
Saat itu persidangan pun di mulai. Awal mula jaksa membacakan duduk perkaranya, setelah itu korban diminta bersaksi.
Ella pun maju dan mengatakan semuanya tanpa ada yang ia tutupi. Bahkan ia juga bercerita tentang semua ancaman yang pernah Sigit katakan padanya.
Setelah Ella selesai bersaksi sebagai korban. Kini pria yang pernah di bayar oleh Sigit ikut bersaksi pula. Sigit sempat terperangah melihat pria itu.
"Astaga... jadi dia masih ada di kota ini? jadi anu telah di bohongi olehnya? berani benar dia bersaksi, padahal aku sudah bayar mahal dirinya!" batin Sigit kesal.
Beberapa menit kemudian...
Fredy maju menjadi saksi pula, Sigit semakin bertambah kesal.
"Apa lagi ini? Fredy malah menusukku dari belakang! aku pikir dia benar-benar sahabat yang baik! ternyata seperti ini!"
"Untuk apa puls dia mati-matian membela Ella. Apakah dia juga suka pada Ella ya? ternyata orang yang telah menolong Ella adalah Fredy?"
"Ternyata selama ini Fredy membantu Ella untuk memperdaya driku? kurang ajar! awas ya, kalian semua tidak bakan bisa hidup tenang, karena setelah ini aku akan membalas perbuatan kalian terhadapku!"
Terus saja Sigit menggerutu di dalam hatinya. Dia sama sekali tidak bisa memaafkan orang-orang yang telah bersaksi di persidangan tersebut.
Setelah menimbang, mendengar, dan memutuskan. Hakim pun telah memutuskan masa hukuman bagi Sigit yakni sepuluh tahun penjara.
Hakim mengetuk palunya tiga kali, lantas ia berlalu pergi dari ruangan persidangan tersebut. Sementara Sigit tak terima dengan keputusan yang telah di putuskan oleh hakim.
"Tunggu pak hakim! ini tidak adil buat saya, mas iya saya harus mendekam di dalam penjara selama sepuluh tahun!" teriak Sigit sempat mulutnya di bungkam oleh salah satu aparat.
__ADS_1
"Diam! atau kamu ingin Pak Hakim menambah masa hukumanmu, hah?" bentak kesal.
Sigit pun diam, dan ia meminta waktunya kepada aparat kepolisian yang sedang mencekal lengannya, untuk sejenak berbicara dengan Fredy dan Rangga.
"Fredy, aku nggak menyangka jika kamu menusukku dari belakang. Apa karena mentang-mentang kamu suka pada Ella hingga kamu berbuat seperti ini padaku?" oceh Sigit tak terima.
"Kamu salah, Ella adalah saudaraku satu ayah dan lain ibu. Allah telah mempertemukanku dengan Ella secara tak sengaja pada saat ia di culik oleh beberapa anak buahmu. Dan sejak saat itu Ella aku amankan bersama dengan Bu Ari."
Fredy tersenyum sinis pada Sigit.
"Kurang ajar kamu ya, Fredy. Main licik seperti ini!" bentak Sigit seraya melotot.
"Kamu nggak salah ngomong tuh? justru kamu yang kurang ajar dan bermain licik, beraninya sama perempuan saja! mentang-mentang Ella tak merespon cintamu, kamu berbuat jahat padanya!"
"Allah itu nggak tidur, ia baik hingga mengirim aku untuk menolobg Ella. Jika tidak, mungkin saat ini Ella benar-benar sudah tiada oleh kebiadaban dirimu!"
Rangga tersenyum sinis," itu memang pantas untukmu. Kasihan kamu bilang, kamu sendiri juga nggak ada rasa kasihsn hingga tega berbuat jahat pada Ella dan calon adikmu! sudahlah, nikmati saja buah dari bapa yang telah kamu tanam!"
Saat itu juga Rangga berlalu pergi, dia melangkah cepat ingin menemui Ella.
"Ella, tunggu!"
Ella yang sedang melangkah bersama dengan Ayah Bayu dan Fredy, sejenak berhenti. Ia menoleh ke arah Rangga, dan menunggu Rangga sejenak. Karena ia juga penasaran ingin tahu apa yang akan di katakan oleh Rangga.
"Ella, aku minta maaf ya. Nggak percaya dengan segala yang kamu katakan padaku. Ternyata dia benar ayah kandungmu?" ucap Rangga seraya matanya melihat ke arah Ayah Bayu.
__ADS_1
"Dia memang ayahku, aku sama sekali tidak pernah berbohong tapi malah di tuduh macam-macam.'
"Untuk apa dulu kamu mau menikah denganku jika tidak bisa percaya padaku? percuma juga jalani rumah tangga jika tidak bada saling percaya."
Ella pun melangkah kembali, tetapi Rangga menghadang langkahnya," Ella, aku mohon tinggallah bersamaku lagi. Kasihan juga kan anak kita jika harus terpisah dengan papahnya."
"Apa aku nggak salah dengar mas, kamu bilang apa barusan? kasihan dengan anakmu? bukannya kamu telah menolaknya, pada saat aku di tuduh selingkuh? bahkan kamu dengan keji menuduh aku selingkuh dengan ayah kandungku sendiri!"
"Maaf saja, aku sudah terlanjur sakit hati padamu, mas. Aku sudah nyaman tinggal tanpa dirimu. Dan nanti aku akan mengurus gugatan cerai jika anak ini sudah lahir."
Ella pun melanjutkan langkahnya pergi dari hadapan Rangga. Ia sama sekali tidak luluh dan tidak lantas senang mendengar kata-kata manis dari Rangga. Ia sudah terlanjur sakit hati padanya dan tak ingin berhubungan dengannya lagi.
Baginya percuma saja menjalin suatu hubungan rumah tangga jika tidak ada rasa saling percaya satu sama lain. Percuma saja jalani hubungan jika hanya satu pihak saja yang selalu bertahan, dan selalu percaya.
Rangga sangat sedih pada saat Ella tak menghiraukan apa yang dikatakannya. Ia benar-benar telah menyesali perbuatannya, tetapi di saat ia menyesal semua itu sudah tidak ada gunanya lagi karena Ella sudah tidak ingin bersamanya.
"Ternyata beginilah rasanya mendapat penolakan dari orang yang kita cinta, sakitnya luar biasa. Pasti saat itu apa yang Ella rasakan juga seperti apa yang saat ini aku rasakan.'
"Kini permintaan maafku dan penyesalanku tidak ada gunanya sama sekali, karena Ella benar-benar telah sakit hati kepadaku. Ia sama sekali sudah tidak ingin bersamaku lagi, aku harus bagaimana ya Allah?"
Mata Rangga tiba-tiba berkaca-kaca, saat ini ia benar-benar sedih dan kecewa kepada dirinya sendiri atas apa yang telah ia lakukan kepada Ella dan calon anaknya.
"Ella, tidak adakah sedikit saja rasa iba dirimu padaku dan kenapa kamu tidak mau memberiku satu kesempatan untuk memperbaiki segala kesalahanku kepadamu? aku sudah minta maaf padamu, tapi ternyata kamu sama sekali tak mau memaafkanku."
"Ella, apakah seumur hidupku ini akan di hantui dengan rasa bersalah? Ella, setidaknya aku ingin menjadi suami siaga, karena beberapa bulan ini aku tidak peduli dengan calon anak kita."
__ADS_1
Rangga melangkah lemas menyusuri pelataran kantor polisi tersebut. Ia celingukan mencari mobil yang di tumpangi oleh Ella tapi tak juga menemukannya.
"Bodoh sekali aku, seharusnya tadi aku mengikuti Ella. Hingga baju tahu kemana perginya mobil yang di tumpanginya. Supaya aku tahu dimana saat ini Ella dan ibunya tinggal," batin Rangga merutuki kebodohan dirinya sendiri.