
Bu Ari merasa tak enak hati melihat Ella berlalu pergi begitu saja. Nggak seperti biasanya ramah terhadap Bu Berta dan Rama.
"Bu Berta-Mas Rama, maafkan sikap anak saya barusan." Bu Ari menangkupkan kedua tangannya di dada
"Bu, nggak perlu minta maaf. Saya bisa memahami, siklus wanita hamil itu tidak menentu. Hormonnya berubah-ubah. Kebanyakan wanita hamil itu terlalu perasa dan mudah marah. Walaupun tidak semua wanita hamil seperti saya katakan di atas," ucap Bu Berta.
"Bu, bagaimana hasil pemeriksaan kandungan dari Ella? kami datang kemari karena ingin tahu kondisi Ella dan janinnya," tanya Bu Berta sengaja mengalihkan perbicangan mereka.
"Alhamdulillah, baik-baik saja bu. Ibu dan janinnya sehat," ucap Bu Ari.
Mereka terus saja bercengkrama, hingga tiga puluh menit kemudian. Bu Berta dan Rama berpamitan pulang. Di dalam hati Rama dan Bu Berta ada rasa kecewa karena sambutan Ella tidak seperti biasanya.
Sementara Ella di dalam hatinya juga sedang melamun sendiri, terngiang selalu kata-kata dari Rama dan juga kata-kata dari Rangga.
"Ada apa dengan diriku? kenapa aku merasa kesal pada saat Mas Rama menanyakan tentang rumah tanggaku dengan Mas Rangga?"
"Seharusnya aku tidak bersikap seperti tadi. Sama saja aku menyakiti hati, Bu Berta. Aduh..kenapa sih aku ya Allah?"
Selagi gundah gulana, ibunya datang dan duduk di tepi ranjang di samping Ella. Belum juga Bu Ari mengatakan sesuatu, Ella sudah terlebih dahulu berkata," aku tahu apa yang ingin ibu katakan. Tentang sikap ku yang tak sopan pada Mas Rama dan Bu Berta kan?"
"Iya, Ella. Kenapa kamu bersikap seperti tadi? ada apa denganmu?" tanya Bu Ari menyelidik.
"Ntahlah, Bu. Aku sendiri juga nggak tahu ada apa dengan diriku ini,' ucap Ella seraya menghela napas panjang.
__ADS_1
"Ella, ibu lihat sepertinya kamu sudah mulai bisa menerima Rangga lagi. Apakah kamu akan mengurungkan niatmu untuk bercerai darinya?" tiba-tiba Bu Ari menanyakan hal itu.
"Entahlah, Bu. Aku sendiri juga belum tahu. Karena banyak sekali pertimbangan yang harus aku pikirkan jika aku benar-benar bercerai dari Mas Rangga."
"Aku berkali-kali membayangkan masa kecilku yang penuh penderitaan akan terjadi pada anakku kelak jika aku benar-benar cerai dari Mas Rangga."
"Entahlah, Bu. Hanya Allah yang tahu bagaimana takdir hidupku kelak. Jika memang aku di takdirkan untuk tetap bersama dengan Mas Rangga, aku tidak akan menolak."
"Tetapi jika ternyata aku kelak bercerai darinya ya mau bagaimana lagi."
Bu Ari tersenyum kecut menanggapi perkataan Ella," keputusan bukan ada di Allah, tetapi ada di tanganmu sendiri. Kamu sendiri yang kelak akan menentukan takdir hidupmu, menjanda atau bertahan."
Sontak saja Ella terdiam, tetapi di dalam hatinya membenarkan ucapan dari ibunya barusan," benar juga apa yang ibu katakan barusan."
"Ella, ibu nggak akan turut campur urusan rumah tanggamu. Ibu yakin kelak kamu bisa bertindak bijaksana untuk kehidupanmu sendiri, terutama untuk masa depanmu dan anakmu kelak. Apa pun yang kelak kamu putuskan, ibu tak akan marah atau kecewa.. Karena yang menjalani semua itu adalah dirimu bukan ibu."
Ella menjadi terharu mendengar apa yang barusan dikatakan oleh ibunya. Tiba-tiba saja ia merasa bersalah kepada ibunya karena ia turut campur dengan urusan pribadi Ibunya dan ayahnya.
"Bu, aku minta maaf ya?" Ella memeluk ibunya dengan mata berkaca-kaca.
Hal ini membuat heran ibunya," minta maaf untuk apa ya, Ella? karena Ibu merasa kamu tidak punya salah apapun pada ibu."
"Aku bersalah pada ibu, karena telah turut campur dengan urusan pribadi ibu dan ayah. Seharusnya aku membebaskan ibu untuk memilih jalan hidup Ibu, tetapi aku memaksakan kehendakku supaya Ibu tidak rujuk dengan ayah."
__ADS_1
"Maafkan aku ya, Bu. Seharusnya aku membiarkan Ibu bahagia, bukan malah membiarkan ibu seperti sekarang ini. Bu, jika ingin rujuk dengan ayah aku sudah tidak akan keberatan lagi silakan saja."
Bu Ari masih saja merasa heran dengan sikap Ella seperti itu," ada angin apa kamu mengatakan hal ini Ella? justru itu yang paling utama adalah kebahagiaanmu. Jika Ibu rujuk dengan ayah, tetapi kamu tidak bahagia dan tertekan, Ibu juga tidak akan mau."
"Bu, aku tidak akan tertekan kok. Aku tulus ikhlas mengizinkan Ibu rujuk dengan ayah. Aku menyadari tindakanku selama ini salah, terlalu egois, tidak memikirkan perasaan ibu. Padahal selama ini ibu selalu memikirkan perasaanku, bahkan kebahagiaanku. Tetapi aku sama sekali tidak memikirkan kebahagiaan Ibu, sekali lagi aku minta maaf ya, Bu."
Bu Ari menghela napas panjang mendengar penuturan dari Ella," kita sedang membicarakan dirimu, tentang rumah tanggamu. Kenapa malah kamu mengalihkan pembicaraan kepada pribadi ibu, Ella?"
Ella diam saja mendengar teguran dari ibunya tersebut. Karena saat ini dia benar-benar sedang gundah gulana memikirkan rumah tangganya dengan Rangga.
Berbeda pemikiran dengan Rama yang saat ini sudah sampai di rumah bersama dengan ibunya. Ia mendadak murung dengan sikap Ella yang berubah drastis.
"Mah, aku habis pikir dengan sikap Ella barusan. Sepertinya harapanku untuk bisa mendapatkan Ella pupus sudah dech, mah."
"Pada saat aku melihat Ella bersama suaminya, mereka terlihat akrab sekali seperti tidak terjadi apa-apa selama ini. Bahkan aku melihat wajah Ella sudah tidak murung lagi."
"Malah Ella terlihat tak suka pada saat aku menanyakan tentang niatnya bercerai dari suaminya itu."
Bu Berta sangat mengerti akan apa yang sedang dirasakan oleh Rama saat ini. Dia pun mencoba memberikan penghiburan dan pengertian kepada anaknya.
"Rama, kehidupan memang tidak bisa di tebak. Mungkin Ella berpikir ulang jika harus berpisah dengan suaminya. Apalagi diantara mereka ada seorang anak yang mengikat batin mereka, karena perpisahan orang tua jika ada anak di dalamnya akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Mungkin hal itu yang menjadi pemikiran bagi Ella untuk tidak berpisah dari suaminya."
"Kamu janganlah terlalu berharap kepada Ella, mencobalah untuk membuka hatimu bagi wanita lain. Di sini kita yang salah, karena telah berharap penuh pada Ella. Padahal posisi Elal masih sah istri orang. Jadi kamu tidak boleh menyalahkan, Ella."
__ADS_1
"Maafkan mamah ya Rama, karena Mamah yang terlalu mendorongmu untuk lebih dekat dengan, Ella."
Rama mencoba tersenyum," mamah jangan merasa bersalah seperti itu. Di sini nggak ada yang salah. Hanya saja kehidupan ini rumit sekali."