
Setelah sampai di rumah, Rangga langsung saja masuk ke dalam rumah tanpa menyapa ke-dua mertuanya yang ada di teras halaman. Hal ini menjadi tanda tanya bagi Ayah Bayu dan juga Bu Ari.
"Ada apa dengan suamimu, Ella? kok sepertinya dia marah?" tegur Ayah Bayu pada saat Ella akan masuk menyusul suaminya.
"Iya, Ayah. Mas Rangga marah padaku."
Ella sejenak duduk bersama dengan orang tuanya di teras halaman. Ia pun menceritakan yang terjadi di kantor. Di mana Rangga tidak terima, jika urusan kantor untuk sementara waktu di handle oleh asisten pribadinya.
"Astaghfirullah aladzim, pasti Rangga tidak menyadari jika dirinya itu sedang sakit pikun. Kamu yang sabar ya, Ella," ucap Ayah Bayu iba melihat Ella
"Pasti, ayah. Ya sudah aku masuk dulu ya, ayah-ibu. Nanti jika Adnan butuh ASI sudah aku siapkan di freezer yang ada di dapur ya, Bu. Maaf, Bu. Aku sudah merepotkan, ibu."
Ella lekas masuk untuk menyusul Rangga yang saat ini sudah ada di dalam kamarnya. Ia sedang melamun di balkon kamarnya.
Ella pun menghampiri," mas, aku minta maaf jika keputusanku menyakiti hatimu. Jika kamu seperti ini terus, ya sudah aku telpon, Pak Jamal saja ya? kita cansel saja meminta tolong dia untuk menghandle urusan kantor. Aku sudah menyerah saja dech, silahkan kamu jalani hidupmu sesuka hatimu."
"Tapi nggak usah minta tolong padaku, jika suatu saat nanti terulang lagi seperti waktu itu dimana kamu lupa segalanya. Dan penyakit lupamu itu berubah menjadi lebih parah."
"Aku hanya ingin kamu lekas sehat, bukan apa-apa. Tetapi aku di katakan galak, sok ngatur dan lain sebagainya."
"Sudahlah, jika kamu merasa aku ini hanya membuatmu marah. Alangkah baiknya, aku tinggal bersama orang tuaku saja seperti waktu itu. Supaya kamu bisa bersikap semaunya sendiri dan tidak ada yang mengaturmu lagi."
"Maafkan aku ya, mas. Atas segala kesalahanku ini. Sekarang juga aku akan pergi dari rumah ini bersama Baby Adnan. Silahkan kamu berbuat sesuka hatimu, aku tidak akan melarang lagi kok."
"Ingat satu hal, nggak usah ada lagi suatu kata penyesalan jika kelak terjadi hal buruk pada dirimu."
Saat itu juga, Ella meraih koper yang tergeletak di sudut almari dan ia lekas menata semua bajunya di dalam koper. Ia juga pura-pura menelpon, Pak Jamal dan mengatakan jika mintanya untuk tidak menghandle urusan kantor.
__ADS_1
"Mas, besok kamu sudah bisa bekerja lagi. Aku baru saja menelpon, Pak Jamal. Dan aku pamit, sekarang juga aku akan keluar dari rumah ini. Dan kemungkinan aku tidak akan kembali lagi kemari."
Setelah berpamitan pada Rangga yang sedang berdiri terpaku di balkon kamarnya, Ella melangkah perlahan dengan menyeret kopernya keluar dari kamar.
Namun pada saat dia berada di ambang pintu, Rangga mencekal lengannya," sayang, jangan pergi. Aku sudah katakan jangan pernah pergi lagi dari rumah ini. Aku nggak ingin hidup seorang diri seperti waktu itu."
"Untuk apa aku berada di sini? bukannya aku ini cuma sok ngatur dan bawel padamu? jika aku tidak ada di rumah ini, kamu kan bisa melakukan tindakan sesuka hatimu," ucap Ella ketus.
"Sayang, aku minta maaf. Aku hanya terbawa emosi saja, dan tak akan mengatakan hal buruk lagi kepadamu. Tolong urungkan niatmu untuk kembali meninggalkanku," bujuk Rangga.
Hingga pada akhirnya, Ella mengurungkan dirinya untuk pergi. Memang sebenarnya dia juga hanya berbohong saja, ingin tahu apa reaksi dari Rangga jika dia pura-pura pergi.
"Hem, berarti otaknya sudah mulai ok lagi. Semoga saja pengobatannya lekas selesai dan berbuah manis. Hingga Mas Rangga bener-bener pulih total," batin Ella.
Dia pun bersusah payah menata kembali semua pakaiannya yang ada di dalam koper ke almari kembali.
Rangga menerimanya, tetap dia protes," kenapa nggak di kupas buahnya?"
"Apa kamu sama sekali tidak ingat pada saat itu, dokter mengatakan jika makan buah apel lebih bagus dengan kulitnya?"
Rangga hanya tersipu malu, tanpa ada perkataan. Dia lekas menghabiskan satu buah apel tersebut, tanpa berkomentar lagi.
"Sekarang istirahatlah, atau ingin melihat kondisi kondisi kantor dari rekaman video CCTV, silahkan saja. Aku tidak akan mengganggumu. Aku akan bermain dengan, Baby Adnan saja."
Ella melangkah ke luar dari kamar dengan membawa lepek bekas wadah buah apel. Rangga pun duduk di atas ranjang. Dia sejenak mengecek kinerja para karyawan yang ada di kantornya, lewat rekaman video CCTV yang ada di dalam ponselnya.
"Hem, untuk saat ini semua aman terkendali. Aku akan ikut bermain dengan Adnan saja dech.'
__ADS_1
Rangga melangkah keluar dari kamar menuju ke teras halaman dan ia pun menggendong baby Adnan. Sementara Bu Asih dan suaminya menyingkir karena tak ingin mengganggu kebersamaan Ella dan Rangga.
"Ayah, semoga anak kita rumah tangga langgeng selalu ya. Jangan ada masalah yang pelik lagi. Cukup kejadian waktu itu saja."
"Amin, iya Bu. Semoga saja doa kita di ijabah Allah SWT."
Mereka melangkah menuju ke rumah tengah untuk sejenak melihat acara televisi. Tetapi ada hal yang mengejutkan di acara televisi itu.
"Astaghfirullah aladzim, Ayah. Kita harus memberi tahu pada Ella dan Rangga. Karena ini suatu kabar yang tak sedap."
"Ayok, Bu. Kita segera berita tahu mereka. Supaya mereka berhati-hati dan selalu waspada."
Sepasang suami istri paruh baya ini lekas melangkah kembali ke teras halaman untuk memberi tahu kabar buruk.
Pada saat mereka telah sampai di teras halaman, tak lantas bisa berkata-kata. Hanya sesekali saling pandang saja satu sama lain.
"Ayah, kamu sana yang katakan!"
"Sebaiknya ibu saja, yang penuturan kata tepat."
Mereka malah saling lempar, membuat Ella dan Rangga merasa penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh, Ayah Bayu atau pun Bu Ari.
"Ayah-ibu, sebenarnya ada apa? kok wajah kalian sama-sama panik seperti itu? coba katakan ayah atau ibu. Supaya kami tahu, dan segera mencari jalan keluarnya"
Tetapi baik Bu Ari maupun Ayah Bayu tak juga berani berkata. Mereka terus saja diam dengan tubuh gemetaran.
"Sayang, kok orang tuamu seperti ini? jika mereka hanya diam saja, mana kita tahu apa yang sedang terjadi? apa yang telah membuat mereka itu ketakutan sepeti itu?"rajuk Rangga yang bingung melihat tingkah orang tua Ella.
__ADS_1