
Rangga pun mengiyakan," iya, istri saya bernama Ella. Jika mba memang tahu tentang keberadaan istri saya, tolong antar saya ke sana. Supaya saya bisa mengajaknya pulang."
Mery sangat senang mendengarnya," baiklah, Pak. Bagaimana kalau sekarang juga kita kesana."
Dengan penuh antusias, Rangga pun mengikuti kepergian Mery.
"Hem..saat di cari tak juga di temui. Nggak di cari eh nongol sendiri. Memang keberuntungan sedang berpihak padaku, satu masalah terselesaikan, kini tinggal memikirkan bagaimana caraku menyingkirkan, Tante Berta," batinnya senang.
Mery melajukan mobilnya menuju ke rumah Rama, dan tak berapa lama sampai juga di pelataran rumah Rama karena kebetulan pintu gerbang terbuka lebar, dan sopir pribadi rumah tersebut sedang sibuk memanasi dua mobil milik Rama. Sedangkan security sedang sarapan di dapur.
Rama begitu terkejut pada saat dirinya melihat ada dua mobil parkir di pelataran rumahnya.
"Siapa mereka, masuk rumah orang seenaknya saja. Hem, pak sopir dan security teledor sekali membuka pintu gerbang selebar itu," gumamnya kesal.
Rama semakin terkejut pada saat melihat siapa yang keluar dari salah satu mobil itu," astaga..itu kan Mery? lantas siapa yang ia ajak kemari?"
Rama semakin penasaran hingga ia pun menghampiri Mery dan Rangga," ada apa kamu datang kemari sepagi ini?"
"Mas Rama, kamu dan Tante Berta sudah tidak bisa membohongi aku lagi. Jika sebenarnya Ella itu bukan istrimu. Pri inilah suami saja dari, Ella. Ia sengaja aku bawa kemari untuk mengajak Ella pulang ke rumahnya, karena Ella sudah lama nggak pulang."
Mendengar penuturan dari Mery membuat Rama terhenyak kaget. Ia pun menggerutu di dalam hatinya," bagaimana Mery bisa tahu jika Ella sebenarnya bukan istriku? lantas, apa benar pria itu adalah suami, Ella? karena aku sama sekali belum pernah bertemu suaminya."
"Mas Rama, pasti saat ini kamu sedang berpikir. Bagaimana aku bisa tahu tentang Ella. Karena aku tak sebodoh yang kamu pikirkan, aku cinta sama kamu, makanya diam-diam aku menyelidiki sosok, Ella," ucapnya seraya tersenyum.
"Ella, keluar kamu! cepatlah, suamimu sudah menunggu!" tiba-tiba Mery berteriak memanggil nama, Ella.
"Heh, nggak sopan sekali sih kamu datang ke rumah orang teriak-teriak seperti ini!" bentak Rama kesal.
"Yang nggak sopan itu, Ella. Masa iya tinggal serumah dengan lelaki yang bukan muhrim, padahal dirinya sudah bersuami," ejek Mery.
"Diam kamu ya! tak usah menghina Ella, karena dia wanita baik-baik!" Rama membela Ella.
"Maaf, lantas untuk apa Ella tinggal di sini?" tiba-tiba Rangga ikut bertanya.
"Ella merawat mamahku sudah sejak lama. Berkat dia pula, mamahku menjadi pulih dan bisa berjalan lagi. Aku memang sengaja mengatakan Ella istriku supaya kamu nggak datang lagi kemari, Mery. Karena aku sudah muak denganmu!" umpat Rama.
"Bu, sepertinya ada keributan di luar. Apa nggak sebaiknya kita keluar saja? tapi aku malas, Bu. Jika memang di luar ada suamiku," ucap Ella.
"Begini saja, sebaiknya kamu tak usah keluar. Biar saja ibu yang keluar, dan kamu bersembunyi saja di ruang kerj, Rama."
__ADS_1
Ella pun setuju, ia melangkah ke ruang kerja Rama. Karena kebetulan Bu Berta telah memberinya kontak pintu ruang kerja, Rama.
Bu Berta lantas melangkah ke pelataran rumah," ada apa sih, Rama? kok berisik banget, terdengar hingga di kamar mamah?"
"Ini, mah. Ada Mery bawa orang katanya sih suaminya Ella," ucap Rama kesal.
"Iya, Bu. Saya suami sah, Ella. Sudah sejak lama saya mencari keberadaan Ella tapi tak juga ketemu. Untung saja saya bertemu dengan, Mbak Mery jadi tahu Ella ada di sini," ucap Rangga.
"Tante, sudah nggak bisa berbohong lagi padaku. Ell itu bukan istrinya, Mas Rama kan? mana Ellanya, kenapa nggak keluar juga?" Mery berkata lantang.
"Aku memang sengaja berbohong, supaya kamu nggak datang lagi mengganggu Rama. Karena aku tak suka padamu, wanita jahat."
"Dan untuk anda, Ella sudah tidak bekerja lagi di sini. Sejak ia syukuran tujuh bulanan kehamilannya, ia sudah kembali ke rumahnya."
Rangga kecewa mendengar apa yang barusan di katakan oleh Bu Berta. Ia sama sekali tak bisa berkata, hanya Mery yang terus saja berkata," Tante, nggak usah berbohong dech. Pasti Ella bersembunyi di dalam rumah. Biar aku geledah saja rumah, Tante."
Tanpa ada rasa malu, dan tanpa permisi. Mery tiba-tiba melangkah masuk ke dalam rumah begitu saja.
"Heh, lancang banget sih kamu!" bentak Rama kesal.
"Biarkan saja, Rama. Toh Ella sudah pulang ke rumahnya, jadi nggak akan ketemu walaupun Mery mencarinya.
Tak berapa lama, Mery keluar dengan perasaan kesal yang teramat sangat.
"Mana Ella? katanya kami menyembunyikan dirinya?" ejek Bu Berta pada Mery.
"Pak Rangga, maaf ya. Ternyata Ella sudah nggak ada di sini, jadi aku nggak bisa mempertemukan anda dengannya," ucap Mery merasa telah di permalukan oleh Berta dan Rama.
"Nggak apa-apa, Mba Mery. Tapi apakah Mba Mery tahu dimana rumah Ella?" tanya Rangga di hadapan Rama dan Bu Berta.
"Tahu, pak. Mari kita ke rumah Ella saja."
Mery benar-benar tidak ada sopan santunnya sama sekali. Ia tidak pamit atau permisi. Lain halnya dengan Rangga, ia berpamitan pada Rama dan juga pada Bu Berta.
Selepas mereka pergi, Rama langsung memberikan nasehat pada Security dan pak sopir supaya tidak teledor lagi dan supaya lebih waspada. Jangan sampai terulang lagi, pintu gerbang terbuka lebar.
Bu Berta masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Rama. Ia pun melangkah ke ruang kerja Rama, hal ini membuat Rama heran," kenapa Mamah ke ruang kerjaku?"
"Karena Ella bersembunyi di ruang kerja," jawab Berta singkat.
__ADS_1
Bu Berta segera mengetuk pintu ruang kerja tersebut dan Ella pun segera keluar.
"Bu, terima kasih ya. Telah membantuku bersembunyi, karena aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya. Aku juga sudah memutuskan untuk menggugat cerai dirinya jika anak ini telah lahir," ucap Ella.
"Sama-sama, Ella. Tetapi saat ini suamimu dan Merry dalam perjalanan menuju ke rumahmu. Kamu setelah hubungi ibumu, katakan jika suamimu sedang menuju ke sana."
"Baiklah, Bu."
Saat itu juga Ella meraih ponselnya yang ada di dalam kantong bajunya, dia pun segera menelpon, Bu Ari.
Kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel Bu Ari, ia lekas mengangkatnya.
📱"Ada apa Ella?"
📱"Bu, Mas Rangga sedang dalam perjalanan ke rumah. Tadi datang kemari, tapi aku sembunyi. Ia datang bersama dengan seorang wanita."
📱" Loh, bagaimana Rangga bisa tahu alamat rumah ini dan alamat rumah Rama?"
📱" Nanti aku jelaskan jika sudah ada waktu luang. Ibu fokus saja menghadapi Rangga dan Mery."
📱"Baiklah."
Setelah itu keduanya sama-sama mematikan panggilan telepon mereka. Tetapi di dalam hatinya, timbul berbagai pertanyaan di otaknya.
"Rangga datang bersama dengan wanita? siapa wanita itu ya? tadi Ella sama sekali tidak mendetail dalam menjelaskan, jadi aku masih penasaran.
Tak berapa lama muncullah dua orang yang barusan diceritakan oleh Ella di dalam panggilan telepon mereka adalah Rangga dan Mery.
"Bagaimana kabar, ibu? sehat bukan? aku datang kemari untuk menjemput Ella, jika Ibu berkenan ikut denganku juga."
Rangga mengulurkan tangannya untuk menyalami Bu Ari, tetapi tak mendapatkan respon sama sekali dari Bu Ari. Ia malah memalingkan wajahnya.
"Untuk apa kamu datang mencari Ella, jika hanya untuk menyakitinya? apalagi dengan membawa seorang wanita. Istrimu saja belum melahirkan dan masih sah menjadi istri tetapi kamu sudah menduakannya."
Bu Ari hanya asal bicara saja tanpa mengerti duduk permasalahan yang sebenarnya, hingga Merry pun merasa kesal karena dirinya dituduh sebagai pacar dari, Rangga.
"Heh, Bu. Jangan asal ngomong ya, jika tidak tahu yang sebenarnya. Aku ini tidak ada hubungannya dengan Pak Rangga, justru akulah yang memberi tahu rumah ini kepadanya. Aku adalah calon istri dari, Mas Rama," ucapnya lantang.
__ADS_1
"Hah, calon istri Mas Rama? yang aku tahu Mas Rama itu tidak punya pacar sama sekali. Masa iya mendadak punya calon istri," ejek Bu Ari tersenyum sinis.