
Rama pulang dengan rasa lega," Alhamdulillah ya Allah, akhirnya orang yang ingin mencelakai Mamah telah menerima hukuman yang setimpal. Semoga saja tidak ada orang lain yang ingin mencelakai Mamah lagi."
Kabar baik ini disampaikannya kepada mamahnya. Tetapi Mamah Berta merasa iba pada Mery karena menurutnya masa hukumannya terlalu lama.
"Kasihan juga Mery harus meringkuk dalam penjara selama lima belas tahun tahun lamanya."
Rama merasa heran kepada mamahnya," kenapa Mamah malah merasa iba pada Mery yang sudah jelas dua kali ingin mencelakai Mamah, ingin menyingkirkan Mamah dari hidup ini?"
"Nggak tahu kenapa, Rama. Tetapi kok kasihan juga loh, apa nggak bisa di kurangi masa hukumannya?" tanya Mamah Berta.
"Astaghfirullah aladzim, semua itu sudah tertulis di dalam kitab undang-undang hukum pidana. Jadi tidak bisa dikurangi masa tahanannya, kecuali keluarga Mery naik banding. Itupun tidak bisa di pastikan akan di terima bandingnya. Sudahlah, mah. Nggak usah memikirkan Mery lagi. Seharusnya Mamah itu senang, sudah tidak ada lagi bahaya yang mengancam untuk kehidupan, mamah," ucap Rama sedikit kesal pada mamahnya.
Dari pada nantinya dia akan terpancing emosi dengan perkataan mamahnya. Ia pun memutuskan untuk berlalu pergi dari hadapan, mamahnya.
*********
Satu bulan kemudian, umur kandungan Ella sudah memasuki umur sembilan bulan.
Dia merasa tambah berat untuk berjalan. Tetapi dia merasa semakin senang, karena masa kelahiran anaknya sebentar lagi. Hari perkiraan lahir satu minggu lagi.
"Bu, dulu pada saat ibu hamil aku bagaimana rasanya menjelang umur sembilan bulan?"
Bu Ari tersenyum mendengar pertanyaan dari Ella," rasanya ya pastinya seperti yang kamu rasakan saat ini."
"Ampun dah Ibu, aku bertanya malah jawabnya seperti itu. Biasanya kan ada yang rasanya berbeda-beda, masa iya perasaan ibu sama sepertiku? memang ibu tahu apa yang aku rasakan saat ini coba katakan?" ucap Ella terkekeh.
"Rasanya sudah terasa berat sekali, seperti membawa beban terlalu berat. Dan malas untuk berjalan, intinya sudah ingin melahirkan saja," ucap Bu Ari.
"Nah jawabnya yang lengkap seperti itu loh, bu. Karena aku ingin tahu bagaimana rasanya perasaan ibu dulu pada saat hamil aku umur sembilan bulan," ucap Ella.
Pada saat mereka bercengkrama panjang lebar, tiba-tiba Ella merasakan perutnya melilit sakit sekali," aduh....Bu.. kenapa tiba-tiba perutku kok mules seperti ini?"
__ADS_1
Ella terus saja merintih menahan rasa sakit yang teramat sangat pada perutnya. Bu Ari meraba perut Ella yang sedari tadi mengencang.
"Tahan dulu ya, Ella. Ini sedang mulai kontraksi, tetapi baru tahap awal. Jadi kita jangan buru-buru ke dokter dulu. Karena nantinya akan terlalu lama jika kita ke dokter sekarang," saran Bu Ari.
"Baiklah, Bu. Tapi izinkan aku untuk menelepon Mas Rangga ya?" Ella berucap lirih seraya menahan rasa sakit di perutnya.
Belum juga Ella menelpon Rangga, tiba-tiba terdengar suara daru mobil di pelataran rumah Ella. Rangga lekas berlari masuk ke dalam rumah Ella, dan mencari keberadaan Ella.
"Sayang, kamu ada dimana?" Rangga berteriak.
"Aku ada di kamar, Mas. "
Rangga berlari kecil ke arah kamar Ella. Ia begitu panik pada saat melihat Ella sedang merintih kesakitan.
"Ternyata perasaanku benar adanya. Di rumah aku sempat cemas sekali dan tiba-tiba pikiranku selalu tertuju kepadamu, hingga aku memutuskan untuk datang kemari menjengukmu, sayang."
Rangga mengusap-usap perut Ella.
"Padahal aku baru saja ingin menelponmu, Mas. Tetapi aku mengurungkannya, karena aku sempat mendengar deru mobil milikmu di pelataran rumah," ucap Ella lirih.
"Kata ibu, jangan dulu ke rumah sakit menunggu beberapa saat dulu," ucapnya lirih.
"Tetapi aku benar-benar tak tega melihatmu seperti ini. Bu,biarkanlah Ella ke rumah sakit bersamaku sekarang ya?" bujuk rayu Rangga.
Karena merasa tak enak hati pada Rangga, akhirnya Bu Ari pun mengizinkan untuk dirinya membawa Ella ke rumah sakit saat itu juga.
Rangga menuntun Ella perlahan-lahan menuju ke mobilnya, dan saat itu juga mobil meluncur ke rumah sakit bersalin di mana Ella selalu rutin menjalani pemeriksaan.
Setelah sampai di rumah sakit, Ella pun langsung dibawa ke ruangan khusus bersalin. Bahkan Rangga turut serta masuk ke dalam ruangan tersebut, karena dia ingin mendampingi proses melahirkannya, Ella.
Sejenak Ella diperiksa terlebih dahulu, apakah memang waktu melahirkan sudah tiba atau harus menunggu beberapa saat lagi.
__ADS_1
Pada saat Ella akan diperiksa jalan lahirnya oleh seorang dokter kandungan, air ketubannya telah pecah terlebih dahulu. Dokter pun memberikan isyarat bahwa Ella sudah bisa melahirkan saat itu juga. Dokter memeriksanya kembali untuk memastikan kesiapan proses bersalin.
Setelah benar-benar sudah siap untuk melahirkan, Ella di minta untuk mengikuti arahan dari sang dokter tersebut. Dimana wakty yang tepat untuk ambil napas, dimana waktu yang tepat untuk mengejan.
Tak perlu menunggu waktu lama...
Oek...Oek...Oek...
Lahirlah seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan chuby.
"Alhamdulillah, anak kita sudah lahir, sayang."
Satu perawat membersihkan bayinya, dan perawat lain mengurus Ella dan tempat tersebut. Sementara Rangga di minta untuk keluar sejenak.
Beberapa menit kemudian...
Rangga di izinkan untuk masuk kembali, dan ia lekas mengadzani anak lelakinya. Hatinya sangat senang sekali.
"Alhamdulillah, anak Papah yang ganteng ini sudah lahir ke dunia ini. Papah sangat senang sekali."
Rangga menciumi bayinya tersebut, tetapi sejenak ia murung. Di dalam hatinya menggerutu," Ya Allah, aku bahagia karena pada akhirnya anakku telah lahir. Dan Ella juga menepati janjinya dengan mengizinkan aku ada di sampingnya hingga anak ini lahir. Tetapi aku takut ya Allah, setelah ini bagaimana keputusan dari, Ella?"
Di dalam hatinya terus saja menggerutu sendiri, dia sangat cemas sekali.
"Mas Rangga, kamu kenapa nurung seperti itu?" tegur Ella.
"Entahlah, sayang. Aku merasa cemas sekali, memikirkan rumah tangga kita. Aku takut, kamu akan...
"Aku akan menggugat cerai dirimu? itukah yang kamu takutkan, mas? bukannya kamu senang, jika aku melepasmu, kamu bisa menikah lagi. Apa lagi kamu kaya, punya segalanya," goda Ella.
"Kamu salah, sayang. Aku bahkan sudah mempersiapkan semuanya. Jika memang sampai di sini hubungan kita, aku sudah mewariskan semua harta kekayaanku untuk anak kita ini," ucap Rangga.
__ADS_1
"Aku tidak akan menikah lagi, Ella. Tapi entahlah, hanya kamu yang tahu keputusanmu itu," ucap Rangga.
Ella tersenyum," mas, setelah aku berpikir begitu lama beberapa bulan pada saat kita pisah rumah. Aku mengurungkan diri untuk menggugat cerai dirimu. Karena aku nggak tega sama anak kita, jika masih kecil sudah jauh dari papahnya," ucap Ella.