melihat wajah Eka sudah kenyang dulu jadi malas untuk sarapan," geruntunya kesal.


Saat itu juga Rama memesan makanan melalui aplikasi grabfood. Hanya beberapa menit saja, makanan pesanannya telah sampai.


Tok tok tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.

__ADS_1


"Masuk!'


Masuklah seorang pengemudi grab membawa pesanan, Rama.


"Maaf Mas, saya lancang kemari. Walaupun saya sudah di larang oleh bagian resepsionis. Tetapi saya sudah terbiasa, jika suatu pesanan harus saya berikan kepada orang yang bersangkutan secara langsung."


Rama pun hanya mengangguk pelan," Ya sudah nggak apa-apa, letakkan saja di meja. Dan ini ongkosnya."


Ram meletakkan selembar uang, lima puluh ribuan di atas meja.


"Maaf, Mas. Bukannya pesanan ini sudah langsung dibayar dengan aplikasi gopay anda dan sudah termasuk ongkos kirimnya. Jadi mas nggak perlu membayarnya lagi."


Si tukang grab tersebut menolaknya.


Tetapi Rama tetap memaksa," nggak baik ya, menolak rezeki. Ambillah uang ini, anggap saja ini rezekimu tidak boleh seperti ini dosa loh."


Tetapi si tukang grab tersebut tetap tidak mau menerimanya, ia malah lekas berlalu pergi dari ruang kerja, Rama.


Rama pun lekas makan, karena perutnya sudah tida bisa di ajak kompromi. Pada saat makan, dia selalu ingat dengan Ella.


"Makanan ini tidak se lezat masakan Ella. Astaghfirullah aladzim, lagi-lagi aku ingat pada, Ella."


Rama mengusap dadanya berkali-kali, ia pun melanjutkan makannya.


*****


Sore menjelang...


Waktu pulang pun telah tiba, tetapi Rama malas sekali untuk segera pulang ke rumah.


" Dulu aku selalu ingin pulang cepat, karena aku ingin lekas bisa melihat wajah ayu Ella. Sekarang aku malas untuk pulang cepat karena sudah nggak ada lagi yang membuatku semangat untuk menjalani kehidupan ini."

__ADS_1


"Aku ingin mengetahui kabar Ella, sejak dia memutuskan untuk tinggal di rumah suaminya lagi, aku ragu jika ingin menelpon atau sekedar mengirim chat pesan, hanya untuk mengetahui kabar dirinya dan baby Adnan."


Rama pun memutuskan untuk sekedar mengirimkan chat pesan ke nomor ponsel, untuk mengetahui kabar Ella dan anaknya.


[Ella bagaimana kabarmu dan anakmu? sudah satu bulan ini kita tidak pernah saling bertanya tentang kabar. Semoga kalian sekeluarga baik-baik saja.]


Drt drt drt


Ponsel Ella bergetar, sebagai tanda satu notifikasi chat pesan masuk ke dalam nomor ponselnya.


Kebetulan saat itu Ella sedang berada di kamar mandi dan hanya ada Rangga yang baru pulang dari kantor.


Karena rasa penasaran yang tinggi, Rangga pun ingin mengetahui apa dan siapa yang telah mengirim chat pesan ke nomor ponsel istrinya.


Dia pun tanpa seizin Ella membuka chat pesan tersebut.


"Apakah aku saja yang membalasnya ya? tetapi rasanya aku cemburu walaupun sebenarnya isi chat pesan ini wajar saja hanya menanyakan kabar," batin Rangga.


Pada saat Rangga akan membalas chat pesan tersebut, Ella tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan ia mengambil paksa ponselnya yang ada di tangan Rangga.


"Mas Rangga, apa yang kamu lakukan dengan ponselku apa sedang mengecek ponselku? Mas Rangga masih saja tidak percaya padaku?" ocehnya kesal.


"Bukan begitu, sayang. Baru saja ada notifikasi chat pesan masuk, dan aku minta maaf tiba-tiba ingin sekali mengetahui siapa yang telah mengirim chat pesan ke nomor ponselmu, hingga aku barusan membacanya. Dan aku berniat untuk membalas chat pesan yang dikirim oleh Rama," ucap Rangga khawatir Ella marah.


"Oalah...aku pikir kamu sedang mengecek ponselku. Maafkan aku ya, Mas. Sudah berpikir buruk padamu. Ya sudah ini tolong dibalas chat pesannya, karena aku akan memakai baju dulu."


Ella memberikan ponselnya kepada Rangga, supaya ia membalas chat pesan yang barusan dikirim oleh Rama.


Dengan senang hati, Rangga membalas chat pesan yang dikirim oleh, Rama.


[Alhamdulillah, kami semua di sini dalam kondisi baik dan sehat. Semoga hal serupa juga sedang di alami olehmu dan mamahmu.]

__ADS_1


Hanya singkat balasan chat pesan tersebut.


__ADS_2