Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Jenguk Wina


__ADS_3

Selesai sarapan, baru beberapa menit datang paket berupa ponsel.


"Wina, ini untukmu."


Paket berupa ponsel tersebut diberikan pada, Wina tetapi Wina tidak langsung menerimanya.


"Mas, nggak usah. Aku sudah merepotkan dirimu dengan menyelamatkanku dan juga memberikan sarapan padaku."


Tetapi Fredy tidak tinggal diam, ia tetap memberikan ponsel tersebut dengan meletakkan di tangan Wina," dosa jika menolak rezeki. Nanti kamu bingung jika tidak ada Ponsel, bagaimana kamu bisa menarik pelanggan ojekmu?"


"Ya sudah, ini aku terima. Tetapi anggap saja aku berhutang padamu ya, mas. Aku akan mengangsurnya untuk membayarnya," ucap Wina.


"Heh enak saja, aku ini bukan tukang kredit. Sudah, nggak usah mikir yang macam-macam pake ingin angsur segala. Gunakan saja ponselnya."


"Terima kasih ya, mas."


Fredy hanya tersenyum saja, sejenak mereka bercengkrama panjang lebar. Dan beberapa menit kemudian, Fredy mengantarkan Wina pulang ke rumahnya.


"Mas Fredy, terima kasih ya? entah bagaimana jadinya jika kamu tidak menolongku. Mungkin aku sudah ma...


"Hust, sudah nggak usah di bahas lagi. Oh ya, dimana tempat kerja kakakmu? biar aku ke sana untuk mengatakan jika kamu sedang sakit," ucap Fredy.


"Memangnya nggak merepotkan, mas? tahu saja, jika aku ingin memberitahu Mba Eka. Tetapi aku nggak hapal nomor ponselnya, karena mba Eka sekarang memakai nomor ponsel baru," ucap Wina merasa nggak enak.


"Katakan saja, biar aku yang ke tempat kerja Mba kamu itu," ucap Fredy.


Hingga akhirnya Wina memberi tahu alamat rumah Rama kepada Fredy. Sontak saja, Fredy sempat tersentak kaget," loh ini kan rumah, Rama?"


"Memang benar, kok Mas Fredy kenal, Den Rama? Mba Eka kerja merawat Nyonya Berta," ucap Wina seraya memicingkan alisnya.

__ADS_1


Sejenak Fredy menceritakan bagaimana dia mengenal Rama. Setelah mendengar cerita dari Fredy, Wina hanya berhooh ria saja.


"Ya sudah, aku akan segera ke rumah Rama ya. Kamu jangan banyak bergerak dulu, karena kakimu belum sehat benar."


Saat itu juga, Fredy bergegas ke rumah Rama, sedangkan Wina stay on the home di jaga oleh beberapa anak buah Fredy.


Perjalanan tak membutuhkan waktu lama, hanya beberapa menit saja Fredy telah sampai di rumah, Rama. Sang security sudah hapal dengan Fredy hingga ia tak perlu lagi meminta izin untuk membuka pintu gerbang pada majikannya.


Kebetulan Mamah Berta dan Eka sedang ada di teras halaman. Hingga mereka langsung bisa melihat kedatangan, Fredy.


"Selamat pagi, Tante Berta? maaf menganggu waktunya sebentar."


"Duduklah, Fredy. Apa ada kabar tentang Ella?"


Fredy pun langsung duduk, dan Rama sempat mendengar pembicaraan singkat tersebut, hingga ia segera keluar," ada. apa dengan Ella, Fredy?"


"Alhamdulillah, Ella baik-baik saja kok. Aku datang kemari karena ada keperluan dengan, Mba Eka," ucap Fredy.


Sejenak Fredy menceritakan tentang kejadian yang menimpa Wina, pada mereka. Sontak saja, Eka terhenyak kaget," astaghfirullah aladzim, pantas saja tadi pagi aku telpon nggak aktif."


"Terima kasih ya, Mas Fredy. Sudah menyelamatkan nyawa adik saya. Jika tanpa pertolongan, Mas Frefy entsh bagaimana jadinya, Wina."


"Nggak usah sungkan, Mba. Sebaiknya mba sekarang juga ikut dengan saya. Kasihan juga Wina di rumah sendirian, Semententara jalannya saja masih pincang."


Saat itu juga Eka meminta izin pada Mamah Berta untuk segera pulang. Dan bahkan meminta izin untuk beberapa hari tidak bekerja terlebih dahulu.


Rama yang mendengar akan hal itu berinisiatif untuk mengantarkan Eka sembari menjenguk Wina.


"Eka, sebaiknya aku antar kamu ya? sekalian aku juga ingin jenguk Wina. Boleh kan?"

__ADS_1


Eka sama sekali tidak bisa melarangnya, ia pun mengizinkan Rama untuk mengantar dirinya. Karena kebetulan dirinya juga ingin berdekatan dengan Rama. Tetapi Fredy merasa keberatan," bukannya kamu mau ke kantor? biar Mba Eka aku yang antar, sebaiknya kamu ke kantor saja."


Rama memang sudah memakai seragam kerja, tetapi setelah mendengar berita buruk tentang Wina, ia ingin sekali menjenguknya.


"Kenapa kamu melarangku, sedangkan Eka saja tidak keberatan jika aku mengantarnya..Apa lagi Wina itu adik, Eka. Dan Eka bekerja di rumahku, secara tidak langsung. Keselamatan Wina juga menjadi tanggung jawabku, karena Eka bekerja di rumahku," ucap Rama tidak suka pada saat mendengar ucapan dari, Fredy.


"Kenapa Rama jadi ngegas sih ngomongnya? jika nggak ada, Tante Berta sudah aku balas perkataannya," batin Fredy kesal.


Dia pun berpamitan pada Mamah Berta untuk segera pulang. Dan ia rencana akan sejenak ke rumah Wina.


Mobil Rama melaju terlebih dahulu, barulah mobil Fredy melaju mengikuti laju mobil Rama. Setelah sampai di rumah, Rama lekas menghampiri Wina," astaghfirullah aladzim, bisa sampai seperti ini? sebaiknya kita ke dokter saja yuk."


" Terima kasih, Den. Tetapi nggak perlu karena ini sudah diperiksa. Lihatlah, sudah diperban oleh dokter pribadi keluarga Mas Fredy," ucap Wina.


"Lho kok bisa? berarti Fredy memanggil dokternya ke rumah ini?" Rama semakin ingin tahu saja.


"Nggak, pada saat aku menolong Wina terlebih dahulu aku membawanya pulang ke rumah," sela Fredy.


"Wina, aku pulang dulu ya. Karena harus segera ke kantor. Insya Allah nanti, aku pulang kerja akan mampir untuk melihat kondisimu. Semoga kamu lekas sembuh ya," pamit Fredy.


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya. Sekali lagi terima kasih untuk pertolongannya dan juga terima kasih pula untuk ponsel ini."


Rama sangat tidak suka melihat Wina begitu ramah dan welcome kepada Fredy. Tetapi kepada dirinya begitu dingin.


Ketika Fredy telah pergi, Rama pun memberanikan diri berkata kembali," kenapa kamu tidak berinisiatif meminta tolong pada kakakmu pada saat kamu alami kecelakaan? kenapa malah kamu minta tolongnya kepada Fredy?"


"Aku tak sengaja memencet nomor ponsel Mas Fredy, pada saat itu yang aku ingin telepon adalah Mbak Eka, tetapi berhubung kondisiku pada saat itu tidak memungkinkan akhirnya aku tetap saja menelpon Mas Fredy. Daripada aku tidak lekas mendapatkan pertolongan dan akhirnya aku jatuh ke dalam jurang sehingga aku meminta tolong saja padanya."


"Aku pada waktu itu sedang berjuang ingin bisa naik ke atas daratan, tetapi selalu saja terperosok jatuh ke bawah perlahan-lahan. Aku hanya menggenggam akar yang ada di sekelilingku dengan satu tangan dan satu tangan yang lain aku gunakan untuk menggenggam telpon. Bahkan pada saat aku belum selesai menelpon Mas Fredy, ponselnya terjatuh ke dalam jurang karena tanganku yang satu sudah tidak kuat berpegangan pada akar."

__ADS_1


Tanpa ada rasa sungkan, Wina memperlihatkan telapak tangan kirinya yang juga luka lecet karena bertumpu pada akar.


__ADS_2