
Namun Sigit lebih cerdik dan licik, hingga ia berhasil membujuk Rangga pergi dari hadapan wanita yang sedang hamil tua tersebut.
"Aah... pah. Kepalaku tiba-tiba sakit sekali. Pah, tolong bawa aku ke mobilku."
Ucapnya hingga Rangga tak bisa berkutik lagi, ia pun segera berlalu pergi dari hadapan si wanita hamil itu.
Rangga memapah Sigit ke arah parkiran mobil, dan setelah itu ia terkekeh," kena dech."
"Astagaa.. Sigit! jadi kamu cuma pura-pura sakit kepala, untuk apa kamu ngeprank, papah?" omelnya kesal.
"Maafkan aku ya, pah. Lagi pula untuk apa sih papah duduk dengan wanita hamil itu? Hem... jangan-jangan itu pacar baru Papah yang telah di hamili Papah dan sedang meminta pertanggung jawaban dari Papah ya? hayoo ngaku," ucap Sigit terkekeh menggoda Rangga.
"Astaghfirullah aladzim... kamu kok berprasangka buruk pada papah, sih. Seenaknya saja mengatakan hal seperti itu, sama saja itu jatuhnya fitnah loh!"
"Dia itu bukan siapa-siapanya papah, justru pria yang bersama dengan wanita hamil itu yang sedang papah selidiki. Masa iya kamu lupa dengan wajah pria itu?"
"Bukannya waktu itu justru kamu yang memberitahu papah jika Ella sedang bersama dengan pria di dalam kamar? Masa iya sih kamu lupa dengan wajah pria yang pernah bersama Ella?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rangga, membuat Sigit terlihat gugup. Tetapi ia berusaha menutupi rasa gugupnya itu dengan ia mengatakan suatu hal yang sekiranya membuat Rangga percaya kepadanya.
"Astaga... aku juga baru ingat. Maklum saja selama ini aku disibukkan oleh urusan kantor hingga melupakan sesuatu hal yang pernah terjadi beberapa hari yang lalu."
"Maafkan aku ya, pah. Malah tadi aku sempat berpikir jika pria itu adalah sanak saudara wanita yang hamil tadi dan sedang meminta pertanggung jawaban pada, papah."
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang kita ke tempat yang tadi lagi. Siapa tahu pria itu dan istrinya masih ada, pah. Nanti aku juga akan tanya padanya, apakah Ella bersamanya."
Saat itu juga Rangga bersama dengan Sigit ke kafe dimana barusan Rangga duduk bersama wanita hamil.
"Yah, kita telat Sigit. Ini semua gara-gara kamu sih! pria itu sudah pergi bersama istrinya. Padahal Papah sedang menyelidiki tentang kejadian waktu itu."
Rangga hanya bisa menghela napas panjang pada saat dirinya sampai di kafe tapi sudah tidak ada pria dan wanita hamil itu.
"Pah, sekali lagi aku minta maaf ya. Aku benar-benar nggak ingat tentang pria itu hingga begitu saja mengajak papah pergi."
Sigit pura-pura menyesal dan ia memasang wajah sedihnya dan menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Sudahlah, semua sudah terjadi mau bagaimana lagi. Padahal niat Papah ingin mengetahui siapa sebenarnya yang telah memerintah pria itu," ucap Rangga dengan rasa penuh kekecewaan.
"Maksudnya bagaimana, Pah. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang barusan Papah katakan?" Sigit pura-pura tidak mengetahui arah pembicaraan yang saat ini sedang dikatakan oleh Rangga.
"Pria itu terpaksa melakukan perintah seseorang tersebut demi uang karena dia mengatakan bahwa dirinya telah dirumahkan dari tempat kerjanya. Sedangkan saat ini istrinya sedang hamil tua membutuhkan banyak uang."
"Pada saat pria tadi ingin mengatakan sejujurnya tentang orang yang telah memerintah dirinya, malah tiba-tiba kamu datang hingga ia mengurungkan niatnya untuk berkata."
Rangga begitu kecewa karena ia hampir saja mengetahui siapa orang yang telah memerintah pria tersebut malah usahanya gagal hingga ia harus menjadi penasaran sampai saat ini.
Melihat sikap diamnya Rangga, Sigit pun mengatakan suatu hal," papah percaya saja dengan apa yang dikatakan pria tadi? bisa saja itu hanya sebuah alasan untuknya, guna menutupi kesalahannya di hadapan istrinya yang saat ini sedang hamil tua."
__ADS_1
"Sudahlah, pah. Tak usah memikirkan pria tadi, sekarang sebaiknya papah memikirkan kesehatan dan masa depan Papah saja. Aku tidak melarang kok untuk papah memiliki istri lagi supaya papah bisa move on dari Ella," ucap Sigit pura-pura memberikan penghiburan pada Rangga.
"Entahlah, Sigit. Untuk saat ini papah belum memikirkan untuk menikah lagi, sebelum papah berhasil menemukan keberadaan Ella dan Bu Ari."
"Apalagi papah juga telah berjanji untuk tidak mengucapkan kata talak, sebelum Ella melakukan tes DNA jika bayi itu lahir."
Sigit merasa kesal mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Papahnya. Di dalam hatinya, ia terus mengumpat menutupi sikap Rangga.
"Sudah tua saja, sifatnya masih keras kepala seperti ini. Sampai ke ujung dunia pun papah tidak akan bisa menemukan keberadaan Ella, karena Ella sudah mati dan mungkin saja saat ini tinggal tulang-belulangnya saja di dasar lautan yang luas!" batin Sigit kesal.
"Apa hebatnya si Ella sih, sampai sebegitu besarnya rasa cinta papah kepadanya. Walaupun saat ini Ella sudah mati masih saja papah mengingat dan bahkan mengharapkan bertemu dengan Ella kembali. Mau sampai kapan coba papah bersikap seperti ini?" batin Sigit terus saja tak terima dengan sikap Rangga.
Namun Sigit mampu menyimpan rasa kekesalannya tersebut, hingga ia tidak memperlihatkan di depan Rangga.
"Pah, sebaiknya kita pulang saja yuk? nggak usah memikirkan pria itu lagi. Aku janji akan bantu papah untuk mencarinya. Sekarang Papah fokus saja dengan kesehatan Papah. Karena aku tak ingin terjadi hal buruk pada, Papah."
Pada akhirnya Rangga menuruti kemauan Sigit. Ia pun melangkah mengikuti langkah kaki Sigit menuju ke parkiran mobil dan saat itu juga keduanya pulang ke rumah mewah mereka.
Namun setelah sampai di rumah tak lantas Rangga melupakan peristiwa tadi. Justru ia semakin bertambah penasaran dengan kata-kata pria yang ditemuinya di pusat perbelanjaan tadi.
"Aku jadi semakin penasaran dengan apa yang pria tadi katakan. Benarkah jika semua itu hanya sebuah rekayasa belaka? lantas siapa yang tega memfitnah, Ella?"
"Jika memang ini hanya sebuah rekayasa, aku berarti telah berdosa besar kepada Ella dan anak yang ada di dalam kandungannya. ykarena aku tidak mempercayai kata-katanya, aku justru mempercayai apa yang dikatakan oleh pria itu dan Sigit."
__ADS_1
"Ya Allah, aku jadi semakin resah dan gelisah seperti ini. Gundah gulana tak karuan seperti ini. Tolong tunjukkan dimana sebenarnya saat ini Ella berada."
"Dan tunjukkan pula semua kebenarannya, supaya aku tidak gelisah memikirkan hal ini. Apakah ucapan pria itu benar? ataukah hanya alasan saja seperti yang Sigit katakan tadi?"