Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Gelisah


__ADS_3

Ella diam saja pada saat Rangga berbicara panjang lebar untuk meminta Ella mengurungkan niatnya berpisah darinya. Hingga Rangga pun berkata lagi," sayang, tolong pikir ulang ya? jika bukan untukmu, ya pikirkan untuk anak kita."


Ella termenung, di dalam hatinya ia sedang berpikir.


"Masa kecilku memang sangat menyedihkan, dimana aku tumbuh tanpa seorang ayah. Banyak hinaan, ejekan, bulian dari orang-orang."


"Sering berpindah tempat tinggal hanya karena ejekan dari para tetangga. Yang sangat menyakitkan hatiku. Kerap kaki aku menangis sedih."


"Aku malah nggak memikirkan tentang menikah lagi. Karena belum tentu suami baruku tulus menyayangi anakku."


"Walaupun tidak semua laki-laki bersifat seperti itu. Tetapi entah bagaimana aku malah berpikiran seperti itu. Banyak sekali rasa kecemasan di dalam diriku."


"Sejak aku bertemu dengan Mas Rangga kembali, dan kami sempat bersama di cafe, di sini saat ini, hatiku menjadi gundah gulana seperti ini."


"Jika aku ingat akan semua kesalahan Mas Rangga padaku, aku memang marah, aku memang kesal, kecewa dan sangat sakit hati."


"Tetapi jika aku sedang bersamanya, menatap wajahnya, entah kenapa aku merasa tak tega dengannya."


"Apakah ini pertanda aku masih mempunyai rasa cinta dan sayang kepadanya ya Allah? kenapa aku menjadi dirimu seperti ini?"


"Tolong tunjukkanlah padaku untukku memberikan sebuah keputusan yang terbaik di dalam rumah tanggaku ya Allah, aku tidak ingin kelak ada penyesalan di kemudian hari."


"Aku tidak ingin menempuh suatu keputusan yang salah karena di sini bukan hanya menyangkut kehidupanku, tetapi juga kehidupan anakku."


"Jujur saja kerap kali aku juga berpikir, masa iya anakku kelak menjalani kehidupan seperti diriku di masa lalu. Aku tidak bisa membayangkan betapa menderitanya kelak anakku jika harus mengalami hal yang serupa dengan kehidupan masa laluku."


Kini giliran Rangga yang sedang memperhatikan Ella.


"Sayang, aku minta maaf ya karena kata-kataku tadi mungkin kamu menjadi sedih seperti ini. Tak usah kamu pikirkan lagi ya."


Rangga mengusap pergelangan tangan Ella.

__ADS_1


Ella pun menoleh, menyunggingkan senyuman ke arah Rangga," Nggak apa-apa kok Mas. Aku juga akan berpikir ulang tentang keputusanku berpisah darimu, jadi kamu tenang saja."


"Iya, Ella. Aku yakin kamu adalah perempuan yang baik dan bisa bertindak secara bijaksana. Apapun nanti, keputusan yang akan kamu tempuh untuk rumah tangga kita, aku akan menerimanya dengan lapang dada."


Selagi mereka asik bercengkrama, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di pelataran rumah, Ella.


Ternyata mobil tersebut ditumpangi oleh Bu Berta dan Rama. Ada rasa tak suka pada diri Rama, pada saat dia melihat Ella sedang bersama dengan Rangga.


Hal serupa juga di rasakan oleh Rangga, ia juga merasa tak suka melihat kedatangan Rama.


"Kenakan Ella masih saja berbaik hati pada, si tua bangka ini? padahal waktu itu sampai bersembunyi segala! kenakan malah sekarang ini terlihat seperti asik sekali!" batin Rama kesal.


"Aku merasa, pemuda tampan ini kok suka ya sama Ella. Dari cara menatap Ella, dan cara menatap tak suka ke arahku. Tetapi aku tidak akan tinggal diam, aku justru akan berusaha sekuat tenagaku untuk bisa mempertahankan rumah tanggaku bersama, Ella. Aku nggak ingin Ella di miliki pria lain. Aku nggak ingin anakku punya ayah sambung. Karena ayah kandungnya saja masih hidup!" batin Rangga kesal.


Rangga dan Rama sempat saling berpandangan satu sama lain. Hal ini juga sempat di lihat Ella dan Bu Berta.


"Mas Rama-Bu Berta, mari silahkan masuk. Mas Rangga, sebentar ya."


"Bu, aku minta tolong. Temani Mas Rama dan Bu Berta ngobrol sebentar. Karena aku masih menemani Mas Rangga. Jangan lupa bilang sama bibi supaya membuatkan minuman."


Pada saat Ella akan melangkah kembali ke teras halaman, ibunya menahannya sejenak.


"Ella, kenapa Rangga lama sekali dan nggak pulang-pulang? kalau bisa suruh dia cepat pulang."


"Bu, aku nggak enak jika harus mengusirnya. Apa lagi dia itu masih sah suamiku," ucap Ella


Belum juga Bu Ari kembali berkata, Ella sudah melangkah menuju ke teras halaman. Bu Ari pun mengikutinya dari belakang, karena kebetulan bibi juga ada di samping Bu Ari. Hingga ia tidak perlu repot-repot mencari keberadaan bibi untuk membuatkan minuman.


"Mas Rama-Bu Berta, sebentar ya. Aku tinggal dulu."


Ella menangkupkan kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Dia pun duduk kembali di samping Rangga. Dan Rangga pun tiba-tiba memutuskan untuk pulang," Sayang, aku sudah terlalu lama di sini. Aku pamit pulang ya."


Sebenarnya Rangga tak ingin pulang, apa lagi mengetahui kedatangan Rama dan Bu Berta. Tetapi ia juga tidak enak dengan Bu Ari jika terlalu lama di situ.


Rangga pulang dengan penuh kekesalan," baru saja aku mengecap kebahagiaan karena Ella sudah tidak kasar lagi padaku. Eh kini aku harus menelan kepahitan, melihat ada pemuda tampan yang datang ke rumah Ella!"


"Ya Allah, cobaan apa lagi ini? jangan sampai Ella tergoda padanya dan memilih dirinya. Aku nggak rela jika itu sampai terjadi ya Allah."


"Bantu aku ya Allah, supaya aku yang menang dan pemuda itu mundur teratur."


Terus saja di dalam hati Rangga menggerutu sendiri.


Seperginya Rangga, Ella pun kini menemui Bu Berta dan Rama. Tiba-tiba Rama berkata di hadapan Bu Berta dan juga Bu Ari.


"Ella, kenapa kamu menerima dia datang ke rumah ini? bukankah waktu itu di saat kamu berada di rumahku, kamu bersembunyi dan tak ingin menemuinya?"


Sontak saja pertanyaan yang terlontar dari mulut Rama sempat membuat Ella bingung untuk menjawabnya.


Pada saat Ella diam, Bu Berta menyikut lengan Rama," Rama, kamu kok ngomong seperti itu sih?" bisiknya.


"Loh, memangnya aku salah mah? aku bicara fakta loh, bukan fiktif," ucap Rama lirih tetapi masih bisa di dengar oleh Bu Ari dan Ella.


"Mas Rama, aku minta maaf ya? ini urusan rumah tanggaku, hingga aku tak bisa menjelaskannya padamu," ucap Ella.


"Ella, apa sikapmu ini membuktikan bahwa kamu sudah berubah pikiran untuk berpisah dari suamimu itu setelah proses melahirkan kelak?" tanya Rama lagi.


"Bu Berta, maaf ya? aku nggak bisa menemani ibu, mendadak kepalaku pusing. Dan aku butuh istirahat."


Belum juga Bu Berta menjawab, Ella sudah berlalu pergi begitu saja.


Rama merasa kesal karena pertanyaannya belum sempat di jawab oleh Ella, malah Ella berlalu pergi begitu saja.

__ADS_1


"Sikap Ella kok aneh?" batin Rama.


__ADS_2