Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Kecewa Yang Teramat Sangat


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Ella menangis histeris. Ibu Ari yang melihat kepulangan Ella dengan wajah murung menjadi penasaran. Ia pun bertanya kepada Ayah Bayu," mas, apa yang telah terjadi pada Ella? sepertinya ia kok kecewa, terlihat jelas dari wajahnya."


"Iya, bu. Ella pasti sangat kecewa karena usahanya untuk membersihkan namanya gagal total. Suaminya sama sekali tak percaya padanya, bahkan sempat menuduhku sebagai pacar Ella juga. Padahal Ella sudah mengatakan semua kebenarannya dan ia juga sudah memberikan bukti yang kuat pada suaminya. Dengan membawa serta pria yang lebih di bayar oleh anaknya, tetapi tetap tak percaya juga. Dia berpikir, mana mungkin anak kandungnya bisa berbuat sejahat itu pada, Ella."


Mendengar penuturan yang di sampaikan oleh mantan suaminya, membuat Bu Ari ikut merasakan kesal dan marah pada Rangga," astaghfirullah aladzim, kok Pak Rangga seperti itu ya? kurang apa anakku selama ini padanya? padahal Ella begitu tulus cinta padanya tanpa memandabg umur yang terpaut begitu jauh."


"Bu, hiburlsh Ella. Dia pasti saat ini sangat terpukul setelah apa yang barusan terjadi. Jangan sampai ia mengalami kesedihan yang berlarut-larut, Bu. Dia kan sedang hamil," pinta Ayah Bayu mengingatkan Bu Ari.


"Ya, mas. Aku ke kamar Ella dulu ya, mas."


Saat itu juga Bu Ari melangkah ke kamar Ella dengan sesekali menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar merasa iba dengan nasib, Ella. Dengan permasalahan pelim yang saat ini di alami Ella.


Kebetulan pintu kamar Ella tidak terkunci, hingga Bu Ari bisa masuk dengan mudahnya. Dan ia pun menghampiri Ella yang sedang berbaring miring.


"Ella, kamu yang sabar ya. Ibu sudah tahu semuanya dari ayahmu. Janganlsh kamu terus terbawa dalam kesedihan dan kekecewaan. Kontrol emosimu Ella, ingatlah jika saat ini kamu sedang hamil. Jika kamu sedih dan menangis, anak di dalam kandunganmu juga akan merasakan hal yang sama. Itu bisa mengganggu kesehatan dan tumbuh kembang janinmu, nak."


Bu Ari mengusap perlahan-lahan punggung Ella, ia pun tak sadar matanya berkaca-kaca. Ia bisa ikut merasakan kesedihan yang saat ini di rasakan oleh Ella. Ia pun ingat pada saat dirinya hamil Ella, dan tidak ada suami di sampingnya. Semua itu terasa berat dan teramat susah.

__ADS_1


"Ya Allah, kenapa anakku juga harus merasakan penderitaan yang aku rasakan di masa lalu? dimana harus jalani kehamilan tanpa seorang suami di sisinya. Berikanlah jalan yang terbaik dan berikan ketegaran dan kesabaran serta kekuatan untuk Ella, supaya dia bisa melewato semua ini," doa Bu Ari di dalam hatinya.


Ella pun mengusap air matanya, dan perlahan ia berpaling dan duduk di ranjang," Bu, aku heran saja pada Mas Rangga. Masa iya, dia sama sekali tidak bada sedikitpun rasa percaya padaku. Padahal aku cinta dan sayang dia tulus dari dalam hati, dan tanpa syarat apa pun. Masa iya dia tidak bisa merasakan ketulusan dariku? hingga dia masih saja menuduhku yang bukan-bukan."


"Ella, sudahlah. Tak usah kamu memikirkan Rangga terus, kasihan anakmu. Dan ingatlah, kesehatanmu juga penting. Jika kamu terus saja sedih yang ada nanti kamu sakit, dan itu juga bisa berpengaruh pada janinmu. Ayohlah semangat, anak ibu ini kan kuat dan hebat. Percaya saja pada Allah, jika suatu saat nanti suamimu pasti akan mengetahui bahwa kamu ini berkata jujur."


Bu Ari terus saja menasehati Ella dengan segala nasehat yang positif. Hingga pada akhirnya, Ella pun sudah sedikit tenang. Dan ia pun menghapus air matanya.


"Bu, terima kasih ya. Dari pengalaman masa lalu ibu, aku bisa petik hikmahnya. Dimana dulu, ibu malah lebih parah dariku. Karena pada saat hamil aku , tidak ada sanak saudara atau orang tua. Masih beruntung aku, di saat aku alami seperti ini ada ibu dan...


Tiba-tiba pikiran Ella berakih kepada Ayah Bayu. Dia malah menganggap dirinya mendapatkan karma buruk dari perbuatan jahat ayahnya di masa lalu.


Bu Ari kembali menasehati Ella," nak, tidak ada yang namanya karma orang tua jatuh pada anaknya. Karma seseorang ya pasti jatuh pada orang itu juga. Ella, kamu nggak boleh mencampur adukkan permasalahau dengan masa lalu ibu. Masa lalu biar berlalu, tak usah menyangkut pautkan. Karena keduanya sama sekali tidak ada hubungannya sama sekali."


Ella pun diam, dia tak berkata lagi. Saat ini dirinya sedang tidak bisa berpikir jernih. Di dalam hatinya masih saja belum bisa menerima apa yang telah terjadi. Apa yang telah di katakan oleh Rangga, semuanya masih terngiang di telinga dan bahkan masih tersimpan di memori otaknya.


"Bu, aku ingin kira pergi jauh dari kota ini. Sudah tidak ada lagi harapan di kota ini, Bu. Aku sudah menyerah, Bu. Karena semua yang aku lakukan sudah tak ada gunanya, Bu. Jadi untuk apa aku bertahan di kota ini."

__ADS_1


"Awalnya, aku berharap bisa kembali pada Mas Rangga. Dengan bertemunya aku dengan pria yang telah menjebakku itu, aku pikir kesalah pahaman Mas Rangga terhadapku hilang. Ternyata tidak, Bu."


"Jadi percuma saja jika aku masih ada di kota ini. Aku sangat kecewa padanya, Bu. Padahal aku berkata jujur tentang apa yang telah menimpaku."


Bu Ato terdiam, ia tak lantas menjawab atau mengiyakan ajakan Ella untuk pergi dari kota tersebut.


Sementara di rumah sakir, pria itu terus saja murung dan sedih karena usahanya tidak berhasil.


"Ayah, ada apa?" tanya sang istri.


"Bu, aku benar-benar merasa sangat berdosa pada Mba Ella. Karena perbuatanku, hingga saat ini suaminya masih saja tak percaya padanya, Bu. Padahal aku sudah menunjukkan semua bukti chatinganku bersama Mas Sigit padanya. Tetap saja dia nggak percaya, Bu. Dia malah mengatakan nggak mungkin jika anak kandungnya berbuat sejahat itu pada, Mba Ella."


"Yang lebih parahnya lagi, Bu. Mas Sigit juga pernah mencoba menculik Mba Ella, tetapi ada yang menolong Mba Ella. Hingga mba Ella selamat, Bu."


"Bu, selamanya aku akan merasa di hantui oleh rasa bersalah karena aku, pasangan suami istri terpisah. Dan bahkan saat ini Mba Ella sedang hamil, Bu."


Pria ini pun tak kuasa menangis, ia benar-benar menyesali atas apa yang telah ia perbuat pada Ella. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Istrinya bingung harus bicara apa, karena memang suaminya bersalah, hingga ia pun hanya bisa diam melihat kesedihan dan penyesalan sang suami.

__ADS_1


__ADS_2