Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Sangat Kecewa


__ADS_3

Rangga segera melangkah untuk menemui Sigit, selagi Ayah Bayu sejenak ngobrol dengan beberapa anak buahnya. Iya ditemani oleh, Ella.


Pada saat sudah berada di hadapan Sigit, Rangga sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


PLAK!


Satu tamparan mendarat di salah satu pipi Sigit.


Sigit hanya bisa tertunduk, ia tidak berani menatap ke wajah Rangga.


"Kenapa kamu menundukkan kepalamu seperti itu, merasa bersalah, merasa berdosa? jika Papah tahu kelakuanmu akan seperti ini, dulu pada saat kamu ada di kandungan mamahmu, Papah racun sekalian supaya kamu tidak lahir di dunia ini."


"Menyesal punya anak sepertimu, padahal segalanya Papah berikan padamu, tetapi seperti ini balasannya! masa hukuman yang sedang kamu jalani bukan membuatmu jera, malah semakin membuatmu bertambah menjadi-jadi saja."


"Jika papah tidak takut dosa, sudah Papah cekik kamu, papah bunuh kamu saat ini juga! daripada kamu hidup hanya membuat malu orang tua saja!'


Ella merasa khawatir dengan kesehatan Rangga, melihat amarahnya yang menggebu-gebu. Ia pun mencoba meredam kemarahan suaminya," mas, sudahlah tak perlu marah-marah terus seperti itu. Ingatlah kamu sedang sakit, aku tidak ingin kemarahanmu membuat sakitmu tak kunjung sembuh."


Sigit diam saja, ia masih terus menundukkan kepalanya tanpa berani menatap sedikitpun ke arah Rangga maupun Ella.


"Sigit, seharusnya masa hukuman yang kamu jalani kamu gunakan untuk berbuat baik di dalam penjara, supaya pihak kepolisian bisa memberikan sedikit keringanan hukuman kepadamu. Bukan malah kamu berbuat onar lagi dengan kabur dari penjara. Dan lebih parahnya lagi kamu merampas semua yang ada di kantor papahmu sendiri," ucap Ella.


"Dengan begini masa hukumanmu bukannya berkurang, tetapi pihak kepolisian akan menambah lagi karena perbuatanmu ini," ucap Ella kembali.


Perlahan Sigit menengadahkan kepalanya, ia menatap tajam ke arah Ella tanpa berkedip sama sekali.


"Semua yang terjadi padaku karena kamu. Sejak kamu hadir di dalam kehidupan papah, semuanya menjadi tidak karuan. Berbeda dengan dahulu, pada saat tidak ada kamu. Kehidupanku dan Papah baik-baik saja. Semua ini karena salahmu Ella, jadi tak usah kamu sok menasehatiku, koreksi dirimu sendiri!"


Mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Sigit, membuat Rangga kembali terbakar amarah," semua yang terjadi padamu karena perbuatanmu sendiri, tetapi kenapa kamu masih menyalahkan orang lain! bukannya mengoreksi dirimu, sadar akan kesalahanmu, kamu malah seperti ini!"

__ADS_1


"Mas Rangga, sudahlah tak usah kamu marah-marah lagi. Nggak usah terlalu mengambil hati apa yang barusan dikatakan oleh, Sigit. Memang susah jika kita bicara pada orang yang keras kepala. Apalagi orang tersebut sama sekali belum menyadari akan kesalahannya, sehingga dengan mudahnya dia melimpahkan kesalahan sendiri kepada orang lain," ucap Ella melirik ke arah Sigit.


"Mas Rangga, sepertinya kita tidak perlu berlama-lama di sini. Karena percuma saja, Sigit tidak bisa dinasehati sama sekali. Biarkanlah dia berjalan sendiri sesuai dengan keinginannya. Yang terpenting kita sudah berusaha untuk mengarahkannya ke jalan yang benar."


Ella lekas bangkit dari duduknya, ia terlalu pergi bahkan sempat berpapasan dengan ayah Bayu.


"Kamu mau ke mana Ella?" tanya Ayah Bayu memicingkan alisnya.


"Aku mau menunggu Mas Rangga di dalam mobil saja, Ayah. Untuk apa berlama-lama di sini, tidak ada gunanya."


Ella melanjutkan langkahnya kembali menuju ke mobil Ayah Bayu. Sementara Ayah Bayu ingin sejenak menemui Sigit.


"Rangga, kamu telah ditunggu oleh Ella di mobil," tegur Ayah Bayu.


"Baiklah, Ayah. Aku akan segera menyusul Ella, jika perlu ayah juga tak usah berlama-lama di sini karena tidak ada gunanya mari kita pulang sekarang saja."


Segeralah Rangga melangkah pergi dari hadapan Sigit, tanpa mengatakan apapun kembali.


Sementara Ayah Bayu sejenak duduk di hadapan Sigit, kehadirannya sempat menjadi perhatian bagi Sigit. Tanpa ada rasa sungkan ia menatap tajam ke arah Ayah Bayu.


"Untuk apa pula anda berada di sini, karena kita tidak ada hubungan darah sama sekali?" tanya Sigit ketus.


"Untuk sejenak mengecek kebodohanmu saja, Sigit. Seharusnya kamu berpikir ulang jika akan kabur, yang ada masa hukumanmu bertambah. Yang rugi kan kamu sendiri, dasar bego. Menyia-nyiakan waktu yang begitu berharga," ejek Ayah Bayu.


Setelah mengatakan hal itu, Ayah Bayu pun berlalu pergi dari hadapan Sigit seraya tersenyum sinis.


Sigit merasa terhina, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa mengepalkan tinjunya seraya mengerutu di dalam hatinya," kurang ajar sekali, di tua bangka itu! sayangnya aku ada di kantor polisi, jika tidak sudah aku buat dia babak belur!"


" Heran juga, baru bisa kabur eh malah langsung tertangkap seperti ini. Padahal aku baru merasakan kebebasan di luar sana beberapa jam lamanya."

__ADS_1


"Ini semua gara-gara anak buah si tua bangka tadi, yang berhasil menangkapku dan teman-temanku."


"Tetapi bagaimana para anak buahnya tahu, jika aku pada saat itu berada tak jauh dari kantor papah ya?"


"Ah.. dipikir percuma saja, tidak membuatku lantas bisa bebas dari sini. Bodohnya aku menuruti saja kemauan teman-teman di sini, untuk ikut kabur bersama mereka. Hingga pada akhirnya seperti ini, masuk lagi di dalam penjara dan akan mendapatkan masa hukuman yang bertambah panjang.


Tak berapa lama Sigit dikawal oleh beberapa aparat kepolisian yang sedang bertugas, menuju selnya.


Sementara saat ini, Rangga, Ella, dan Ayah Bayu dalam perjalanan pulang ke rumah Rangga. Seperti biasa tidak ada sepatah katapun.


Hanya di dalam hati Rangga saja yang benar-benar merasa kecewa dengan tingkah Sigit.


"Kenapa aku terus memikirkan Sigit, toh aku masih punya Adnan. Aku yakin Anda jauh lebih baik dari pada Sigit."


"Untuk apa aku terus memikirkan anak durhaka itu, jika hanya membuat ku sakit hati saja."


Terus saja Rangga menggerutu di dalam hatinya, hingga tak sadar mobil yang ditumpanginya telah sampai di pelataran rumahnya.


Wajahnya terus murung tak bisa tersenyum sama sekali, hingga membuat Ella menghela napas panjang.


"Mas Rangga, nggak usah terlalu di pikirkan. Anakmu itu bukan cuma Sigit, masa iya kamu nggak mikirin Adnan?"


"Jika kamu terus saja memikirkan Sigit dan pada akhirnya sakit, lantas bagaimana dengan Adnan?'


"Satu anak membuat kecewa, tetapi masih ada anak yang lain. Jadi jangan hanya satu anak saja yang kamu pikirkan."


Rangga menghela napas panjang seraya tersenyum sinis," hemm...ya sayang."


Rangga pun melangkah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2