Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Menolong Wina


__ADS_3

Selepas istirahat sejenak melepas rasa lelah, Rangga ke ruang makan untuk sarapan bersama dengan Ella dan orang tuanya.


Sementara di tempat lain, Fredy sedang merasakan kesepian sejsk Ayah Bayu dan Bu Ari tinggal di rumah Ella.


"Sepi juga, nggak ada ayah dan ibu. Biasa aku sarapan bersama mereka. Tetapi sejak beberapa hari terakhir, aku seorang diri."


"Nggak apa-apa, lah. Toh aku sudah kenyang dengan kasih sayang, ayah. Sementara Ella dari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah."


"Nggak nggak boleh iri, justru aku harus selalu mendukung Ella. Karena dia saudara satu-satunya aku, walaupun lain Ibu."


"Coba saja aku punya istri dan anak ya? eh kok aku jadi ingat si cantik Wina ya? tetapi dia galak banget, susah sekali untuk aku dekati."


"Bagaimana ya, caraku untuk bisa mendapatkan hati seorang Wina? dia gadis yang unik, dan lain dari pada yang lain."


Selagi dirinya sarapan seraya melamunkan Wina, tiba-tiba ponselnya berdering. Yang tak lain panggilan telepon dari Wina. Fredy sempat meminta nomor ponsel Wina pada saat ia menolong Rangga. Dengan sangat antusias Fredy mengangkat telepon dari Wina.


📱" Ada apa, Wina?"


📱"Mas, aku bisa minta tolong nggak? aahh....sssttttt.."


📱" Kamu kenapa, apa yang terjadi padamu?"


📱"Aku jatuh mas, motorku tergelincir dan aku sedang berjuang ini. Mas, cepat tolong aku, jika tidak aku harus ke dalam jurang. Di sini nggak ada orang sepi banget."


📱"Aku di hutan yang tak jauh dari rumahku."


Klotak..... Ponsel Wina jatuh ke dalam jurang. Wina mencoba untuk bertahan, dia berusaha naik ke atas walaupun berkali-kali tergelincir lagi turun ke bawah.


📱"Win-Wina! hallo!"


"Astaga...Wina...!"


Fredy sangat cemas dengan kondisi Wina, ia pun segera berlari melajukan mobilnya motor gedenya. Karena Fredy telah tahu bagaimana kondisi hutan yang tak jauh dari rumah Wina. Dia sudah paham, jika mobil susah sekali untuk masuk.


Fredy melajukan motornya dengan sangat cepat, hingga ia sudah sampai di lokasi Wina saat ini sedang berjuang sendiri untuk bisa naik ke atas daratan.

__ADS_1


Sedangkan motor Wina tergeletak di tepi jurang.


"Astaghfirullah aladzim, bagaimana kamu bisa seperti ini Wina?"


Fredy lekas meraih tali tambang dan melemparnya ke arah Wina. Sementara satu sisinya terlebih dahulu ia ikatkan pada roda motor gedenya. Sementara kedua tangannya, membantu Wina untuk bisa lekas ke atas daratan.


"Alhamdulillah, terimakasih ya mas. Maaf aku merepotkan, entah kenapa pada saat aku ingin menelpon teman sesama gojek, eh malah nomor ponselmu yang aku telpon," ucap Wina seraya mengurut sendiri tangan dan kakinya.


"Nggak apa-apa, tadi aku sempat panik pada saat tiba-tiba ponselmu berbunyi dan tak aku dengar suaramu lagi."


"Ponselku terjatuh ke jurang, karena aku sudah tidak kuat bertumpu hanya dengan satu tangan. Dan pada saat aku menaruh ponsel dalam kantung celanaku, aku pikir sudah pas. Eh malah jatuh."


"Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini?"


Wina pun menceritakan jika ada sebuah mobil yang sengaja memepet laju motornya. Sedangkan jakdn tersebut tidak muat untuk dua kendaraan sekaligus. Mobil tersebut memaksa lewat, hingga menyenggol motor Wina.


"Aku juga heran, entah bagaimana motor ku tak jatuh ke jurang, tetapi malah aku yang jatuh."


Saat itu juga, Fredy menelpon beberapa anak buahnya untuk segera datang ke lokasi. Karena ia khawatir mobil yang telah mencelakai Wina akan melintas lagi.


"Aku harus waspada, jangan sampai mobil itu melintas lagi untuk melakukan hal buruk lagi pada Wina. Jika mendengar ceritanya, dia seperti punya musuh," batin Fredy.


"Hem... entahlah, mas. Karena aku merasa tak punya musuh. Hanya saja aku sering bantu orang dari begal, pencuri, pencopet. Apa mungkin diantara mereka itu ada yang Dendi padaku?" ucap Wina tak yakin.


"Bisa jadi seperti itu. Seharusnya kamu tak usah ikut campur melawan para penjahat."


Wina tak suka dengan perkataan dari, Fredy.


"Mas, aku tidak akan bisa diam saja jika kejadian kejahatan tepat di depan mataku. Itu bukan sifatku membiarkan penjahat berhasil dalam aksinya."


"Aku tahu, Wina. Tetapi kamu ini wanita loh, sepintar apa pun kamu dalam bela diri, tetap bisa di kalahkan oleh pria," nasehat Fredy.


Tetapi Fredy hanya menasehati Wina sejenak saja, karena tak lama kemudian datang beberapa anak buah Fredy dengan mengendarai mobil.


"Kalian bawa motor, sedangkan aku bawa mobilnya. Kita bertemu di rumahku ya," pinta Fredy pada beberapa anak buahnya.

__ADS_1


Sedangkan Fredy lekas menggendong tubuh Wina secara tiba-tiba tanpa meminta izin terlebih dahulu. Hingga membuat Wiamba tersentak kaget," mas, turunkan! aku masih bisa jalan kok."


Wina memukul-mukul dada bidang Fredy, hingga spontan Fredy menurunkan Wina, tetapi di luar ekspektasi, Wina tidak bisa berdiri dengan tegak dan pada saat akan terjatuh, Fredy lekas menangkap tubuhnya kembali.


"Dasar keras kepala! nggak mampu berdiri saja! aku hanya ingin menolongmu saja, jadi nggak usah berpikiran yang macam-macam."


"Enak saja ya, aku sama sekali nggak berpikiran macam-macam. Itu hanya perasaanmu saja. Ih cowok blok baperan."


Fredy hanya diam saja, tetapi di dalam hatinya merasa senang," nggak menyangka baju akan sedekat ini denganmu Wina."


Wina merasa salah tingkah pada saat dirinya di gendong, Fredy terus saja menatap dirinya," mas, akan ada yang aneh denganku? hingga kamu menatapku seperti itu?"


Fredy terkesiap mendapatkan teguran dari Wina. Ia pun mengalihkan pandangan ke arah lain.


'Wina, kamu nggak usah khawatir. Nanti aku belikan ponsel yang baru ya.'


"Hem,.. mengalihkan pembicaraan. Nggak usah, mas. Nanti aku beli sendiri saja jika kakiku ini sudah nggak sakit."


Fredy meletakkan Wina di jok mobil samping jok kemudi. Lantas ia sendiri duduk balik kemudinya.


Karena ia barusan bertukar tempatnyae, anak buahnya mengendarai motor gedenya dan juga motor milik Wina.


Sesampainya di rumah, Fredy lekas menelpon dokter pribadinya untuk segera datang ke rumah.


Kruwuk.... kruwuk....


Bunyi perut Wina begitu kerasnya, hingga Fredy pun sempat mendengarnya," kamu lapar ya?"


"Nggak kok," elak Wina.


"Hem... nggak salah. Sebentar ya aku ambilkan sarapan.. Kebetulan juga masih lapar, kita sarapan bareng ya. Sambil menunggu dokter datang."


Fredy memanggil bibi untuk membawakan dua piring sarapan dan juga minumannya sekaligus.


Sementara sambil menunggu bibi membawa sarapan, Fredy memesan satu ponsel baru di sebuah galery khusus ponsel langganan dirinya. Dan meminta di kirim ke alamat rumahnya sekarang juga.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian...


Mereka sarapan bersama.


__ADS_2