Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Pelupa


__ADS_3

Ella sengaja tidak berkata jujur, karena dia tak ingin membuat sedih Rangga jika Rangga tahu tentang apa yang di katakan oleh Fredy kepadanya.


"Sayang, jika makanan itu di buang. Beli saja lagi, atau mau aku pesankan sekarang saja? memangnya apa makanan yang kamu buang itu?" tanya Rangga.


"Makanan kesukaanku, mas."


"Aku lupa, apa sih makanan kesukaanmu? maaf ya, sayang?"


Di dalam hati Ella ada rasa sedih," astaghfirullah aladzim, sebenarnya ada apa ya dengan Mas Rangga. Biasanya dia itu nggak pernah melupakan hal sekecil apapun. Ini nggak ingat makanan kesukaanku," batinnya sedih.


"Sayang, jangan marah ya jika aku nggak ingat makanan kesukaanmu," ucap Rangga memelas.


"Nggak apa-apa, mas. Nanti saja dech pesannya. Oh ya, mas. Aku ingin bertanya padamu. Adnan lahir tanggal berapa, jam berapa, dan bulan apa? serta di rumah sakit mana?" tanya Ella sengaja ingin mengetes daya ingat Rangga.


"Hem... sebentar aku ingat-ingat dulu."


Rangga sejenak diam saja, seolah sedang mengingat semua itu. Tetapi sama sekali ia tidak ingat," maaf sayang, aku lupa."


Rangga menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Nggak usah minta maaf seperti itu, mas. Memang sudah wajar kalau seorang pria itu jarang sekali ada yang mengingat hari jadi anaknya. Banyak kok yang seperti itu bukan hanya kamu saja."


"Yuk, sebaiknya kita makan saja nggak usah memikirkan hal itu ya."


Ella menyunggingkan senyuman, ia pun bergelayut manja di lengan Rangga, mengajaknya melangkah keluar dari kamar menuju ke ruang makan.


Di dalam hati, Ella penuh dengan rasa kecemasan, kekhawatiran, mengingat kondisi suaminya yang semakin hari semakin banyak saja kejadian-kejadian yang penting yang tidak diingatnya sama sekali.


"Ya Allah, semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi di dalam diri suamiku. Kami baru saja merasa bahagia dengan kebersamaan ini, jangan sampai kebersamaan yang kami rasakan hanya sekejap saja," Ella berdoa di dalam hatinya.


Dengan ketelatenannya Ella menyiapkan makanannya ke dalam piring yang ada di hadapan Rangga," makanlah yang banyak, Mas. Biar tubuh sehat selalu ya."

__ADS_1


"Cukup-cukup, jangan terlalu banyak sayang. Nanti yang ada perutku semakin bertambah buncit dan nanti dikira aku sedang hamil," ucap Rangga terkekeh pada saat Ella menyendokkan makanan terlalu banyak.


"Aku sangat senang jika melihat senyum di wajah suamiku. Tetapi entah kenapa di dalam hati ini masih saja terbesit rasa cemas yang mendalam," batin Ella.


"Ya Allah, kenapa aku sedari tadi berpikiran negatif terus tentang kesehatan Mas Rangga ya? aku ingin bisa berpikir positif tetapi kok susah sekali? sebaiknya aku akan konsultasikan tentang kecemasanku ini kepada dokter Reno," batinnya.


*****


Esok harinya, Rangga memutuskan untuk berangkat bekerja," sayang, aku akan berangkat ke kantor ya?"


"Mas, apa nggak sebaiknya kamu mengerjakan urusan kantor di rumah saja?" entah kenapa hati Ella pagi ini bertambah cemas.


"Nggak bisa, sayang. Karena kebetulan pagi hari ini ada meeting dengan salah satu klien baruku. Kamu nggak usah mengkhawatirkanku, percaya saja aku akan baik-baik saja. Lagi pula aku kan diantar sama Pak sopir, jadi tidak akan terjadi hal buruk padaku," ucap Rangga berusaha meyakinkan Ella.


"Baiklah kalau begitu, kamu yang hati-hati ya Mas. Aku tidak bisa mengantarkanmu ke depan karena kebetulan anak kita buang air besar, sehingga aku harus segera menggantinya."


Ella mencium punggung tangan suaminya.


Rangga melangkah pasti menuju ke pelataran rumah. Tetapi sang sopir terlihat sangat panik, cemas, dan gugup. Hingga Rangga pun menanyakan tentang hal itu," pak, kenapa wajahmu terlihat pucat pasi? ada apa sebenarnya?"


"Baiklah, pak. Silahkan pulang saja enggak apa-apa, biar aku berangkat sendiri dan ini ada sedikit rezeki buat bapak."


Rangga meraih dompetnya dan ia mengambil sejumlah uang tunai yang ada di dalam dompetnya dan memberikannya pada sopir pribadinya tersebut.


"Maaf ya, Pak. Untuk sementara waktu saya hanya bisa memberikan sedikit, karena kebetulan saya sedang lupa di mana saya meletakkan ponsel saya," ucap Rangga.


Karena di ponselnya terdapat M-banking, yang setiap saat gampang untuk mengirimkan uang kepada siapapun. Karena dia sedang gugup, hingga tak sempat untuk mencari ponselnya terlebih dahulu.


"Apa nggak apa-apa jika Tuan mengemudi mobil sendiri?" sang sopir pribadi tersebut merasa ragu.


"Bapak, nggak usah mengkhawatirkan saya. Saya akan baik-baik saja kok. Sekarang bapak lekas pulang saja, pasti istri sedang menunggu, kasihan kan?"

__ADS_1


Hingga pada akhirnya sang sopir pribadi tersebut, segera pergi dari rumah Rangga. Sementara Rangga sama sekali tak memikirkan untuk memerintah sopir pribadinya yang lain. Padahal di rumah itu ada dua sopir pribadi yang di pekerjakan oleh, Rangga.


Yang satu untuk mengurus dirinya, dan sopir pribadi satunya lagi untuk stand by di rumah. Supaya Ella tidak bingung jika butuh apa-apa.


Rangga melajukan mobilnya keluar dari rumahnya. Tetapi ia melajukan mobil entah ke arah mana. Karena bukan arah yang seharusnya menuju ke kantornya.


Satu jam perjalanan, Rangga merasa heran. Dan ia pun menghentikan laju mobilnya sejenak di pinggir jalan," kok dari tadi aku nggak bisa menemukan kantorku ya?"


Rangga celingukan di dalam mobil, ia mencari ponselnya," astaghfirullah aladzim, ponselku saja belum sempat aku cari."


Berkali-kali Rangga menepuk jidatnya sendiri seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Dia bingung harus bagaimana lagi.


Dia enggan untuk bertanya kepada para pengguna jalan yang lain, karena merasa gengsi dan malu. Masa iya menanyakan alamat kantor sendiri.


"Sebaiknya aku lanjutkan saja perjalananku, mungkin saja sebentar lagi akan sampai di kantorku."


Rangga pun melajukan kembali mobilnya, dengan tak tentu arah. Hingga semakin jauh melaju, bahkan sudah sampai perbatasan kota tersebut.


"Ya Allah, apa ya nama kantorku dan alamat lengkapnya dimana? astaghfirullah aladzim, kenapa aku kok menjadi seperti ini?"


Rangga kebingungan sendiri, ia pun menepikan mobilnya. Dan merasa kepalanya pusing, hingga ia memutuskan untuk sejenak tidur di dalam mobilnya.


Sementara di rumah, telpon rumah terus saja berdering.


Kring kring kring kring


Ella langsung berlari untuk mengangkatnya.


📱" Hallo, dengan siapa ini?"


📱" Hallo, Nyonya Ella. Saya ingin menanyakan Tuan Rangga. Karena dari tadi saya mencoba menelpon lewat ponselnya tetapi tidak aktif. Sudah berjam-jam klien baru kita menunggu kedatangan, Tuan Rangga."

__ADS_1


📱" Loh, suami saya sudah berangkat dari tadi pagi kok. Masa iya belum sampai di kantor? jika seperti itu, batalkan saja dulu pertemuannya dengan klien tersebut."


📱" Baiklah, Nyonya."


__ADS_2