Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Penyelidikan Mery


__ADS_3

Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Kini acara syukuran tujuh bulanan Ella sudah siap di laksanakan. Ella memang memilih untuk di adakan di rumah Fredy yang saat ini di tempati oleh Bu Ari.


"Hem, mau kemana mereka bertiga? kok sepertinya terburu-buru sekali?"


Mery yang telah stand by di dekat rumah milik Rama, ia pun segera mengikuti laju mobil Rama, tanpa Rama tahu sama sekali.


Hingga tak terasa sampai juga mereka di rumah Fredy. Dimana semua sudah siap.


"Jika wanita itu memang istri, Mas Rama. Lantas kenapa mereka jalannya berjauhan seperti itu ya? masa iya tidak bergandengan satu sama lain?"


Mery mulai curiga pada Rama, karena hubungan antara Rama dan Ella tidak terlihat seperti suami istri.


Mery terus aja mengawasi setiap gerak-gerik Rama dan Ella bahkan pada saat masuk ke dalam rumah.


"Sialan, mereka sudah masuk ke dalam rumah dan aku sama sekali tidak bisa untuk melihat apa yang mereka kerjakan di dalam sana. Tetapi terlihat sekali suasananya begitu ramai, banyak sekali orang, ada peringatan apa sih?"


Karena rasa penasarannya yang tinggi, Merry pun menanyakan hal itu kepada salah satu tetangga di sekitar


. Dan kini ia telah mengerti bahwa saat ini sedang diadakan syukuran tujuh bulanan kehamilan, Ella.


"Jadi usia kandungan wanita itu kini memasuki umur tujuh bulan, sebentar lagi dia akan melahirkan. Tapi aku masih saja belum percaya jika wanita itu adalah istri dari, Mas Rama. Sebaiknya aku mencari tahu dari salah satu tetangga saja. Pasti mereka tahu."


Kembali lagi Mery melangkah ke rumah salah satu tetangga dan menanyakan tentang kehamilan Ella. Mery yang seorang artis Hollywood, gampang saja dirinya berakting. Hingga ia sekejap saja sudah mengetahui jika Ella memang bukanlah istri, Rama.


"Sudah aku duga, Mas Rama dan Tante Berta telah berbohong padaku. Dia pikir aku ini bodoh, hingga mudah sekali untuk di bohongi."


"Wanita itu juga, kenapa hanya diam saja pada saat Tante Berta dan Mas Rama mengatakan bahwa dirinya adalah istri, Mas Rama. Apakah dia suka pada, Mas Rama?"


"Lantas jika dia bukan istri dari Mas Rama, kenapa juga dia itu ada di rumah Mas Rama? lantas seperti apa suaminya ya?"


"Aku akan datangi suaminya supaya memperingatkan istrinya yang sedang hamil itu. Supaya tak usah berada di rumah, Mas Rama."


Terus saja Mery bergumam kesal. ia terus saja memperhatikan rumah Fredy. Dan ia tertegun pada saat melihat pemuda tampan yang keluar dari rumah tersebut.


"Pemuda itu tak kalah tampannya dengan, Mas Rama. Apakah dia itu suami dari wanita hamil yang tinggal di rumah, Mas Rama?"


Hingga ia pun memotret Fredy, tanpa sepengetahuannya. Dan kembali lagi ia bertanya pada aakdh satu tetangga yang ada di sekitar rumah Fredy.

__ADS_1


"Astaga.. ternyata pemuda tampan itu adalah saudara dari wanita yang hamil itu? lantas mana suami dari wanita hamil itu ya?"


Semakin lama, Mery semakin penasaran dengan sosok Ella. Karena ia tak ingin Rama di miliki oleh wanita lain selain dirinya sendiri.


"Aku harus menyelidiki lebih lagi tentang wanita hamil itu. Dan akan aku cari tahu tentang suaminya, supaya suaminya membawa wanita itu pergi dari rumah Mas Rama. Dengan begitu aku akan mudah mendapatkan hati, Mas Rama. Dan aku juga akan lebih mudah menyingkirkan, Tante Berta."


Saat itu juga Mery memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengusut tuntas tentang keberadaan suami, Ella.


"Jika aku telah berhasil menemukan siapa sebenarnya suami dari wanita yang hamil itu, aku akan meminta suaminya untuk lekas membawa istrinya pergi dari rumah Mas Rama. Seenaknya saja tinggal di rumah Mas Rama, padahal sendirinya punya keluarga dan juga punya suami!" ocehnya kesal.


Setelah begitu lama Mery mengamati rumah Fredy, ia pun merasakan lelah dan memutuskan untuk segera pergi dari tempat pengintaiannya tersebut. Ia pun melajukan mobilnya menuju arah pulang, sambil menunggu kabar dari beberapa anak buahnya yang telah diperintahkannya untuk menyelidiki keberadaan suami, Ella.


Selama berada di rumah, Mery terus saja gelisah menunggu kabar dari beberapa anak buahnya. Ia terus saja berjalan mondar mandir di dalam kamarnya.


Satu jam...


Dua jam....


Tiga jam....


"Lambat dan bodoh sekali sih, mereka? masa iya hingga sore hari seperti ini belum juga ada kabar berita tentang suami wanita hamil itu, sih?"


"Padahal aku sudah ingin sekali membuat wanita hamil itu pergi dari rumah, Mas Rama. Astaga... kenapa malah terhambat seperti ini sih?"


Mery gelisah hingga malam hari,ia bahkan tak enak makan. Dia saat ini hidup sendiri di sebuah apartement. Karena orang tua dan juga adiknya tinggal di Amerika bersama dengan seluruh saudaranya.


Hingga dia begitu bebas berada di


Indonesia ini. Tidak ada yang melarang akan perbuatan dirinya. Semua anggota keluarganya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Dia bahkan kurang sekali perhatian dari orang tuanya. Dia hidup bebas tanpa ada aturan dari orang tuanya. Hingga dia tumbuh sebagai gadis yang sangat egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.


Tak terasa waktu telah pagi kembali, Mery pun berinisiatif untuk sekedar jalan-jalan ke taman. Untuk sejenak menenangkan pikiran dirinya yang sedang kacau.


Dan pada saat dia sedang berada di taman, ia bertabrakan dengan pria paruh baya.


"UPS! maaf ya, mba."

__ADS_1


"Oh ia, pak. Nggak apa-apa."


Pria paruh baya itu tak sadar jika dompetnya terjatuh dalam keadaan terbuka. Hingga terlihat sebuah foto pengantin. Sejenak Mery meraih dompet itu dan tak sengaja menatap foto pengantin itu.


"Astaga..ini kan foto wanita hamil Yeni ada di rumah, Mas Rama? masa iya, pria tua itu suaminya?"


Mery lekas berlari mengejar pria paruh baya yang ternyata adalah Rangga.


"Pak... tunggu! dompetnya terjatuh!" teriak Mery seraya terus berlari kecil mengejar Rangga.


Rangga yang mendengar teriakan tersebut, sejenak menghentikan langkah kakinya. Dan ia menoleh ke arah sumber suara.


Mery terengah-engah menghampiri Rangga" pak, dompetnya terjatuh. Dan maaf, tadi dompet itu sempat terbuka sehingga aku bisa melihat sebuah foto pengantin."


Mery memberikam dompet itu pada Rangga, dan Rangga pun menerimanya," terima kasih ya, mbak.'


"Iya, pak. Maaf, ada satu yang ingin aku tanyakan. Jika berkenan, tolong bapak jawab ya?" ucap Mery.


"Silahkan, jika pertanyaan itu tidak sulit akan aku jawab, mba."


Rangga menyunggingkan senyumnya.


"Pak, apakah yang ada di foto itu istri bapak?" tanya Mery.


"Iya, mbak? pasti Mb heran ya, karena istri saya lebih muda dari saya? selisih kami memang sangat jauh, saat ini istri saya baru berumur dua puluh satu tahun, mba," ucap Rangga tanpa ada rasa curiga sedikitpun pada Mery.


"Pak, apakah istri bapak punya saudara kembar? karena saya pernah melihat seseorang yang sangat mirip istri bapak. Tetapi saat ini wanita itu sedang hamil dan kemarin sempat mengadakan syukuran tujuh bulanan kehamilannya."


Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Mery, Rangga terperangah," astaghfirullah aladzim, itu istri saya. Selama ini saya sedang mencari keberadaan istri saya, tetapi tidak juga bertemu. Tolong tunjukkan pada saya, dimana saat ini istri saya berada? dia memang sedang hamil tujuh bulan, kami sudah lama terpisah dari dia hamil satu bulan."


Ada rasa senang di dalam hati Mery," yes, akhirnya aku bertemu juga dengan suami wanita itu. Tak pernah terpikirkan, jika ternyata suaminya sangat tua. Apakah mata wanita itu sudah rabun, hingga mau menikah dengan pria tua ini?"


Rangga pun sudah tak sabar lagi ingin tahu keberadaan, Ella. Apa lagi pada saat Mery diam saja, hingga Rangga semakin tidak sabar saja ingin tahu keberadaan Ella.


"Mba, tolong antar saya bertemu dengan Ella," pinta Rangga memelas.


"Jadi istri anda bernama, Ella?" tanya Mery tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2