
Ella dan Rangga segera pergi dari rumah Rama. Segera sang sopir pribadi melajukan mobilnya menuju arah rumah Ella. Seperginya sepasang suami istri ini, Rama kembali bercengkrama dengan Bu Berta.
"Mah, sedang kita oming eh orangnya datang ya. Aku sebenarnya kesal sekali pada saat melihat suami Ella, barusan. Bahkan ingin sekali aku marah-marah kepadanya, mah. Tetapi aku tahan rasa emosi dan cemburu ini."
Bu Berta tersenyum," Mamah bangga padamu, Rama. Karena kamu bisa menahan rasa emosimu, dan kan juga bisa lapang dada menerima kenyataan jika Ella tak bisa kamu miliki."
"Iya, mah. Lagi pula untuk apa jika aku terus marah, itu nggak akan ada gunanya juga bukan? sekarang aku hanya ingin jalani hidup ini akan adanya, tak ingin lagi berharap karena seperti ini," ucap Rama.
"Yakin saja, Rama. Jika suatu saat nanti kamu pasti bisa bertemu dengan wanita yang lebih baik dari, Ella. Kamu nggak usah terlalu bersedih ataupun kecewa ya, Rama," nasehat Bu Berta.
"Ya, Mah. Aku yang salah kenapa juga hati ini jatuh cinta pada Ella yang sudah jelas punya suami. Aku yang terlalu bodoh, mah," ucap Rama seraya mencoba tersenyum.
"Sudahlah kamu tak usah pikirkan lagi, nanti yang ada malah kamu sakit hati kembali," saran Bu Berta.
"Iya mah, tenang saja. Aku pasti bisa menghadapi semua ini kok."
Rama mencoba menenangkan mamahnya, walaupun di dalam hatinya tidak yakin dengan diri sendiri. Karena perasaan cintanya terhadap Ella sudah begitu mendalam. Walaupun Rama dekat dengan Ella baru beberapa bulan saja.
" Semoga saja aku mampu move on dari, Ella. Karena aku tidak memungkiri baru pertama kali aku merasakan getaran cinta kembali, setelah aku dikecewakan oleh Mery dahulu. Kadang aku merasa kenapa percintaanku selalu saja tidak pernah mengalami peruntungan, selalu saja berakhir tragis seperti ini?" batin Rama merutuki diri sendiri.
Sementara saat ini mobil yang di tumpangi oleh Ella dan Rangga telah sampai di pelataran rumah Ella.
Seperti biasa Rangga tidak langsung pulang, ia duduk di teras halaman. Tetapi kali ini wajahnya murung.
"Ada apa, Mas Rangga? apa kamu sakit, kok murung begitu?" tanya Ella penasaran.
"Aku sedang memikirkan pemuda yang tadi kita datang ke rumahnya," ucap Rangga.
__ADS_1
"Mas Rama, maksudmu?" tanya Ell untuk memastikan.
"Iya siapa lagi, yang didatangi rumahnya kan cuma satu pemuda itu. Aku rasa pemuda itu menyimpan rasa kepadamu. Aku bisa melihat dari wajahnya begitu nggak suka melihatmu datang bersamaku," ucap Rangga.
"Joka dia suka padaku itu urusannya, Mas. Nggak usah dibuat masalah. Apa kamu ingin kita bertengkar lagi? hanya gara-gara hal sepele saja dipermasalahkan. Aku nggak suka loh," ucap Ella ketus.
"Aku minta maaf, sayang. Bukan aku mau mempermasalahannya kok. aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan saja. Aku merasakan pemuda itu mempunyai rasa suka kepadamu, sudah hanya itu saja kok. Tolong kamu jangan marah, karena aku tidak bermaksud apa-apa hanya mengutarakan apa yang ada di hatiku saja," ucap Rangga halus.
"Aku tahu kok apa maksud dari ucapanmu itu, intinya kamu cemburu kan? seharusnya kamu tak perlu cemburu, kecuali aku berbuat tidak baik dengan membalas perasaan Mas Rama. Aku tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang saudara hanya itu saja, jadi jangan pernah berpikiran buruk terhadapku lagi. Karena aku tidak akan memaafkanmu lagi, Mas. Jika menuduhku kembali seperti tempo dulu. Karena aku paling nggak suka ya, jika aku di tuduh selingkuh."
Melihat kemarahan yang mulai terlihat pada wajah Ella, Rangga pun mulai cemas dan ia berusaha membujuk Ella supaya tidak marah dan bisa meredam amarah tersebut," sayang, tolong jangan marah. Aku minta maaf ya. Aku sama sekali tidak menuduhmu dengannya, sekali lagi aku minta maaf."
"Kamu bukan anak kecil lagi, bukan ABG lagi, Mas. Jadi tak perlu lah sedikit-sedikit curiga, sedikit-sedikit cemburu, heran deh aku!"
"Sudahlah, mas. Sebaiknya kamu pulang saja, karena aku mau istirahat. Rasanya lelah sekali."
Hingga akhirnya Rangga pun bangkit dari duduknya, dan ia melangkah ke pelataran rumah masuk ke mobilnya dengan perasaan kecewa.
"Aku nggak mau nantinya Ella berubah pikiran dan tak mengizinkanku dekat lagi padanya. Serta aku tak mau setelah melahirkan, Ella benar-benar menggugat cerai diriku."
Terus saja Rangga menggerutu di dalam hatinya. Ia menyesali perkataannya sendiri, dan terlihat sangat cemas.
Sementara di dalam kamarnya, Ella juga sedang merasa kesal," baru aku berusaha memaafkan, eh sudah berulsh lagi. Membuat aku menjadi ragu lagi jika ingin mengurungkan niatku bercerai."
"Aku paling nggak suka kalau di cemburui, aku paling anti dengan lelaki yang posesif. Menyebalkan sekali dech!"
"Astaghfirullah aladzim, kenapa aku nggak bisa menahan amarahku ini ya? entah kenapa aku kok langsung marah-marah seperti ini?"
__ADS_1
Ella menghela napas panjang seraya meraih air putih yang ada di dalam kamarnya. Ia meminum satu gelas air putih tersebut, supaya pikirannya tenang dan tidak marah-marah terus.
"Alhamdulillah, akhirnya tenang juga pikiranku. Sudah bisa meredam emosiku."
Ella merebahkan tubuhnya di pembaringan, seraya matanya menatap langit-langit kamar. Dan perlahan matanya mulai terpejam. Ia pun tertidur nyenyak.
Esok harinya, di depan rumah Rama datang seorang wanita muda. Dia tetap saja memencet bel pintu gerbang. Dan security segera mengintip dari lubang kunci.
"Anda siapa dan ada perlu apa? apakah sudah ada janji dengan, Den Rama?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut security.
"Saya calon pekerja baru, yang akan merawat Nyonya Berta. Dari sebuah yayasan perawat khusus manula," ucapnya.
Security terpesona dengan kecantikan wajahnya, hingga ia pun lekas membuka pintu gerbangnya.
"Silahkan masuk, Nona Cantik."
Wanita muda tersebut lekas masuk dan security lekas berlari ke arah rumah untuk segera memberi tahukan pada majikannya.
"Rama, apa kamu yang telah memesan perawat untuk Mamah?" tanya Bu Berta.
"Iya, mah. Setidaknya supaya mamah nggak kesepian sendirian di rumah. Ayok kita lihat dulu, seperti apa orangnya."
Rama merangkul Bu Berta untuk melangkah menuju ke pelataran rumah. Dimana wanita itu sedang berdiri menunggu.
"Maaf, apa mba dari Yayasan Budi Dharma Kasih?" tanya Rama.
"Iya, benar sekali."
__ADS_1
"Duduklah, dulu. Kami ingin sejenak bercakap-cakap dengan, mba. Oh ya, nama mba siapa ya?" tanya Rama terus saja menatap ke arah wanita yang ada di hadapannya.
Tetapi Rama merasa aneh, karena wanita yang ada di hadapannya tersebut, selalu saja memalingkan wajahnya jika Rama menatap dirinya," kenapa gelagatnya mencurigakan sekali ya?"