
Sementara Sigit kini semakin bahagia karena benar-benar sudah tidak ada kabar keberadaan dari Ella dan juga Bu Ari. Lain halnya dengan Rangga, ia terus saja memikirkan di mana saat ini Ella berada. Entah kenapa pikirannya selalu tertuju pada kandungan, Ella.
"Ya Allah, sudah hampir satu bulan lamanya tidak ada kabar dari Ella ataupun ibunya. Lantas apa yang harus aku lakukan? bagaimanapun saat ini Ella masih menjadi tanggung jawabku, karena ia sedang hamil. Walaupun hingga saat ini aku belum sepenuhnya percaya jika anak yang ada di dalam kandungan Ella adalah darah dagingku," batin Rangga gelisah.
Untuk menghilangkan rasa resah dan gelisahnya, dan untuk sejenak menghibur hatinya yang sedang gundah gulana, Rangga memutuskan untuk sejenak healing ke pusat perbelanjaan.
Di saat lagi asyik berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, tanpa sengaja Rangga melihat seseorang yang tak asing lagi baginya. Seseorang tersebut adalah seorang pria yang pada waktu itu ketahuan sedang berada di kamarnya bersama dengan Ella.
"Astaga, bukankah itu pria yang sempat berada di kamarku bersama dengan Ella? tetapi kenapa pria itu saat ini bersama dengan seorang wanita yang sedang hamil besar? ini tidak bisa dibiarkan, aku harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak rela jika ternyata Ella hanya dipermainkan saja oleh pria itu!"
"Apakah Ella saat ini juga bersama dengan pria itu?"
Rangga pun melangkah dengan cepat menuju ke arah pria yang sedang menemani istrinya memilih beberapa pakaian bayi. Spontanitas Rangga langsung menangkap pria itu dengan dua tangan pria itu dipelintir ke belakang punggungnya sendiri.
Sontak saja pria itu mengerang kesakitan, karena ia tidak tahu akan kedatangan Rangga dari arah belakangnya," aahh... sakit! apa-apaan ini?"
Sedangkan wanita yang sedang hamil tua di sebelahnya merasa ketakutan, ia pun meminta kepada Rangga untuk melepaskan suaminya," pak, tolong lepaskan suami saya. Memangnya dia salah apa pada bapak, hingga tiba-tiba bapak berbuat kasar pada suami saya?"
"Heh, apa kamu ingat dengan wajahku? kamu kan pria yang saat itu ketahuan berada di dalam kamar istriku?" bentak Rangga kesal.
"Jadi seperti ini tingkah lakumu, sudah punya istri masih saja mengganggu istri orang!" bentaknya lagi.
Sang istri dari pria itu mendadak terperangah mendengar penuturan dari Rangga. Ia pun mulai terbakar api cemburu dan kemarahan," ayah, apa benar yang di katakan oleh bapak ini? ayah tega mendua di saat aku sedang hamil tua seperti ini? dimana sih hati nuranimu, ayah!"
__ADS_1
Sang istri menangis histeris, ia begitu terpukul mendengar perkataan dari Rangga. Bahkan semua orang yang ada di pusat perbelanjaan tersebut sempat melihat ke arah keributan yang Rangga buat.
Pria itu ketakutan dan gemetaran serta mendadak mengeluarkan keringat dingin," Pak, aku mohon lepaskan tanganku ini. Aku janji tidak akan melarikan diri. Mari kita bicarakan permasalahan ini secara baik-baik dan jangan di tempat ini karena dilihat oleh banyak orang."
"Baiklah, aku akan melepaskan tanganmu ini. Tapi awas, jika kamu melarikan diri, istrimu yang akan aku sandera!" ancam Rangga.
Pria tersebut menganggukkan kepalanya secara perlahan dan saat itu juga Rangga melepaskan cengkraman tangan si pria itu yang ada di belakang punggungnya sendiri. Saat itu juga Rangga mengajak si pria itu dan istrinya untuk berbicara di sebuah kafe yang tak jauh dari pusat perbelanjaan tersebut.
"Pak, sebelumnya aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan beberapa waktu yang lalu. Jujur saja, aku ini bukan selingkuhan istri anda, Pak. Aku terpaksa melakukan hal itu karena butuh uang," ucap pria itu tertunduk.
Sejenak Rangga memicingkan alisnya menatap tajam ke arah pria tersebut," kamu nggak usah berbohong lagi mentang-mentang ada istrimu di sini!"
"Sumpah demi Allah, Pak. Aku sama sekali tidak berbohong. Aku terpaksa melakukan hal itu karena butuh uang. Karena aku telah di pecat dari pabrik, sedangkan istriku saat ini sedang butuh banyak uang," ucap pria itu meyakinkan Rangga.
"Maafkan aku, Bu. Bukannya aku ingin menyembunyikan tentang hal ini, tapi karena ibu sedang hamil aku tidak ingin Ibu terlalu banyak pikiran. Tapi sekarang aku sudah bekerja lagi tapi di tempat lain, Bu," ucap sang suami.
"Pak, aku hanya di perintah oleh seseorang untuk melakukan hal itu. Supaya seolah-olah istri bapak itu berselingkuh. Tetapi sebenarnya, istri bapak denganku tidak melakukan apa pun," ucap pria itu kembali mencoba meyakinkan Rangga.
"Jika benar apa yang telah kamu
katakan ini. Lantas siapakah yang telah memerintah dirimu dan membayar mu? cepat katakan sekarang juga, atau aku akan laporkan kamu ke kantor polisi!" ancam Rangga.
"Dia itu adalah....
__ADS_1
"Pah, kok papah ada di sini sih?"
Ucapan pria itu tercekat pada saat tiba-tiba melihat kedatangan Sigit. Bahkan Sigit sempat sejenak melotot ke arah pria itu hingga pria itu salah tingkah dan ketakutan.
"Sigit, kok kamu ada di sini juga? papah sedang ingin healing sejenak jadi iseng ke mall ini," ucap Rangga.
Sigit meraih ponselnya dan sejenak mengirimkan chat pada pria yang ada di hadapan Rangga tanpa sepengetahuan Rangga dan juga istri pria itu.
[Aku perlu bicara padamu, dan sekarang juga pergi ke toilet. Kita bertemu di sana. Jika sedikit saja kamu bertingkah, istrimu yang akan menjadi sasarannya!]
Selagi Sigit bercengkrama dengan Rangga, pria itu diam-diam melangkah pergi dan mengatakan pada istrinya untuk sejenak menunggu karena dirinya akan sejenak ke toilet.
Setelah lengah dan Rangga tak sadar, Sigit pun sejenak berpamitan pada Rangga," pah, jangan kemana-mana ya? aku ke toilet sebentar doang. Karena ada yang ingin aku katakan juga pada papah."
Rangga hanya menganggukkan kepalanya perlahan dan saat itu juga Sigit berlalu pergi ke toilet untuk segera menemui pria yang pernah di pekerjakan olehnya.
"Heh, kenapa kamu masih saja ada di kota ini? bukankah sudah aku katakan untuk segera pergi dari kota ini? awas ya jika kamu mengatakan pada papahku tentang ku yang telah memerintah dirimu waktu itu!"
"Sekarang juga kamu pergi dari kota ini, jika kamu tak ingin aku mencelakai istri dan calon anakmu!"
Mendengar ancaman dari Sigit, pria itu semakin ketakutan, dia gemetaran dan menganggukkan kepalanya. Ia tak ingin sesuatu yang buruk menimpa istri dan calon anaknya.
Setelah cukup puas mengancam pria itu, Sigit segera berlalu pergi untuk menemui Rangga kembali. Dan mengajak Rangga pergi tetapi Rangga tak mau," tunggu, papah sedang menunggu suami dia."
__ADS_1