
Esok harinya, Ella berkemas untuk kembali ke rumah Tangga bersama Baby Adnan. Karena Bu Ari tetap tinggal di rumah Ayah Bayu.
"Ayah-ibu-Fredy, kami pamit ya. Ayah, ingat pesanku ya. Jangan pernah menyakiti ibu lagi, karena permintaan maaf dariku untuk ayah hanya berlaku satu kali saja. Tidak ada kata maaf lagi jika ayah melakukan kesalahan yang sama," pesan Ella.
"Iya, Ella. Ayah akan selalu mengingat pesan darimu ini,' ucap Ayah Bayu.
Setelah berpamitan kepada orang tua dan saudaranya, Ella melangkah ke mobil Rangga dengan menggendong baby Adnan.
Hati Rangga sangatlah bahagia, karena kini istri dan anaknya akan tinggal bersamanya. Dia tidak akan merasa kesepian lagi.
"Sayang, aku sangat bahagia sekali kini rumahku tidak akan sepi tetapi akan terasa hangat dan ramai apalagi jika nanti baby Adnan telah tumbuh dewasa," ucap Rangga seraya mengecup kening Ella.
Ella hanya menyunggingkam senyuman mendengar perkataan dari Rangga. Ia sama sekali tidak meresponnya.
Tak berapa lama, sampailah mobil tersebut ke pelataran rumah milik Rangga. Dengan penuh kehati-hatian, Ella keluar dari mobil tersebut bersama dengan Baby Adnan.
"Sayang, apa rencanamu ke depannya? ingin bekerja kembali atau di rumah saja mengurus baby Adnan atau akan menyewa baby sitter?" tanya Rangga penasaran.
"Sepertinya aku di rumah saja, Mas. Mengurus Baby Adnan sendiri . Aku tidak ingin menggunakan jasa baby sitter," jawab Ella.
" Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu? aku tidak akan memaksakan jika memang kamu ingin bekerja ya nggak apa-apa," tanya Rangga untuk memastikan.
"Kamu itu kebiasaan ya, Mas. Selalu bertanya berulang-ulang apa jawaban dariku cukup sekali kurang mantap atau kamu kurang paham ya," ucap Ella agak kesal.
"Maafkan aku ya sayang, aku nggak akan bertanya lagi deh."
Ella hanya melirik sinis ke arahnya, di dalam hatimu penuh kesalahan. Karena setiap kali ia bercengkrama dengan suaminya, selalu saja harus mengulang perkataan yang ia katakan," kenapa sih Mas Rangga selalu saja mengulang pertanyaan yang sama. Apa nggak memperhatikan setiap aku berkata atau memang kurang dengar atau kurang tanggap ya?"
********
__ADS_1
Tak terasa sudah satu bulan Ella tinggal bersama di rumah Rangga. Sejauh ini tidak ada suatu masalah sama sekali. Baby Adnan juga sudah terlihat bertambah chuby di umurnya yang baru satu bulan.
"Pagi sayang, semalam tidur nyenyak bukan?" kecupan selamat pagi mendarat di kening Ella.
"Pagi juga, mas. Oh ya, aku sudah memasak makanan kesukaanmu. Sebelum ke kantor sarapan dulu ya," ucap Ella seraya merapikan tempat tidur.
Walaupun di rumah sudah ada asisten rumah tangga bahkan tak cuma satu, tetapi Ella tetap merapikan kamar sendiri dan memasak untuk suaminya.
"Sayang, kamu fokus saja dengan Baby Adnan. Nggak usah menambah pekerjaan dengan merapikan kamar dan memasak. Biar semua itu menjadi urusan asisten rumah tangga kita."
Rangga merasa tak tega jika melihat Ella bertambah kesibukan. Walaupun itu kemauan Ella sendiri.
"Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu. Mulai besok aku tak akan melakukan itu semua. Tetapi apakah kamu cocok dengan masakan para asisten rumah tanggamu?"
"Terakhir kamu mengatakan jika pada saat berpisah denganku jarang makan masakan di rumah. Aku khawatir akan seperti itu lagi."
Mendengar penuturan dari Ella, Rangga terkekeh," itu karena kita sedang bertengkar dan kamu tidak ada di rumahku. Kamu bisa mengarahkan pada bibi untuk membuat masakan yang lezat seperti yang kamu masak, tanpa kamu harus masak sendiri."
Saat itu juga Rangga sarapan bersama Ella, Sedangkan Baby Adnan masih nyenyak dalam tidurnya.
*******
Sementara di rumah Rama, ia masih saja murung dan tak juga ceria. Walaupun ia mengatakan telah bisa merelakan jika Ella tak bisa ia miliki.
"Rama, kamu nggak sarapan dulu?" tegur Bu Berta pada saat melihat anaknya telah rapi memakai pakaian untuk ke kantor.
Bahkan sang perawat pribadi terus saja menatap ke arah Rama tanpa berkedip. Hal ini membuat Rama risih, karena dia tak suka cara menatap Eka," Heh, kenapa kamu menatapku seperti itu? suka ya sama aku?"
Sontak saja Eka gelagapan di buatnya, ia pun lekas memalingkan wajahnya ke rah lain. Hal ini membuat Bu Berta terkekeh," Rama, kenapa sekarang malah kamu yang galak?"
__ADS_1
"Hati-hati loh, nanti benci jadi cinta," goda Bu Berta.
"Mamah ngomong apa sih?" rajuknya kesal.
"Apa kamu sudah lupa dengan kisah mamah? dulu mamah benci sekali pada Ella, tetapi sekarang malah sayang sekali. Hal serupa juga bisa terjadi padamu. Apa lagi kalian berdua sama-sama masih lajang," ucap Bu Berta.
"Ist jangan samakan mamah denganku ya. Sudahlah, aku akan berangkat ke kantor karena ada pertemuan dengan klien baru." Rama mencium punggung tangan Bu Berta.
"Sarapan dulu, biar nggak sakit perut."
Tetapi Rama sama sekali tak menghindahkan nasehat dari Bu Berta, ia tetap saja pergi ke kantor.
Sementara di dalam hati, Eka berkata," aku memang mengagumi Den Rama. Tey kok dia sinis dan dingin begitu padaku ya? dari awal aku datang kemari, dia sudah tidak bersahabat sama sekali."
"Eka, kamu jangan ambil hati atas sikap Rama ya? sebenarnya dia itu lelaki baik. Maafkan Rama ya, Eka."
Bu Berta kadang kala merasa tak enak hati pada Eka karena bukan sekali dua kali Rama bersikap ketus kepada Eka.
Tetapi Eka sama sekali tak menyimpan rasa kesal, justru ia semakin hari semakin merasa terpesona dengan Rama. Hanya saja ia tidak berani mengungkapkan perasaan itu walaupun ia dekat dengan Bu Berta," saya nggak apa-apa kok, nyonya. Jadi tak perlu Nyonya meminta maaf pada saya.
Sementara sepanjang perjalanan menuju ke kantor, Rama terus saja menggerutu mengingat perkataan yang barusan dikatakan oleh Bu Berta kepadanya.
"Mamah seenaknya saja mengatakan jika aku bisa saja suatu-waktu jatuh cinta pada Eka, padahal aku sama sekali tidak punya rasa apapun. Berbeda dengan pada saat bersama dengan Ella."
"Aku juga heran, sering sekali aku memergoki Eka terus saja menatapku. Dia pikir aku suka dengan tatapan matanya itu, padahal aku sangat sebal sekali!"
Terus saja Rama menggerutu merasa kesal, entah kenapa dia sampai sekarang juga belum bisa move on dari Ella. Masih saja kerap kali memikirkan Ella dan membayangkan wajah Ella.
Sesampainya di kantor, ia kembali dibuat kesal dengan kedatangan tamu yang sudah tidak asing lagi, yakni orang tua dari Mery.
__ADS_1
"Untuk apa mereka berdua datang sepagi ini ke kantor?" batin Rama heran.
Walaupun sebenarnya Rama sangat sungkan untuk menemui orang tua Mery, tetapi ia berbasa-basi dengan mempersilahkan keduanya duduk.