Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Pertolongan Dari Seseorang


__ADS_3

Sejenak Ella terdiam pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh pemuda tersebut. Ia sedang mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Kini ia pun ingat jika pada saat itu dirinya sedang berada di taman dan tiba-tiba datang beberapa lelaki bertubuh besar dan salah satunya membekapnya hingga ia tak sadarkan diri.


"Oh iya, Mas. Aku sekarang sudah ingat semuanya. Terima kasih atas pertolongannya, jika tidak entah bagaimana nasibku dan anakku," ucap Ella lirih.


"Anak, jadi kamu sedang hamil?" tanya pemuda itu serasa tak percaya karena melihat perut Ella yang rata.


"Iya Mas, aku saat ini sedang hamil dua bulan," ucap Ella lirih.


"Apa ada seseorang keluargamu yang bisa di hubungi, untuk datang kemari? atau aku antar kamu pulang saja, bagaimana?"


Sejenak Ella terdiam, ia bingung harus berkata apa pada pemuda yang ada di depannya itu. Tetapi ia juga memikirkan ibunya, yang saat ini pasti sedang mengkhawatirkan dirinya.


Melihat wajah murung yang terpancar pada diri Ella, pemuda itu pun telah mengerti jika saat ini ada suatu masalah yang sedang dirasakan olehnya.


"Oh ya, kita belum kenalan. Siapa namamu, namaku Fredy


Fredy mengulurkan tangannya kepada Ella seraya tersenyum.


"Ella." Jawabnya singkat seraya menyambut uluran tangan dari Fredy.


"Ella, sepertinya kamu sedang ada masalah? coba kamu ceritakan padaku, siapa tahu aku bisa bantu kamu. Dan kenapa juga orang-orang itu menculik dirimu?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Fredy.


Ella ragu ingin menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Fredy tetapi ia juga butuh seseorang untuk menumpahkan uneg-unegnya di hati.


"Bagaimana ini ya Allah, apakah etis jika aku bercerita tentang permasalahan rumah tanggaku? tolong beriku petunjuk, aku bingung. Aku sangat yakin jika para penculik itu adalah orang-orang anak buah, Sigit. Astaga...aku khawatir keselamatan ibu terancam, bagaimana ini?" batin Ella mendadak bertambah panik hingga keringat dingin keluarkan dari tubuhnya.


Hal ini juga bisa di ketahui oleh Fredy, ia pun bertanya lagi," Ella kamu kenapa terlihat panik, cerita saja padaku."

__ADS_1


"Mas, aku minta tolong. Selamatkan ibuku, aku mohon maaf," pinta Ella seraya dengan mata berkaca-kaca.


Fredy memicingkan alisnya, ia semakin bingung dengan apa yang di katakan oleh Ella," coba kamu ceritakan dulu dari awal supaya aku tahu duduk permasalahannya."


"Nanti saja, mas. Aku akan menelpon ibuku, dan aku minta mas tolong jemput dia, please. Nanti aku akan ceritakan semuanya, yang terpenting sekarang adalah keselamatan ibu ku dulu," rengek Ella.


"Ya sudah, sebaiknya sekarang kamu lekas menelpon ibumu," saran Fredy.


Akhirnya saat itu juga Ella meraih ponselnya untuk menelpon Bu Ari.


Kring kring kring kring kring


Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel Bu Ari yang saat ini berada di kamar sedang khawatir dan gelisah memikirkan nasib Ella. Bu Ari melihat ponselnya dan pada saat tahu Ella yang menelponnya ia langsung mengangkatnya.


"Ibu, cepatlah keluar dari pintu gerbang sekarang juga dan jika nanti ada seorang pemuda menjemput ibu langsung saja ikut ya. Nanti akan aku ceritakan setelah kita bertemu. Buruan, bu. Dan pastikan tidak ada satu orang pun yang mengetahui kepergian Ibu terutama Sigit."


Bu Ari menuruti kemauan Ella, ia lekas mengemasi beberapa pakaiannya dan melangkah pergi dari rumah tersebut secara diam-diam. Sementara saat ini Fredy dalam perjalanan untuk menjemput Bu Ari. Fredy sengaja melajukan mobilnya secara cepat supaya lekas sampai di tujuan.


Hanya beberapa menit saja Fredy telah sampai di depan pintu gerbang rumah mewah milik Rangga, dan Bu Ari sudah menunggunya dari tadi. Bu Ari langsung naik ke dalam mobil tersebut karena Fredy telah memberitahu padanya jika ia adalah seseorang yang diperintahkan oleh Ella untuk menjemputnya.


Di dalam hati Bu Ari banyak sekali pertanyaan yang saat ini ingin dilontarkan kepada Fredy, tetapi ia mengurungkan niatnya untuk bertanya karena ia merasa tidak enak hati.


Beberapa menit kemudian...


Mobil yang ditumpangi oleh bu Ari telah sampai di pelataran sebuah apartemeny mewah milik Fredy. Saat itu juga Fredy mengajak Bu Ari masuk ke dalam apartement di mana saat ini Ella sedang berada di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Bu Ari.


Pada saat Bu Ari melihat Ella yang sedang duduk di sofa ruang tamu, ia pun langsung berlari menghampirinya dan memeluk anaknya tersebut dengan derai air mata.

__ADS_1


"Ella, ibu sempat khawatir padamu. Ibu takut sekali," ucap Bu Ari.


"Kekhawatiran ibu memang benar adanya, aku baru saja di culik oleh beberapa orang tak. Tet Alhamdulillah bisa lolos ke Pertolongan, Mas Fredy. Aku yakin yang melakukan hal ini adalah anak buah, Sigit," ucap Ella dengan sangat pastinya.


"Lantas apa langkah selanjutnya kita?'" tanya Bu Ari.


"Aku juga nggak tahu, Bu. Apa yang harus kita lakukan, apa lagi semua pakaianku masih ada di rumah, Mas Rangga."


Fredy sempat mendengar apa yang di perbincangkan oleh keduanya hingga ia ikut berkata," untuk sementara waktu kalian tinggal sama di apartementku jika tidak keberatan."


Bu Ari dan Ella saling berpandangan satu sama lain seolah sedang saling meminta satu persetujuan. Hingga pada akhirnya Ella pun bersedia," baiklah, Mas. Untuk sementara waktu aku dan ibu akan tinggal di sini. Dan aku juga akan mencoba untuk mencari pekerjaan."


"Oh ya, jika kamu tidak keberatan bekerja saja di kantorku. Kebetulan aku sedang butuh sekretaris pribadi. Itupun kalau kamu bersedia," saran Fredy.


"Bagaimana ya, Bu?" Ella meminta saya saran dari ibunya.


"Terserah kamu saja, ibu saja yang bekey juga nggak apa-apa. Kamu cukup duduk manis di rumah."


Namun Ella tidak mau, karet ia mudah sekali bosan. Hingga pada akhirnya Ella yang bekerja di kantor milik Fredy. Kantor yang sangat besar dan megah.


"Baiklah, Ella. Kamu tak usah khawatir untuk segala pakaian. Nanti akan aku berikan beberapa baru untukmu dan ibumu," ucap Fredy.


Sementara saat ini Sigit sedang kesal karena rencananya gagal total.


"Sialan, kalian begitu bodohnya!? masa iya hanya dengar suara sirine kalian takut lalu pergi begitu saja meninggalkan kalian. Karena hati ini tidak ada satu pun orang yang bisa membantuku kita," ucap lantang Sigit di dalam markas barunya.


Salah satu dari anak buahnya bercerita bshwa suara sirine tadi semakin lama semakin mendekat. Dan juga ada beberapa anggota kepolisian yang berkata-kata. Padahal suara itu adalah rekaman sudara Fredy.

__ADS_1


__ADS_2