Dia Suamiku Bukan Ayahku

Dia Suamiku Bukan Ayahku
Berharap


__ADS_3

Selepas acara baby shower yang sangat sederhana itu. Semua kembali beraktivitas. Dan semua kado di bawa pulang oleh Bu Ari sesuai dengan permintaan Ella.


"Ella, Ibu pamit pulang. Kamu baik-baik di sini terutama jaga kesehatan jangan lupa makan yang teratur, tidur yang teratur, jangan terlalu banyak pikiran."


"Bu Berta-Mas Rama, kami pulang ya terima kasih untuk segalanya dan kami titip Ella karena kami tidak bisa memantaunya secara langsung setiap harinya."


Setelah berpamitan, Bu Ari pulang bersama dengan Ayah Bayu dan Fredy. Ella kini bertambah kebahagiaan. Karena telah menemukan keluarga baru.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Aku telah di beri keluarga baru. Dari aku ada di dalam perut ibu hingga aku lahir dan tumbuh sampai saat ini aku hanya hidup berdua saja dengan Ibuku."


"Pada saat aku menikah dengan Mas Rangga. Aku pikir itulah kebahagiaan seutuhnya diriku. Dan pada saat datangnya Sigit di rumah, aku pikir dia bisa bersahabat."


"Ternyata apa yang aku harapkan tak sesuai dengan apa yang aku dapatkan. Tetapi sudahlah, aku tak ingin terus memikirkan hal yang membuatku teringat akan sakit hatiku."


"Aku nggak mau mengasihani diri sendiri, itu tak penting. Karena ada yang lebih penting yakni calon anakku ini."


"Nak, mamah mampu menahan semua rasa sakit dan kecewa itu semua karena adanya dirimu."


"Kamulah yang telah membuat Mamah menjadi wanita yang tegar, kuat, mandiri serta tabah dalam menghadapi segala permasalahan di dunia ini."


"Semoga kamu selalu sehat ya, nak. Karena di dunia ini hanya kamu dan nenek yang membuat mamah sanggup menghadapi kerasnya kehidupan."


"Mamah takkan lelah berjuang demi masa depanmu yang cerah. Sehat selalu hingga sampai kamu lahir pun juga sehat ya, nak."


Terus saja Ella mengusap perutnya sembari berkata di dalam hatinya. Ia sedang mengajak anaknya berinteraksi. Hal ini sempat di lihat oleh Rama dan Bu Berta. Karena kebetulan saat ini Ella sedang duduk bersantai di teras halaman.


Ia berpikir, Bu Berta sedang beristirahat di dalam kamarnya. Hingga ia sejenak juga bersantai.


"Rama, lihatlah Ella. Mamah merasa kasihan padanya dengan nasib rumah tangganya. Tetapi mamah heran dengannya, karena mamah sama sekali tak pernah melihat Ella menangis atau murung."


"Rama, mamah kadang masih saja merasa bersalah pada Ella. Jika ingat perilaku mamah padanya waktu itu."


"Tapi Ella tak pernah membalas kelakuan mamah dengan hal buruk juga. Malah ia semakin bertambah mengasihi, mamah."


Rama tersenyum pada Berta," sudahlah, mah. Yang lalu biarlah berlalu, kini yang terpenting adalah masa depan."

__ADS_1


"Iya, Rama. Mamah kok jadi ingin lekas kamu menikah supaya kamu lekas punya anak. Melihat Ella hamil, kadang mamah membayangkan itu adalah cucu ibu," ucap Berta terkekeh.


"Sabar, mah. Aku belum menemukan wanita yang tepat untuk diriku, mah," ucap Rama tersenyum.


"Wanita yang seperti Ella, kayanya kok nggak ada ya? astaga..kok aku jadi berharap pada, Ella? padahal belum tentu Ella akan berpisah dengan suaminya. Bisa saja setelah Ella melahirkan, ia berubah pikiran untuk bercerai dari suaminya demi anaknya. Ya Allah, kenapa aku kok berharap buruk ya? supaya Ella kelak benar-benar bercerai dari suaminya. Ku tunggu jandamu, Ella. Hestah....."


Rama terus saja memikirkan Ella. Sampai ia senyam senyum sendiri seraya menatap ke arah Ella tanpa ia sadari, hingga Bu Berta memicingkan alisnya melihat hal itu.


"Rama, kamu kenapa nak? apakah kamu juga sedang berhayal punya istri dan anak? seperti yang mamah inginkan?"


Satu teguran dari Bu Berta mengagetkan lamunan Rama. Ia pun merasa malu, pipinya merona merah. Rama menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya celingukan kesana kemari.


"Hehehe...mamah? aku hanya...anu...mah..."


"Hem, anu apa hayo?" goda Bu Berta.


"Mah, sudahlah jangan menggoda diriku terus. Aku kan jadi malu." Rama terkikik seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Bu Berta menjadi semakin ingin menggoda Rama. Ia pun tiba-tiba menggelitik pinggang Rama, hingga Rama kegelian dan tertawa ngakak," hahahaha... sudah mah, sudahlah mamah...geli tahu."


"Entah kenapa, hatiku ikut merasakan bahagia. Jika melihat ibu dan anak itu ceria." batin Ella.


Pada saat Ella menatap seraya tersenyum ke arah Rama dan Bu Berta. Mereka juga tak sengaja menatap ke arah Ella. Hingga mereka bertiga saling berpandangan satu sama lain.


"Mah, lihatlah.. Gara-gara mamah yang nakal sama aku, Ella menertawakanku," ucapnya seraya terus tersenyum ke arah Ella.


"Kitikin terus, Bu. Aku dukung kok, dari sini. Seru juga Bu, melihat Mas Rama tertawa ngakak," ucap Ella tanpa sadar seraya terkekeh.


"Ya Allah, sifat Ella seperti ini seolah dia itu sudah menjadi bagian dari keluargaku ini. Astaghfirullah aladzim, maafkan aku ya Allah. Kenapa aku jadi seperti ini ya? berharap Ella menjadi menantuku? apakah ini berlebihan ya Allah," batin Bu Berta.


Ternyata ibu dan anak ini sepemikiran. Mereka berharap hal yang sama yakni Ella menjadi salah satu bagian di dalam keluarga mereka.


*******


Esok menjelang...

__ADS_1


Tetapi Ella merasakan dirinya tak karuan. Suhu tubuhnya panas dan kepalanya terasa pusing. Tetapi ia tak manja, ia tetap saja jalani aktifitas paginya.


Hingga pada saat Ella sedang berjalan untuk menuju ke kamar Bu Berta, tiba-tiba matanya berkunang-kunang dan tiba-tiba ia pun pingsan begitu saja.


Untung saja ada Rama yang kebetulan melintas. Hingga Ella tak sampai terjatuh ke lantai, tetapi Rama lekas menopang tubuh Ella.


"Astaghfirullah aladzim, mamah!"


Rama memanggil Bu Berta, hingga Bu Berta segera keluar dari dalam kamarnya.


Rama mengangkat tubuh Ella dan membaringkannya di sofa kursi.


"Astaghfirullah aladzim.. kenapa dengan Ella, Rama?" tanya Bu Berta heran pada saat melihat Ella tak sadarkan diri.


"Entahlah, mah. Tadi tak sengsja aku melihat Ella tiba-tiba pingsan di depan pintu kamar, mamah. Astaga..mamah, suhu tubuh Ella panas sekali."


Rama menyentuh kening Ella dan terasa sangat panas. Ia pun segera menelpon dokter Reno untuk lekas datang ke rumah guna memeriksa kondisi Ella.


Hanya beberapa menit saja, Dokter Reno telah datang. Ia pun lekas memeriksa Ella yang masih saja belum sadarkan diri.


"Bagaimana kondisi Ella, dok?" tanya Rama cemas.


"Cye..cye...yang sedang cemas. Tante, lihatlah wajah Rama pada saat menanyakan kondisi Ella."


Dokter Reno malah menggoda Rama, hingga Bu Berta sempat melihat wajah Rama. Hal ini membuat Rama malu.


"Mah, apa-apaan sih? apa aku salah jika bertanya tentang kondisi Ella?" Rama memalingkan wajahnya ke arah lain, tetapi dengan sigap Bu Berta menangkap wajah Rama sehat wajahnya kini menghadap ke arah Bu Berta.


Bu Berta menggoda Rama seraya menaik turunkan alisnya.


"Astaga... mamah masih saja bisa bercanda. Lihatlah, Ella hingga kini belum sadarkan diri," protes Rama.


"Rama, kondisi Ella baik-baik saja. Jadi kamu nggak perlu khawatir. Dia hanya kelelahan saja, sebentar lagi juga siuman. Mungkin saja Ella telah melakukan aktifitas yang tak semestinya di lakukan," ucap dokter Reno.


"Aktifitas yang tak semestinya, maksudnya apa ya, dok?" tanya Bu Berta.

__ADS_1


"Begadang, mungkin semalam dia kurang tidur."


__ADS_2