
Setelah mendengar penjelasan dari Wina, Rama pun hanya diam saja, tetapi di dalam hatinya masih saja tidak rela pada saat Wina mengalami kecelakaan justru bukan dirinya yang pertama kali menolong malah, Fredy.
"Padahal aku ingin sekali mulai pendekatan kepada Wina, tetapi justru yang berhasil mendekati terlebih dahulu, Fredy."
"Aku tidak akan menyerah begitu saja, karena Fredy cuma menolongnya. Aku harus bergerak cepat untuk bisa meluluhkan hatinya, karena aku tidak ingin tersaingi oleh pria manapun termasuk, Fredy."
"Aku harus segera mengungkapkan perasaanku terhadap, Wina. Jika perlu, sekarang juga aku mengatakan bahwa aku mencintainya."
Akhirnya Rama pun berinisiatif akan mengatakan tentang perasaannya pada, Wina saat itu juga. Bahkan ia tidak peduli jika di samping Wina ada Eka.
"Wina, aku ingin sejenak bicara denganmu. Itupun jika kamu bersedia mendengarkan," ucap Rama ragu.
"Katakan saja, Den Rama. Aku bersedia mendengarkan kok, dan nggak perlu sungkan," ucap Wina.
"Wina, mungkin ini waktu yang tidak tepat. Tetapi aku tidak ingin menunda lagi untuk mengatakan hal ini yang sangat meresahkanku sepanjang hari."
Di dalam hati, Wina merasa kesal karena menurut dirinya Rama terlalu bertele-tele," mau bicara saja plin-plan banget, nggak to the point!"
"Wina, sejak aku pertama kali melihatmu. Aku telah jatuh cinta padamu. Apakah kamu bersedia menerima cintaku? aku tidak memaksa dirimu untuk menjawabnya sekarang juga, lain waktu juga nggak apa-apa," ucap Rama dengan percaya dirinya.
Hal ini membuat Eka sedih, karena dia selama ini juga telah jatuh cinta pada, Rama. Sejenak Wina melirik ke arah, Eka.
"Kasihan, Mba Eka. Aku yakin pasti saat ini hatinya hancur. Tetapi tenang aja, Mba Eka. Karena aku sama sekali tidak ada perasaan cinta sedikitpun padanya " batin Wina.
Apa yang sedang di pikirkan oleh Wina memang benar adanya. Saat ini Eka sedih sedih," ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan. Den Rama malah cinta pada Wina yang belum lama ini dia temui. Sedangkan aku yang sudah sekian lama berkali-kali bertemu dengannya tidak ada tempat di hatinya sama sekali."
Wina menghela napas panjang," Den Rama, sebelumnya aku minta maaf ya. Karena apa yang Aden rasakan tidak aku rasakan. Justru aku jatuh cinta pada pria lain, bukan pada Den Rama. Jadi aku minta maaf jika tidak bisa membalas rasa cinta Adem padaku"
Wina menangkupkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Baiklah, nggak apa-apa. Tetapi aku akan selalu menunggumu. Jika suatu saat nanti kamu berubah pikiran, pintu hatiku selalu terbuka untukmu. Kalau begitu aku permisi pamit, pulang karena akan langsung ke kantor. Eka, kamu nggak usah bekerja dulu, untuk menjaga dan merawat Wina ya."
Belum juga Eka atau Wina berkata, Rama sudah berlalu pergi dan ia segera melajukan mobilnya arah pulang.
Sepanjang perjalanan, dia bergumam," kenapa selalu saja cintaku ini bertepuk sebelah tangan? aku pikir Wina masih lajang dan belum punya pasangan, lain halnya dengan Ella. Apakah aku harus selamanya hidup sendiri?"
Rasa sedih, kesal, kecewa, bercampur jadi satu di dalam diri Rama. Dia berpikir, mengungkapkan rasanya supaya tidak keduluan dengan pria lain tetapi ternyata Wina sudah mencintai pria lain.
"Sebenarnya siapa pria yang beruntung itu ya? bisa di cintai oleh, Wina?" batin Rama.
Seperginya Rama, Wina merasa tidak enak dengan Eka.
"Mba Eka, nggak usah khawatir ya. Karena aku sama sekali tidak ada rasa suka sedikitpun pada, Den Rama. Aku telah jatuh cinta pada pria lain, trtspi aku nggak tahu apakah pria itu juga cinta padaku,' ucap Wina.
"Mba, nggak apa-apa kok. Mba juga sadar diri, mana mungkin Den Rama suka apa lagi cinta pada, Mba. Tetapi jika memang kamu cinta, mba juga akan ikhlas kok. Mba, akan ikut bahagia jika adik semata wayang mba, bahagia," ucap Eka menutupi rasa sedih dan kecewanya.
Tetapi Eka tidak bersedia," nggak usah Wina, biarkan saja begini adanya. Mba juga akan berusaha melupakan rasa cinta ini pada, Den Rama. Lagi pula kita juga jauh berbeda, dia bos sedangkan mba cuma pelayan. Mba ueng hanya terlalu bermimpi. Seharusnya mba tidak jatuh cinta pada seorang bos. Mana mungkin dia mau," ucap Eka putus asa.
Di dalam hati Wina semakin sedih," kasihan juga Mba Eka, dia begitu cinta pada Den Rama. Tetapi malah seperti ini. Aku juga sama sekali tidak menyangka jika, jika Den Rama suka padaku."
*******
Setelah sampai di rumah, Rama langsung masuk ke dalam kamar. Dia sama sekali tidak berangkat ke kantor. Mobil yang terparkir di pelataran rumah membuat Mamah Berta penasaran," sepetinya Rama sudah kembali dari mengantar, Eka. Tapi kok nggak menyapaku? apa dia tidak melihat aku sedang menyirami tanaman?"
Mamah Berta menghentikan aktifitasnya, ia pun segera melangkah menuju ke kamar, Rama.
Kebetulan kamar terbuka lebar, hingga Mamah Berta bisa masuk dengan mudah.
"Rama, bagaimana kondisi Wina?"
__ADS_1
"Baik, mah."
"Kamu nggak ke kantor?"
"Nggak, mah."
Rama terus saja menjawab pertanyaan dari, Mamah Berta dengan singkat. Tidak seperti biasanya.
"Sebenarnya ada apa, Rama? kamu nggak bisa menyembunyikan murungmu itu dari mamah. Coba ceritakan pada, mamah," pinta Mamah Berta.
Rama menceritakan kegagalan cintanya yang kedua kalinya.
"Mah, kenapa dua kali cintaku selalu bertepuk sebelah tangan? apakah aku tak pantas untuk mencinta? apakah aku ini jelek, hingga selalu saja mendapatkan penolakan?"
Mamah Berta malah terkekeh mendengarnya, hal ini membuat Rama heran," mah, memangnya lucu ya? kok mamah malah merespon seperti ini? tidak ada rasa kasihan atau iba sama sekali? atau memberikan sebuah saran."
"Rama, begitu saja kok di buat sedih. Kamu ini seorang pria bukan wanita. Jadi jangan lemah seperti itu. Pertama, salah kamu karena Ella sudah bersuami."
"Yang kedua, mamah rasa juga terlalu cepat kamu menyatakan isi hatimu pada Wina. Padahal kalian kenal saja hanya sepintas."
"Semua itu butuh proses, tidak instan. Masa iya kamu tiba-tiba menyatakan cinta, jelas saja di tolak mentah-mentah sama, Wina.'
"Sekarang tak usah bersedih lagi, anggap saja dua wanita itu bukan yang terbaik untukmu. Dan Allah akan mengirimkan wanita yang paling baik."
Rama hanya menghela napas panjang, ia tidak merespon nasehat dari mamahnya.
"Istirahatlah, mungkin saja Allah akan memberikan Ilham di dalam mimpimu berupa mimpi seorang wanita yang akan kelak menjadi jodohmu."
Mamah Berta melangkah keluar dari kamar, Rama.
__ADS_1