
Rama sama sekali tidak menolak keinginan mamahnya. Ia pun sangat mendukung niat baik mamahnya. Ia pun akan segera mengatur semuanya. Untuk acara baby shower yang akan di adakan di rumah mewah miliknya. Karena kebetulan samping rumah ataupun belakang rumah sangat mendukung untuk di dirikan acara baby shower.
Tapi hal ini di rahasiakan dari Ella, karena untuk hadiah kejutan dari Berta.
"Baiklah, mamahku sayang. Aku akan segera mengurus semuanya. Sekarang mamah tidur ya."
Setelah mendengar kesediaan Rama untuk mengurus acara baby shower, Berta baru bersedia tidur. Ia kini tengah tenang, sudah mengatakan niat hatinya ingin memberikan surprize pada, Ella.
Esok harinya, Rama mulai mengatur semuanya di bantu oleh beberapa anak buahnya. Dari asesoris untuk acara tersebut hingga pemilihan warna. Karena Rama belum tahu apa jenis kelamin anak yang di kandung Ella, ia pun memilih warna biru.
Lusanya, Rama mendatangi rumah Ayah Bayu.
"Apa ada masalah dengan kinerja anak saya, Mas Rama? atau terjadi hal yang tak di inginkan!" tanya Ayah Bayu.
"Nggak ada kok, pak. Saya datang kesini ingin mengajak bapak, ibu, dan Mas Fredy untuk datang ke rumah di hari Minggu. Karena Mamah saya mengadakan acara baby shower sederhana untuk Ella. Mamah juga mengundang ustadz untuk turut serta memberikan doa untuk Ella dan calon anaknya."
"Tapi saya minta, bapak-ibu-Mas Fredy jangan memberi tahu tentang hal ini pada Ella. Karena ini untuk surprize buat Ella dari mamah saya."
Ayah Bayu, Bu Ari, juga Fredy saling berpandangan satu sama lain. Mereka benar-benar tidak menyangka jika pasien yang di rawat Ella begitu perhatian dengan Ella. Padahal waktu itu Bu Ari sempat mendengar jika pasien ini sungguh galak dan pemarah.
Pada saat Dokter Reno datang menawarkan pekerjaan ke rumah. Dan pada saat itu Bu Ari sempat mendengar semuanya.
"Subhanallah, terima kasih ya Nak Rama. Atas perhatianmu dan juga ibumu. Kami benar-benar tidak menyangka jika kalian sangat mengasihi, Ella."
'Ya Mas Rama, saya selaku ayahnya juga mengucapkan terima kasih. Telah begitu baik pada Ella. Kami titip Ella ya mas, karena kami tidak bisa memantau Ella setiap hari. Paling seminggu sekali saja kami datang untuk menjenguk Ella."
Orang tua Ella begitu bersyukur karena Ella di kelilingi oleh orang-orang yang baik. Hingga mereka tenang tak begitu memikirkan kondisi Ella.
Sejenak mereka bercengkrama di ruang tamu untuk kurun waktu yang lumayan lama. Setelah satu jam berlalu, akhirnya Rama berpamitan pulang.
Sepulangnya Rama, Bu Ari sejenak mengajak bercengkrama Ayah Bayu," Mas, aku sedang heran."
__ADS_1
"Memangnya heran kenapa, Bu?" tanya Ayah Bayu seraya memicingkan alisnya.
"Heran saja, bagaimana bisa pasien yang kata Pak Dokter galak dan pemarah kok akan mengadakan acara baby shower untuk Ella? makanya waktu itu aku melarang Ella bekerja di sana," ucap Bu Ari menjelaskan.
Belum juga Ayah Bayu berkata, Fredy turut berkata" Iya benar Bu, pada saat aku cek sendiri ke lokasi dimana Ella bekerja. Aku dapat informasi dari tetangga samping kanan dan kiri bahwa pasien yang di rawat Ella itu terkenal pemarah."
"Para tetangga kerap kali mendengarnya marah-marah. Tapi katanya sejak Ella yang merawatnya tak terdengar lagi suara bentakan atau caci maki. Tapi malah yang terdengar suara gelak tawa."
Ayah Bayu pun berkata," mungkin saja Ella mampu mengambil hati pasiennya dan merubah tabiat buruknya hingga ia tak marah-marah lagi. Malah mengasihi Ella."
"Alhamdulillah jika begitu, aku tenang dan turut senang mendengarnya," ucap Bu Ari.
"Oh iya, Bu. Apa saja yang di sukai oleh Ella atau yang ingin Ella miliki tapi belum kesampaian? biar nanti aku carikan untuk ibu sebagai hadiah untuk Ella di acara baby shower nya?" ucap Ayah Bayu.
Sejenak Bu Ari terdiam, seolah sedang berpikir," sepertinya tidak ada, mas. Karena Ella tidak pernah neko-neko, dia tak pernah ingin ini dan itu. Pada saat masih bersama dengan Rangga pun, dia tak pernah meminta macam-macam."
"Hem...begitu ya, Bu? kalau begitu, ibu ingin memberikan apa untuk Ella, biar ayah yang membelinya," ucap Ayah Bayu.
"Apa sih ya, mas? terserah Mas Bayu saja dech, apa yang ingin di berikan untuk Ella. Karena aku sendiri juga bingung," ucap Bu Ari.
Hingga pada akhirnya mereka setuju akan memberikan perabot baby. Segala macam yang di butuhkan untuk Baby yang ada di perut Ella kelak jika sudah lahir.
************
Lain halnya di rumah Rangga, dia saat ini telah memandangi foto pengantin dirinya bersama dengan Ella.
"Aku senang sekali bisa bertemu dengan Ella kembali. Apa lagi saat itu dia sendiri yang telah merawatku saat aku alami kecelakaan. Ternyata rasa bahagiaku hanya sekejap mata saja."
"Aku pikir Ella telah memaafkan aku, hingga ia sudi merawatku. Ternyata aku salah, ia masih saja berkeras hati ingin bercerai dariku."
"Untuk apa kamu memberiku nasehat untuk hidup lebih baik. Dan menjaga kesehatanku, jika ternyata aku tidak bisa kembali bersamamu, Ella."
__ADS_1
"Seharusnya waktu itu, kamu tak usah nongol atau merawatku. Yang hanya membuatku berharap padamu."
"Setelah kamu selesai merawatku, kini menghilang lagi bagai hembusan angin yang lewat begitu saja."
"Ella, saat ini usia kandunganmu telah memasuki umur lima bulan. Dan beberapa bulan lagi kamu akan melahirkan."
"Beberapa bulan lagi pula, kamu pasti segera mengurus perceraian. Lantas bagaimana nasib anak kita kelak?"
"Padahal aku baru sekali berinteraksi dengan si jabang bayi. Itu pun aku sangat senang sekali. Tetapi kini aku merasakan sedih kembali."
"Ya Allah, malang nian nasibku. Punya anak semata wayang kini di penjara untuk jangka waktu yang sangat lama."
"Aku kesal padanya, gara-gara Sigit! aku harus berpisah dengan anak dan istriku!"
Setelah cukup lama menggerutu sendiri di dalam hatinya. Rangga pun berinisiatif untuk datang ke lapas. Saat itu juga dia ke lapas dengan membawa sopir pribadi.
Sesampainya di lapas, Sigit begitu antusias dan senang sekali pada saat mengetahui dirinya di besuk oleh Rangga.
"Pah, kenapa baru besuk aku? sejak aku di tetapkan untuk masa hukuman waktu itu, Papah baru sekali ini besuk aku," protes Sigit.
"Papah kesini bukan ingin besuk kamu! tapi Papah sedang kesal padamu! gara-gara ulahmu, papah harus berpisah dengan istri dan calon anak, Papah! harus mengalami siksa batin seperti ini!"
"Seharusnya kamu bunuh Papah langsung, hingga tak merasakan penderitaan seperti ini! kamu benar-benar anak yang durhaka dan sangat jahat sekali!"
Sigit merasa kecewa karena Rangga datang bukan untuk menanyakan tentang kabarnya. Malah datang dengan penuh kemarahan," pah, kenapa malah marah-marah seperti ini?"
Rangga naik pitam dan sangat emosi, dia kalap. Dan tanpa sadar mencengkram baju Sigit dan lekas memukulnya begitu saja.
Penjaga lapas yang melihat itu langsung bertindak dengan melerainya. Memisahkan Rangga jauh dari Sigit.
"Pak, biarkan aku hajar anak durhaka itu! gara-gara dia, aku kehilangan
__ADS_1
istri dan anakku!"
Rangga mencoba melepaskan diri dari cekalan dua aparat kepolisian, tetapi tak berhasil juga. Sementara Sigit lekas di bawa ke sel kembali.