
Setelah melihat semua bukti itu, Rangga baru percaya. Tetapi ia tidak akan memperlihatkan semua itu kepada, Sigit. Tetapi ia punya rencana yang lain untuk, Sigit.
"Jika aku langsung menunjukkan bukti rekaman video ini pada Sigit dan juga menegur dirinya, pasti ia tidak akan mau mengakuinya, tetapi ia akan mengelak dengan segala alasan."
"Aku harus mencari cara sendiri supaya Sigit mengaku secara langsung di hadapanku. Tetapi bagaimana caranya ya?"
Sejenak Rangga berpikir dan berpikir untuk mencari cara yang jitu, guna menjebak Sigit. Selagi dirinya melamun, tiba-tiba Sigit datang dan langsung duduk di hadapan Rangga.
"Pah, kenapa bengong sih? apa papah masih memikirkan Ella dan Bu Ari?" tanya Sigit menyelidik.
"Jelaslah, Ella itu kan istri Papah dan Bu Ari itu mertua papah. Selama Ella belum melakukan tes DNA, papah masih percaya jika Ella itu tidak berkhianat," ucap Rangga.
"Astaga..papah sebegitu percayanya pada Ella? dia itu wanita...
"Diam kamu, Sigit! tak usah kamu terus menerus menghasut papah dengan mengatakan hal buruk tentang Ella!"
Rangga tiba-tiba membentak Sigit bahkan memotong perkataan Sigit yang belum terselesaikan.
Sigit merasa heran dengan sikap papahnya barusan. Terlihat jelas bahwa Papahnya kali ini membela Ella, padahal kemarin Rangga masih percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sigit.
"Aneh sekali, kenapa mendadak papah berubah lagi seperti ini? padahal sebelumnya aku telah berhasil menghasutnya sehingga papah membencinya, kenapa sekarang kata-katanya berubah lagi ya?" batin Sigit merasa ada yang aneh dengan sikap Rangga.
"Kenapa kamu diam saja, Sigit? sudah habis kata-katamu untuk menghasut papah, supaya papah benci pada Ella dan ibunya," tegur Rangga ketus.
"Terserah papah saja deh, jika papah berpikir aku seperti itu."
Akhirnya Sigitpun berlalu pergi dengan menyambar ponsel dirinya yang ada di meja. Ia begitu kesal melihat sikap Papahnya yang tidak seperti hari-hari yang lalu.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara, Ella! sudah mati saja masih membuat papahku bersikap acuh terhadapku!" batinnya.
Seperginya Sigit, Rangga pun meraih ponselnya yang ada di meja. Tetapi pada saat ia akan membuka ponselnya ia tidak bisa. Dan ia menyadari jika yang ada di tangannya itu adalah ponsel milik Sigit.
"Astaghfirullah aladzim, ini kan ponsel Sigit? astaga... ponselku malah di bawa Sigit, bagaimana ini? apa lagi ponselku tak pernah pake kata sandi atau di kunci. Pasti Sigit dengan mudah bisa membukanya," gumamnya.
Rangga kelabakan, ia panik mondar-mandir di dalam ruang kerjanya. Ia sangat khawatir jika Sigit mengetahui rekaman video yang ada di dalam ponsel Rangga. Apa lagi Rangga belum memindahkan rekaman video tersebut ke file penyimpanan karena sibuk dengan pekerjaannya.
Tanpa Sigit sadari, pada saat ia meletakkan ponselnya di meja. Bersebelahan dengan ponsel milik Rangga. Dan Sigit pada saat pergi salah dalam mengambil ponsel tersebut.
"Jika aku menelpon ke nomor ponselku, secara pasti Sigit akan membuka ponselku. Ini justru lebih parah lagi, lantas apa yang harus aku lakukan supaya aku bisa mendapatkan ponselku lagi tanpa harus aku menelponnya?"
Saat itu juga Rangga keluar dari ruang kerjanya. Ia berlari mencari keberadaan Sigit, tetapi ia sama sekali tidak berhasil bertemu. Karena saat ini Sigit telah melajukan mobilnya ke kantor.
"Sialan, bagaimana ini? aku nggak bisa buka ponsel Sigit karena di kunci olehnya. Tetapi Sigit bakal bisa buka ponselku, karena tidak di kunci?"
"Aduhh... kacau dech! aku harus bagaimana ini? semoga saja Sigit belum mengotak atik ponselku," gumamnya.
Tetapi apa yang di harapkan oleh Rangga tak sesuai dengan harapan. Karena pada saat Sigit telah sampai di kantornya, ia pun meraih ponselnya. Dan ia baru sadar jika yang ia bawa adalah ponsel Rangga.
"Loh, ini kan ponsel papah? bodohnya aku, kenapa yang aku ambil ponsel papah bukan ponselku sendiri? tapi nggak apa-apa dech, karena papah nggak akan tahu rahasiaku sebab ponselku kan nggak bisa di buka jika nggak pake kata sandi," batin Sigit tersenyum.
Dan ia iseng memainkan ponsel Rangga," kok papah nggak pake kata sandi? ini ponsel bisa di buka dengan mudah. Jadi penasaran ingin tahu apa saja yang bada di galeri ponsel Papah. Siapa tahu papah menyimpan video bokep, hhheeee.."
"Hem, tapi aku penasaran juga dengan siapa saja papah chatingan."
Tangannya mulai beraksi membuka chat pesan masuk. Dan ia awalnya penasaran ada chat masuk tanpa ada namanya.
__ADS_1
"Siapa ini yang kirim pesan nggak ada namanya, kok aku jadi penasaran sih? hem.. apakah wanita barunya papah ya?"
Sigit membuka chat pesan tersebut, dan ia begitu kaget pada saat melihat rekaman beberapa video.
"Astaga... siapakah orang yang telah merekamku? apakah Fredy, sepertinya tidak mungkin dech. Lantas siapa dia?"
Sigit semakin penasaran dan ia juga membuka semua chatingan yang ada di nomor tersebut.
"Astaga...jadi Ella masih hidup? ada yang menolongnya lantas siapakah yang telah menolong Ella? ternyata Ella pernah menemui papah, lantas kapan? kok aku sama sekali tidak tahu jika paling sempat bertemu dengan Ella? biasanya papah juga cerita segala macam, seperti waktu bertemu dengan pria yang aku bayar untuk merekayasa perselingkuhan."
"Aku jadi semakin penasaran dengan pemilik nomor ponsel ini. Sebaiknya aku simpan saja nomor ponselnya dan akan aku selidiki. Supaya aku tahu siapa yang telah menolong Ella."
"Pasti saat ini Ella sedang bersembunyi di tempat orang yang telah menyelamatkan dirinya. Sialan sekali, aku telah di tipu oleh beberapa anak buahku!"
"Padahal aku sudah bayar mahsl mereka bertiga! ini tidak bisa di biarkan, aku akan datangi mereka dan meminta kembali uang yang telah aku berikan pada mereka!"
"Tapi aku akan mengembalikan dulu ponsel papah."
Saat itu juga Sigit pergi ke kantor Rangga kembali. Hanya beberapa menit perjalanan, ia telah sampai.
"Pah, mana ponselku? ini ponsel Papah ada padaku. Kenapa Papah diam saja, nggak menelponku ke nomor kantor. Supaya aku lekas mengembalikan ponsel papah?" tanya Sigit pura-pura.
"Apa kamu sempat buka ponsel, papah?" tanya Rangga menatap menyelidik ke arah Sigit.
"Astaga..jadi papah nggak percaya padaku. Untuk apa aku buka ponsel papah? kurang kerjaan amat sih, pah? aku tidak ada waktu untuk itu, pah. Karena urusan kantor itu lebih penting, pah," ucap Sigit berpura-pura.
Rangga pun meraih ponsel milik Sigit, dan memberikan padanya. Begitu pula dengan Sigit, ia pun memberikan ponsel milik Rangga. Setelah itu ia pergi dari ruangan Rangga.
__ADS_1