
Ella pun menunggu Rangga, ia sempat heran pada suaminya.
"Ko Mas Rangga tiba-tiba menelpon di saat aku sedang dilema ya? seperti tahu saja apa yang sedang aku pikirkan. Sebenarnya kasihan juga dirinya ya? ah.. kenapa aku jadi seperti ini sih?"
Sementara Rangga sedang bersiap-siap akan pergi ke rumah Ella.Dia begitu terlihat sangat bahagia dan antusias.
"Ya Allah, semoga saja ini awal yang baik untuk kehidupan rumah tanggaku bersama Ella. Semoga ada suatu keajaiban, dimana Ella mengurungkan niatnya untuk berpisah dariku. Ya Allah, aku mohon padaMu dengan sangat supaya bisa merubah keputusan Ella. Karena hanya Engkau yang bisa membilsk balikkan hati manusia."
Setelah sejenak Rangga berdoa di dalam hatinya. Ia pun lekas meminta sopir pribadinya untuk mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Ella. Beberapa menit saja, mobil yang ditumpangi oleh Rangga telah sampai di pelataran rumah Ella dan saat ini Ella juga sedang duduk di teras rumah untuk menunggu dirinya datang.
Rangga pun segera keluar dari mobil, ia pun menghampiri Ella seraya tersenyum dan menuntunnya melangkah perlahan menuju mobilnya.
Selama di dalam mobil keduanya tidak bertegur sapa, tidak bercerita sama sekali. Hingga beberapa detik kemudian, Rangga memberanikan diri mengusap perut Ella.
"Hallo anaknya papah yang ganteng, kita jalan-jalan sebentar ya? untuk mengecek kesehatanmu. Jika kamu ingin apa-apa, jangan sungkan memintanya pada Mamah supaya mamah mengatakan langsung pada papah sekarang juga."
Beberapa kali Rangga mengusap perut Ella dan bahkan ia mengecup lembut perut Ella. Di dalam perut terjadi pergerakan anak mereka. Hingga Rangga terlihat begitu senangnya.
"Sayang, anak kita merespon. Dia bergerak lincah. Oh ya, katakan saja jika kamu inginkan sesuatu, sayang."
Ella hanya diam saja, pandangan matanya menerawang jauh entah kemana. Pikirannya sedang traveling, entah memikirkan apa. Hingga satu tepukan mendarat di bahu Ella yang membuatnya tersentak kaget.
"Sayang, sudah sampai ayo kita segera turun," ajak Rangga.
"Astaghfirullah aladzim... gara-gara dari tadi aku melamun saja sehingga aku tidak sadar jika telah sampai," batin Ella.
Pada saat suami-istri ini melangkah keluar dari mobil tiba-tiba ada sepasang suami istri yang lain berbisik-bisik, tetapi sempat didengar oleh Ella maupun Rangga.
"Kamu lihat, sayang. Dia cek kandungan saja di temani oleh ayahnya. Masih beruntung dirimu, bukan? suamimu ini selalu menjadi suami yang Siaga."
"Iya, mas. Kasihan juga ya? lantas kemana suaminya ya, nggak menemaninya. Padahal moment paling berkesan itu jika sedang mengetahui tumbuh kembang anak."
__ADS_1
"Makannya dari itu, kamu harus selalu bersyukur karena ada yang kurang beruntung darimu."
Ella dan Rangga hanya diam saja, tetapi di dalam hati Rangga, ia menggerutu sendiri.
"Biasanya dulu, jika ada orang berkata seperti ini Ella dengan sangat antusias menjawab bahwa aku ingin adalah suaminya. Tetapi kenapa kali ini, Ella diam saja. Apakah memang Ella sudah tidak menginginkanku, untuk menjadi suaminya lagi?"
"Aku memang menyadari bahwa aku tidak pantas untuk bersanding di samping Ella, karena jarak usia kami terpaut jauh sekali. Tetapi aku ingin selalu ada di sisinya, bertanggung jawab sepenuhnya dengan kehamilannya."
"Apakah aku salah ya Allah,
jika aku menginginkan hal seperti itu?apakah memang di dunia ini tidak pantas jika pasangan suami istri salah satunya lebih tua?"
"Apakah pasangan suami istri tidak boleh terpaut jauh umurnya? apakah harus sepadan atau selisih umur hanya beberapa tahun saja? apakah hubunganku dengan Ella tidak wajar?"
Terus saja di dalam hati Rangga menggerutu. Gara-gara baru saja ia mendengar bisik-bisik dari pasangan suami istri yang ada di belakang dirinya.
Tak berapa lama Ella masuk ke dalam ruang pemeriksaan ditemani oleh Rangga. Karena selama ini Ella memeriksakan kandungannya sendiri, hingga dokter pun tidak memahami jika Rangga adalah suaminya.
Ella hanya diam saja, justru Rangga yang berkata," saya suaminya, dok. Apakah perlu saya tunjukkan foto pengantin dan surat nikah kami berdua supaya dokter percaya saya ini suaminya?"
Rangga agak tersinggung, hingga ia tidak sadar dengan apa yang barusan dikatakannya.
"Maafkan saya, pak. Karena selama ini Mbak Ela selalu memeriksakan kandungannya sendirian, jadi saya tidak tahu jika bapak ini adalah suaminya."
Dokter merasa tidak enak hati, ia pun menangkupkan kedua tangannya di dada seraya tersenyum ke arah Rangga.
Rangga hanya mengangguk pelan, karena dirinya masih merasa tersinggung dengan kata-kata dokter barusan.
Dokter pun segera melakukan pemeriksaan terhadap kandungan Ella saat itu juga. Hingga beberapa menit kemudian, Ella dan Rangga keluar dari ruang pemeriksaan tersebut.
Kembali keduanya tanpa bertegur sapa berjalan berdampingan menuju ke pelataran rumah sakit di mana sang sopir pribadi Rangga telah menantinya di balik kemudinya.
__ADS_1
Pada saat mobil yang di tumpangi mereka melewati sebuah cafe. Tanpa sadar, Ella merengek meminta berhenti.
"Mas, aku lapar. Boleh kan, makan di cafe depan itu?" pintanya tanpa sadar.
"Boleh, sekali sayang."
"Pak, tolong berhenti di cafe depan itu ya?" pinta Rangga pada sang sopir pribadi.
Sesampainya di cafe, Ella memesan beberapa macam makanan.
"Mas, nggak apa-apa kan? jika aku memesan nggak cuma satu menu?" tanya Ell ragu.
"Astaghfirullah aladzim, kenapa kamu bertanya seperti itu, sayang? kamu mau pesan semua menu yang ada di cafe ini juga nggak apa-apa. Aku nggak larang, justru aku sangat senang jika kamu makan banyak. Supaya kamu dan anak kita sehat selalu."
Ella pun terdiam pada saat mendengar perkataan Rangga. Ia malah asik memainkan ponselnya seraya menunggu pesanan datang.
Beberapa detik kemudian...
Pesanan datang, dan Ella langsung makan dengan lahapnya. Tanpa ia sadar ada sedikit makanan yang menempel di sudut bibirnya.
"Sebentar sayang."
Rangga meraih tisue dan mengusap sudut bibir Ella dengan lemah lembut.
Tanpa sadar keduanya sejenak terdiam dan saling berpandangan satu sama lain tanpa berkedip. Hingga pada menit terakhir Ella memundurkan tubuhnya.
Dan ia segera melanjutkan makannya dengan lahapnya, tiba-tiba ia tanpa sadar berkata," mas, kamu nggak makan? pesan gih, untuk menemaniku makan. Rasanya kurang seru jika aku makan sendirian saja."
Hingga pada akhirnya Rangga memesan satu menu makanan untuk menemani Ella makan. Keduanya makan tanpa bersuara, tanpa berkata.
Rangga tiada hentinya menatap ke arah Ella yang sangat menikmati makanannya.
__ADS_1
"Ya Allah, aku ingin selalu merasakan moment seperti ini. Semoga saja ini bukan yang terakhir aku bersama dengan Ella makan bersama,' doanya di dalam hati berharap selalu bis bersama Ella.