Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Ella Menyambangi Rumah Rama


__ADS_3

Situasi berbeda dengan yang sedang terjadi di rumah Rama. Dia tak hentinya murung memikirkan perjumpaan terakhir dirinya bersama dengan Ella. Kemurungan tersebut membuat kesedihan juga bagi, Bu Berta.


"Rama, mau sampai kapan kamu seperti ini? perempuan di dunia ini banyak nggak cuma Ella saja. Jadi kamu jangan terlalu bersedih memikirkan hal ini. Mamah jadi ikut sedih melihat kemurungan dirimu ini."


Rama merespon perkataan Mamahnya," mah, aku sudah berusaha ikhlas melihat Ella akur lagi dengan suaminya. Tetapi apakah aku salah, jika hanya ingin berteman dengannya? masa iya sejak saat itu nomor ponsel Ella nggak bisa di hubungi."


"Mungkin saja ponsel sedang diisi daya batre jadi nggak aktif. Berpikirlah positif tinking selalu, Rama," ucap Bu Berta.


'Mamah coba saja dech, telpon nomor ponsel Ella."


Saat itu juga Bu Berta meraih ponselnya, ia menuruti kemauan Rama untuk segera menelpon, Ella. Berkali-kali Bu Berta mencoba menelepon nomor ponsel Ella, tapi memang benar sesuai dengan apa yang barusan dikatakan oleh Rama, jika nomor ponsel Ella tidak bisa dihubungi.


"Ternyata apa yang kamu katakan benar Rama, nomor ponsel Ella tidak aktif. Karena dari kemarin-kemarin mamah memang tidak pernah menghubungi Ella. Baru kali ini Mamah mencoba menelepon sesuai dengan saranmu," ucap Bu Berta.


Kini Bu Berta sudah tidak bisa berkata lagi, ia pun hanya diam saja. Tetapi di dalam hatinya ia juga berpikiran sama seperti yang barusan dipikirkan oleh Rama," apakah memang Ella sengaja mengganti nomor ponselnya untuk menghindari aku dan Rama ya?"


Kini ibu dan anak ini berpikiran negatif pada Ella, mereka tidak tahu sebenarnya apa yang telah terjadi hingga nomor Ella tidak aktif.


Beberapa menit kemudian, ada suara deru mobil berada di depan pintu gerbang rumah Rama. Security berlari ke arah pintu gerbang untuk melihat siapa yang datang. Setelah mengetahui siapa yang datang ia pun segera membukakan pintu gerbang tersebut bahkan sempat dilihat oleh Bu Berta dan Rama yang saat ini sedang berada di teras halaman rumah.


"Siapa sih itu ke kemari ya, Rama?" pandangan mata Bu Berta terus saja tertuju kepada mobil yang sedang melaju merayap ke pelataran rumahnya.


"Entah, mah. Aku juga tidak tahu mobil siapa itu, mah." Rama juga terus saja menatap ke arah mobil yang perlahan berhenti di pelataran rumah.


Ibu dan anak ini sempat terhenyak kaget pada saat melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut.

__ADS_1


"Ella dan suaminya, untuk apa mereka datang kemari?" tanya Rama di dalam hatinya.


"Untuk apa Ella dan suaminya datang kemari ya?" batin Bu Berta merasa heran dengan kedatangan Ella dan suaminya.


Ella dan Rangga melangkah pasti menghampiri Rama dan Bu Berta.


"Mas Rama-Bu Berta, aku minta maaf jika telah mengganggu waktu bersantai kalian berdua."


Ella menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Mari masuk, Ella."


Tetapi Ella memilih untuk duduk di teras halaman saja.


"Ada Apa, Ella?" tanya Bu Berta memicingkan alisnya.


Rama dan Bu Berta saling berpandangan satu sama lain. Mereka bingung harus menjawab apa pada, Ella.


"Bu, tolong jangan marah ya? aku ingin kita selalu menjadi saudara. Aku ingin selalu menjadi anak, ibu. Ibu masih mau kan, menganggapku anak perempuan, ibu?" rengek Ella


Membuat Bu Berta merasa tak tega melihat wajah tulus Ella," nak, kenapa kamu bersikap seperti ini? kamu akan selalu menjadi anak perempuan, ibu. Kenapa kamu seperti ini?"


"Karena aku khawatir ibu marah padaku, dengan kejadian dua Minggu yang lalu. Dimana ibu dan Mas Rama datang ke rumah, tetapi aku malah tidak menghiraukan ibu dan Mas Rama."


"Mas Rama, aku juga minta maaf padamu ya. Dengan kesalahanku waktu itu. Karena sejak aku melakukan kesalahan itu, aku selalu kepikiran. Aku ingin Mas Rama selalu menjadi saudara lelakiku, walaupun aku sudah memiiki saudara lelaki."

__ADS_1


Sejenak Rama menggerutu di dalam hatinya," Sebenarnya aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar saudara. Aku ingin kita menjadi pasangan suami istri."


"Mas Rama, kenapa diam saja? apakah kamu nggak bersedia memaafkanku?" tegur Ella membuyarkan lamunan Rama.


Bu Berta menyikut lengan Rama, seraya memberikan kode dengan matanya. Rama pada akhirnya mau mengucapkan sepatah kata walaupun debenarnya dia enggan berkata karena ada Rangga di samping Ella.


"Kamu nggak usah berpikiran jika kami ini marah kepadamu, Ella. Baik aku maupun Mamah tidak marah kepadamu. Justru aku dan mamah beberapa kali berusaha menelpon dirimu untuk mengetahui kondisimu. Tetapi nomor ponselmu tidak pernah aktif yang ternyata ponselmu rusak. Aku juga akan selalu menjadi saudara lelakimu, karena kamu telah diangkat anak oleh mamahku."


Mendengar perkataan dari Rama, Ella pun langsung tersenyum. Ia merasa lega karena sudah meminta maaf dan juga mendapatkan pintu maaf dari Rama dan Bu Berta.


"Terima kasih, Mas Rama-Bu Berta. Dan ini nomor ponselku yang baru. Kebetulan tadi setelah kontrol kandungan, aku menyempatkan diri untuk membeli ponsel baru beserta nomornya. Pada saat ponselku terjatuh di selokan benar-benar rusak parah, hingga terpaksa nomor ponselku juga harus di ganti."


Ella pun menunjukkan nomor ponselnya yang baru kepada Rama dan Bu Berta, dan Rama lekas menulis nomor ponsel baru milik Ella serta menyimpan di ponselnya.


"Tolong miscall ke nomor ponselku yang baru, karena aku sama sekali tidak hapal dengan nomor ponsel, Mas Rama dan Bu Berta."


Rama pun menuruti kemauan Ella, dia mengirimkan panggilan telepon sejenak ke nomor ponsel Ella yang baru. Dan juga mengirimkan chat pesan berupa nomor ponsel Bu Berta.


"Sekali lagi terima kasih ya, Mas Rama-Bu Berta. Mohon maaf jika aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku pamit pulang."


Saat itu juga Ella mencium tangan Bu Berta, bahkan Bu Berta tanpa sungkan memeluk Ella seraya mengusap-usap punggungnya.


"Sehat selalu ya, Ella. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, nak. Belum juga kamu dan suamimu minum, sudah mau pulang?" ucap Bu Berta.


"Nggak usah repot-repot, Bu. Sekali lagi terima kasih ya, Bu."

__ADS_1


Bu Berta seorang wanita yang bijaksana. Walaupun dia merasa kecewa karena keinginan dan harapannya telah musnah sudah. Dimana dia menginginkan Ella suatu saat nanti menjadi menantunya. Tetapi dia tidak lantas bersikap buruk dan membenci Ella. Karena ia sudah telanjur sayang pada, Ella.


__ADS_2