Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Pertolongan Seseorang


__ADS_3

Ada rasa heran pada Rama, karena ia paham sekali dengan cara kepenulisan Ella," tumben balasan chat Ella kok seperti ini ya? kepenulisannya juga terlihat kaku sekali."


Tetapi Rama mencoba menepis rasa curiganya dan ia mencoba bersikap masa bodoh, yang terpenting dirinya sudah mengetahui kabar Ella dan anaknya.


Saat itu juga, Rama pun memutuskan untuk kembali ke rumah.


"Kalau nggak ada mamah, aku enggan kembali ke rumah. Tetapi karena ada mamah, terpaksa aku harus pulang ke rumah juga. Walaupun pada dasarnya, aku malas sekali jika pulang melihat wajah, Eka."


Rama melajukan mobilnya menuju arah pulang. Karena dirinya sedang enggan untuk pulang. Dia pun memutuskan untuk mencari jalan pulang yang lumayan jauh.


Rama melajukan mobilnya menuju pedesaan sepi. Dia sama sekali tidak berpikir jika di jalan tersebut banyak sekali penjahat.


Tiba-tiba mobil terhenti, dan hal ini membuat Rama harus mengecek kondisi mobil.


"Ya...bocor dech. Jika seperti ini harus di ganti dengan ban mobil yg baru, tapi malas juga jika harus berkotor- kotor."


Rama malah hanya menatap ban mobil yang bocor tersebut. Pada saat dirinya akan di pukul tujuh oleh seseorang yang menutup wajahnya. Rama sempat melihat dari kaca spion, hingga ia bisa menghindari pria bertopeng tersebut.


"Heh, sialan! siapa kamu ya?" tanya Rama kesal.


Tetapi pria bertopeng tersebut tidak menjawab, justru tiba-tiba datang beberapa pria bertopeng lainnya. Mereka menyerang membabi buta pada Rama. Hingga Rama pun kerepotan melawan, karena dia hanya seorang diri sedangkan pria bertopeng tersebut ada lima orang.


Beberapa kali, Rama terkena hantaman dari beberapa pria bertopeng tersebut.


"Jika seperti ini, aku bisa kalah oleh mereka. Bagaimana ini, masa tidak ada orang yang melintas di daerah sini?"batin Rama terus saja melawan beberapa pria bertopeng tersebut. Walaupun tenaganya sudah hampir habis.


Hingga pada saat dirinya sudah tidak kuat lagi, pertolongan pun datang. Da seorang pengemudi ojek online yang melintas.


Kelima pria bertopeng tersebut bisa di kalahkan hanya dengan begitu saja. Mereka lari tunggang langgang, sementara Rama tergeletak begitu saja merasakan tubuhnya sudah tidak bisa lagi untuk bergerak karena rasa lelah.


"Terima kasih ya, jika tidak ada kamu entah seperti apa nasibku,"ucap Rama yang merasa kelelahan.

__ADS_1


"Ya, mas. Lain kali nggak usah lewat jalan ini, karena di tempat ini terkenal rawan sekali aksi kejahatan seperti pembegalan,' ucap si tukang ojek tersebut.


"Sebentar, sepetinya aku pernah mendengar suaramu dan dirimu. Tapi dimana ya?"


Pada saat Rama sedang mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan tukang ojek tersebut, ia malah terlebih dahulu berkata," anda yang telah memesan makanan melalui aplikasi grabfood."


"Oh ya, benar sekali. Saya baru ingat akan hal itu. Semua serba kebetulan ya, kita bertemu di sini. Coba lepaskan helmmu karena aku ingin berkenalan denganmu. Jangan lupa dengan maskermu itu," pinta Rama yang sangat penasaran dengan sosok orang yang ada di balik seragam gojek.


"Memang kenapa jika kita berkenalan dengan kondisi aku tetap memakai masker dan helm? apa itu sangat membuatmu terganggu? jika begitu nggak usah saja kita berkenalan. Yang terpenting niatku ini iklhas untuk menolongmu."


"Hem, ya sudah dech. Terserah saja apa maumu, terima kasih ya."


Tukang ojek tersebut hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Dan ia pun segera menolong Rama untuk menggantikan ban mobil tersebut.


'Aduh, jika tidak melepaskan helm ini. Mana mungkin aku bisa menganggannto bam mobilnya? secara aku harus masuk ke dalam kolong mobil bukan?"


"Sebaiknya aku minta tolong kepada rekan sesama gojek untuk datang kemari untuk menolong pria ini."


Beberapa menit kemudian...


"Bro, tolong aku ya? itu gantikan ban mobilnya, karena aku masih ada urusan penting.'


Saat itu juga tukang ojek yang enggan untuk melepaskan helmnya berlalu pergi begitu saja. Hal ini membuat Rama semakin penasaran dengan jati dirinya.


"Mas, sebenarnya tukang ojek yang tadi itu siapa sih namanya? masa iya aku ingin berkenalan saja, dia enggan untuk membuka masker dan juga helmnya? padahal aku cuma ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang barusan."


Tukang ojek yang baru datang itu pun tersenyum," dia memang wanita yang aneh dan sifatnya sangat dingin. Tetapi sebenarnya dia itu sangat baik l, gemar menolong orang."


Rama sempat terperangan pada saat mendengar penuturan tukang ojek yang saat ini sedang membantu dirinya mengganti ban mobilnya," hah, jadi dia seorang wanita? pantas saja suaranya terlihat berbeda."


"Iya, Mas. Dia itu seorang wanita, di samping dia cantik dia juga sangat baik. Dia itu menjadi tukang ojek sebagai sampingan saja, untuk bisa membayar biaya kuliahnya," ucap pria itu.

__ADS_1


"Luar biasa sekali ya, kalau boleh tahu siapa namanya ya Mas?" tanya Rama penasaran.


"Namanya, Wina. Dia seorang mahasiswi di sebuah fakultas kedokteran."


"Kembali lagi, Rama terperangah. Ia benar-benar tidak menyangka ada seorang wanita yang berprofesi sebagai tukang ojek ternyata adalah seorang mahasiswa disebut fakultas kedokteran.


Sejenak Rama terus saja menelusuri tentang jati diri Wina, melalui tukang ojek yang ada di depannya itu.


"Terima kasih ya, mas. Atas bantuannya, tetapi sayangnya, mas nggak mau memberi tahuku tentang alamat rumahnya."


Rama memberikan sejumlah uang kepada tukang ojek tersebut, karena telah membantunya menggantikan ban mobilnya. Seraya wajahnya murung karena tak berhasil mendapatkan alamat rumah, Wina.


"Maaf ya, mas. Semua teman-teman ojek Wina, sudah diberitahu olehnya. Jika ada seseorang yang menanyakan tentang alamat rumahnya, jangan di beri tahu. Saya tidak ingin nantinya, Wina marah pada saya."


Tukang ojek tersebut menangkupkan kedua tangannya di dada seraya tersenyum.


"Ya sudah enggak apa-apa, mas."


Saat itu juga, tukang ojek tersebut langsung pergi dari hadapan Rama. Begitu pula dengan Rama, ia segera melajukan mobilnya arah pulang.


Sepanjang perjalanan pulang, ia terus saja memikirkan Wina.


"Pantas saja pada saat awal aku berjumpa, di saat dia menghantarkan pesanan makananku. Ia serasa aneh, karena suaranya itu seorang wanita bukan suara seorang pria."


"Jiika memang dia membutuhkan uang untuk membayar biaya kuliahnya, kenapa pada saat itu tidak mau menerima uang yang aku berikan ya?"


"Dasar wanita yang aneh, rasa gengsinya terlalu besar. Mungkin dia tidak mau menerima uang secara cuma-cuma."


"Sialan, kenapa aku jadi terus memikirkan Wina ya? bahkan sampai sekarang masih penasaran bagaimana wajahnya.


Terus saja Rama memikirkan tukang ojek yang telah menolong dirinya, yang ternyata adalah seorang wanita bernama Wina.

__ADS_1


__ADS_2