
Esok harinya, Ella melakukan segala aktifitasnya seperti biasanya. Kali ini Bu Ari akan selalu mengawasi segala gerak gerik Sigit dan waspada dalam menjaga Ella.
"Pokoknya mulai hari ini dan selamanya aku tidak akan teledor, tidak akan lengah. Supaya Sigit tidak melakukan hal yang berbahaya terhadap anak dan calon cucuku. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti kemarin. Tapi kali ini aku akan benar-benar menjaga anak dan calon cucuku supaya terhindar dari bahaya yang mengancamnya," batin Bu Ari.
Sementara sifat Rangga masih seperti sediakala. Ia masih bersikap dingin terhadap Ella, walaupun Bu Ari telah menjelaskan bahwa semua yang terjadi adalah suatu jebakan atau rekayasa yang dilakukan oleh Sigit, tetapi ia tidak mempercayainya sama sekali.
"Bagaimana mungkin Sigit melakukan kejahatan itu, karena dia adalah anak kandungku. Aku heran dengan pemikiran Bu Ari. Aku sangat yakin Bu Ari membenciku, hingga ia mau fitnah anakku sendiri supaya aku dan Sigit saling membenci satu sama lain," batin Rangga pada saat ia sedang bersiap-siap akan ke kantor.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh, Sigit. Ia pun melangkah menghampiri Rangga yang ada di dalam kamar tamu.
"Pah, mau berangkat ya? bisa kita bicara sebentar saja?" ucapnya lembut.
"Hem, ada apa sih? papsh lagi nggak ingin membahas masalah Ella," ucap Rangga ketus.
"Hanya sebentar saja kok, pah. Apa pah percaya dengan yang di katakan Bu Ari, hingga papah bersikap ketus seperti ini padaku?"
Sejenak Rangga menghentikan aktifitasnya memakai dasi," kamu ini ngomong apa sih? Papah sedang buru-buru, mungkin papah percaya dengan omong kosong yang di katakan oleh, Bu Ari . Karena papah tahu ia itu sudah sejak lama nggak suka dengan pernikahan papah dan Ella."
"Pah, apa nggak sebaiknya papah usir saja Ella dan ibunya sekarang juga. Dari pada nantinya mereka berbuat hal yang tak di inginkam lagi," ucap Sigit mulai membujuk Rangga.
"Sigit, kamu urus dirimu saja ya? ini kan urusan rumah tangga papah, jadi biar papah sendiri yang menyelesaikan dengan cara, papah."
Setelah mengatakan hal itu, Rangga berlalu pergi dari kamar tamu tersebut dan ia segera melangkah pergi dari rumah tersebut menuju ke pelataran rumah dimana ssng sopir pribadi sudah menunggu dirinya.
__ADS_1
"Astaga .. bagaimana caraku supaya bisa meyakinkan papah supaya lekas mengusir Ella dan Bu Ari ya?" gumamnya.
Perkataan Sigit tak sengaja di dengar oleh, Ella. Ia tidak menegurnya, tetapi ia akan lebih waspada supaya tidak terjebak lagi oleh Sigit.
Ella tidak akan membiarkan Sigit terus meracuni pikiran Rangga dengan segala hasutannya.
Setelah Ella tahu Sigit benar-benar pergi ke kantor, ia lekas menghubungi seseorang yang ahli di bidang pemasangan CCTV.
Ella sengaja memasang setiap sudut ruangan dengan CCTV tanpa sepengetahuan Rangga maupun Sigit. Ia hanya ingin berjaga-jaga supaya tidak terjadi hal buruk pada dirinya oleh ulah, Sigit.
"Aku yakin dengan begini aku bisa selalu mawas diri dan terhindar dari segala niat buruk, Sigit. Aku juga bisa mengungkap kejahatannya lewat rekaman video CCTV jika suatu waktu, Sigit ingin melakukan hal buruk padaku," batinnya lega pada saat pemasangan CCTV telah selesai.
Apa yang sedang dipikirkan oleh Ella benar adanya, saat ini di kantornya Sigit sedang memikirkan cara yang baru untuk bisa menghancurkan Ella dan ibunya.
"Sebaiknya aku lekas melanjutkan rencanaku untuk menyingkirkan Ella dari rumahku. Karena aku sudah benar-benar benci padanya, dan juga setelsh aku berpikir panjang. Ada baiknya juga aku memisahkan Papah dari ella. Karena aku tak ingin semua harta warisan papah juga jatuh ke tangan Ella. Apa lagi saat ini Ella sedang hamil."
Tak terasa sore menjelang, Sigit pun segera pulang ke rumah untuk menemui salah satu asisten rumah tangganya.
"Bi, bisa ke kamarku sebentar. Karena di kamarku kotor sekali sepertinya belum dibersihkan ya?" pinta Sigit.
Sang bibi tidak bisa menolak permintaan dari Sigit, karena ia sudah tahu bagaimana sifat dari anak majikannya tersebut. Jika ia membantah sedikit saja pasti akan dipecatnya.
Setelah si bibi berada di kamar Sigit, ia pun mengutarakan niatnya itu kepada si bibi.
__ADS_1
"Bi, kamu harus melakukan apa yang aku perintahkan! jika tidak, kamu akan aku pecat saat ini juga! kamu sudah tahu kan, kalau apa yang aku katakan tidak pernah main-main," ucapnya dengan tersenyum sinis.
"Tapi, Den. Jika terjadi hal buruk pada kandungan Non Ela bagaimana? sama saja aku membunuh seorang anak," ucap si bibi seraya tertunduk ketakutan.
"Memang itu yang aku harapkan, supaya Ella keguguran. Jika kamu tidak mau melakukannya, ya sudah. Pulang ke kampung saja sana, dan aku tidak akan memberi uang pesangon sedikitpun padamu!"
"Bukan hanya itu, aku akan menyakiti keluargamu yang ada di kampung jika kamu menolak perintahku ini!"
Si bibi sangat ketakutan pada saat mendengar ancaman dari Sigit, ia pun pada akhirnya terpaksa menuruti perintah dari sang anak majikannya tersebut.
Bibi segera keluar dari kamar Sigit dengan wajah murung. Hatinya kini diliputi oleh rasa dilema, ia sebenarnya tidak ingin menyakiti Ella, apalagi saat ini sedang hamil muda. Tetapi di satu sisi dia ketakutan jika tidak menuruti kemauan Sigit, keluarganya yang akan celaka.
"Kenapa, Den Sigit jahat sekali pada Non Ella ya? padahal Non Ella sangat baik hati, kenapa ia ingin membuat Non Ella kehilangan janinnya?" di dalam hati bibi dipenuhi oleh rasa tanya yang sangat membuat dirinya penasaran.
Saat itu juga si bibi melakukan perintah dari Sigit dengan ia menuang minyak goreng di depan pintu kamar Ella. Bibi celingukan ke kanan ke kiri ke segala arah, sebelum melakukan hal itu. Dengan perasaan was-was, karena takut ketahuan ia pun buru-buru menuang minyak goreng tersebut, setelah itu melangkah cepat pergi dari depan kamar Ella.
Di dapur bibi gemetaran ketakutan keluar keringat dingin begitu banyaknya ia mondar-mandir ke kanan ke kiri memikirkan akan apa yang kelak terjadi pada diri Ella setelah menginjak lantai yang terdapat minyak goreng tersebut.
Bu Ari merasa heran melihat gelagat aneh dari bibi. Tetapi ia tak berani bertanya padanya, hanya bisa menggerutu di dalam hatinya.
Bu Ari ingat jika saat ini Ella belum minum susunya, dan ia pun segera melangkah ke kamar Ella dengan membawa segelas susu ibu hamil.
"Pyang!"
__ADS_1
"Aahh....."
Bu Ari terpeleset jatuh, dan gelas yang di pegangnya jatuh pecah. Sementara Bu Ella tak sadarkan diri.